Chaim Fetter, Socialpreneur Padukan Jualo.com dan YPA

Hobi membawa rezeki. Berawal dari hobi membuat website di Belanda sejak umur 13 tahun, siapa sangka jika Chaim Fetter kini dikenal sebagai Founder Jualo.com, yakni situs jual beli barang bekas yang kini sedang menjadi buah bibir di Indonesia. Dia pun dikenal sebagai socialpreneur. Sebab, kehidupannya sebagai pelaku usaha berjalan seiring dengan kegiatan sosial yang aktif dilakukan. Keuntungan bisnis sebagian didermakan untuk kegiatan sosial dengan mendirikan Yayasan Peduli Anak (YPA) di Lombok.

Jualo.com banyak diperbincangkan lantaran pendatang baru di bisnis e-commerce mulai tahun 2014, tapi sudah berhasil membuat investor jatuh hati. Lihat saja tanggal 26 Januari 2016, Jualo.com mengumumkan telah mendapatkan suntikan dana Seri A beberapa juta dollar AS dari NSI Ventures, sebuah perusahaan venture capital (VC) regional yang memiliki ikatan kuat dengan Indonesia.

Tahun lalu, Jualo pun mendapatkan seed funding dari Mountain Kejora dan Alpha JWC Ventures, yang merupakan dua perusahaan VC berpengalaman di Indonesia. Alpha JWC Ventures juga berpartisipasi dalam putaran Seri A ini.

(ki-ka) Shane Chesson, Mitra NSI Ventures dan Chaim Fetter, Founder Jualo.com (ki-ka) Shane Chesson, Mitra NSI Ventures dan Chaim Fetter, Founder Jualo.com (foto: Prio/SWA)

“Suntikan dana para investor itu, kami gunakan untuk memperluas bisnis, merekrut staf, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mendorong Jualo ke posisi utama di bidangnya,” ujar Sarjana Psikologi dari Open Universitas Netherland, Belanda itu.

Bagi Chaim, keberhasilan yang dicapainya ini tidak semudah menggelengkan kepala. Dia harus berjuang keras untuk merintis usahanya dari nol hingga maju seperti sekarang. Beberapa tahun dilalui dengan tahapan perjalanan hidup yang penuh liku. Apalagi dia bukan berasal dari keluarga kaya raya. “Keluarga kami sederhana, ayah dan ibu banyak bergelut di bidang sosial,” tutur pria 34 tahun itu mengenang masa lalunya.

Chaim menggeluti usaha web sejak umur 13 tahun hingga 23 tahun, sehingga cukup banyak modal yang dikumpulkan. Dia memiliki sejarah panjang dalam bidang wirausaha dan inovasi. Berasal dari sebuah keluarga berpenghasilan rendah di Belanda, ibu Chaim menyarankannya untuk bisa cari uang sendiri setelah jam sekolah. Di usia 6 tahun, Chaim mulai membeli barang-barang bekas di pasar lokal dan menjualnya kembali untuk mendapat keuntungan.

Jiwa wirausaha yang sudah terpupuk sejak kecil ini terus berkembang sampai akhirnya di usia 13 tahun Chaim sudah bisa membuat website sendiri. Ketika berusia 17 tahun, Chaim sudah menjalankan perusahaan e-commerce pertama yang ia miliki sepenuhnya.

Lalu, ketika umur 24 tahun dia mengunjungi Indonesia, tepatnya di Lombok. Mengapa tertarik datang ke Indonesia? “Karena oma opa saya punya sejarah dekat dengan Indonesia,” dia menjelaskan.

Selama liburannya, Chaim merasa tertekan melihat kondisi hidup sebagian anak-anak di Indonesia. Ia melihat mereka mengemis, tapi menerima sedikit bantuan - ini menginspirasinya untuk menolong dan menyelamatkan masa depan mereka. Bersama teman masa kecilnya, Chaim mendirikan Yayasan Peduli Anak (YPA) di Lombok pada tahun 2006.

Peduli Anak adalah organisasi non-profit yang membantu anak-anak Indonesia yang membutuhkan dengan memberikan perawatan keluarga, pendidikan dan bantuan kesehatan. “Tahun 2006, saya mendirikan Yayasan Peduli Anak. Uang pribadi saya gunakan untuk membeli tanah 1,5 hektar di Lombok berikut mendirikan bangunannya,” kata Chaim.

Betul, alasannya datang ke Lombok karena wilayah itu selain memiliki wisata alam yang menarik, juga banyak anak yang hidupnya kekurangan. Nah, jiwa sosialnya terpanggil untuk mengulurkan tangan bagi anak-anak Lombok yang nasibnya kurang beruntung itu.

Selama 7 tahun mengelola yayasan dan bergaul dengan masyarakat Lombok yang mayoritas muslim, Chaim pun mendapat hidayah untuk menjadi muallaf dengan menyandang nama Islam sebagai Abdul Hayat. Dalam kurun waktu itu, hidupnya didedikasikan untuk kegiatan sosial dan mempelajari agama Islam. “Sebetulnya ada juga kegiatan jual beli barang secara online saat itu dengan menggunakan situs lain,” ujar eksekutif muda yang ramah ini.

Chaim Fetter memiliki nama muslim Abdul Hayat Chaim Fetter memiliki nama muslim Abdul Hayat (Foto: Prio/SWA)

Setelah itu, tahun 2013 Chaim hijrah ke Jakarta. Dia ingin mengadu peruntungan bisnis di Jakarta sekaligus mencarikan donatur untuk YPA. Dia pernah mengunjungi kantor pusat Kementerian Sosial RI untuk mendapatkan bantuan dana bagi YPA. Juga, mendapat bantuan dari pihak-pihak lain. Dia berusaha agar YPA punya donatur tetap yang bisa diandalkan, salah satu caranya harus punya bisnis sendiri.

Maka dari itu, tahun 2014 dia membesut Jualo.com. “Situs jual beli barang bekas Jualo.com ini terinspirasi dari pengalaman saya pribadi saat berada di Lombok sulit untuk melakukan jual beli barang bekas, karena belum ada trust antara penjual dan pembeli,” dia buka kartu.

Jualo.com didirikan pada 2014 oleh Chaim bersama teman-teman dekatnya di Jakarta dengan tim sebanyak 15 orang termasuk tim pengembangan teknologi yang kuat. Dengan fitur utama seperti Jualo Escrow, Geo Search dan Home Delivery, Jualo memosisikan diri sebagai hybrid dengan menggabungkan fungsi pasar marketplace dan pilihan produk yang luas dari platform iklan baris klasik. Ini menawarkan pengalaman bertransaksi yang lancar via mobile dan desktop.

Sejak launching Januari 2014, statistik Jualo.com telah naik dengan tajam tanpa pengeluaran yang signifikan untuk marketing, mencapai lebih dari 2.000.000 user aktif tiap bulan dan lebih dari 500.000 iklan aktif. Tim Jualo.com memiliki pemahaman mendalam tentang pasar Indonesia yang berkembang pesat dan menerapkan prinsip kewirausahaan yang hemat biaya dengan pendekatan operasi yang ramping.

“Bisnis itu harus menghasilkan pendapatan untuk bisa mengklaim eksistensinya,” kata Chaim. Jualo.com sudah menghasilkan pendapatan sejak hari pertama baik dari pengguna maupun iklan serta secara progresif menambah sumber-sumber pendapatan dari platform-nya.

Menggunakan platform pasar iklan baris memang cukup menantang. Tantangan utamanya adalah membangun kepercayaan pengguna dan kelancaran proses pembayaran. Jualo.com selalu terbuka dalam menerima feedback dari penggunanya agar dapat memberi solusi terbaik dan meluncurkan terobosan layanan baru.

Menurut Chaim, Jualo.com telah menjadi pasar terbesar kedua untuk barang bekas di Indonesia dan bertujuan untuk menggunakan suntikan modal ini untuk mendorongnya menjadi pemimpin pasar barang bekas di Indonesia dalam 18 bulan kedepan dan ekspansi ke pasar regional.

Jefrey Joe dari Alpha JWC Ventures, berpendapat, “Pendekatan Jualo.com yang berfokus pada produk dan pemahaman yang mendalam tentang pasar lokal akan menjadi faktor kunci keberhasilan mereka dalam bidang ini. Kami senang melihat pertumbuhan organik yang kuat dan yakin bahwa investasi Seri A ini akan memuluskan langkah Jualo.com ke tingkat berikutnya.”

"Dengan pendukung kuat seperti NSI Ventures, Jualo.com bisa menjadi marketplace pilihan di seluruh Indonesia dan negara berkembang di Asia,” tambah Chaim. Pengguna baru pasar online yang terus bertambah setiap tahunnya mempunyai ekspektasi yang berbeda dari pendahulunya. Jualo menawarkan layanan untuk generasi konsumen baru ini dan secara fundamental meningkatkan likuiditas barang bekas.

Hal senada diungkapkan oleh Shane Chesson, Mitra NSI Ventures. “NSI Ventures sangat senang untuk memimpin putaran investasi ini di Jualo.com dan membantu mereka untuk mempercepat pengembangan dan pertumbuhan produk mereka. Kami terkesan dengan kemajuan yang dibuat Chaim dan timnya dan fokus yang tajam pada inovasi dan penciptaan nilai bagi pembeli dan penjual di pasar yang berkembang pesat,” ungkap Shane Chesson.

Sekadar informasi, NSI Ventures berinvestasi di perusahaan teknologi tahap awal yang berbasis di Asia Tenggara. Mereka berinvestasi di tingkat Seri A atau Seri B. Perusahaan yang masuk portfolio NSI antara lain Gojek, Zimplistic, Chope, Tradegecko, CXA, Oway dan Redmart.

NSI baru saja menutup tahun 2015 dengan dana perdana US$ 90 juta dengan berbagai investor dari institusi global dan regional. Berkantor pusat di Singapura, NSI adalah bagian dari Northstar Group, sebuah perusahaan ekuitas swasta regional dengan lima sumber dana dan lebih dari US$ 2 miliar aset dalam manajemennya.

Bisnis Jualo.com maju, kegiatan YPA pun terbilang lancar. “Saat ini Peduli Anak memiliki 60 staf lokal dan sekitar 400 anak asuh. Mereka dirawat dan disekolahkan, serta jika memungkinkan disatukan kembali dengan keluarga mereka. Dengan demikian, mereka dibimbing untuk berprestasi dan hidup lebih bahagia. "Tujuan kami adalah untuk mengubah hidup dan membantu anak-anak yang kurang beruntung dalam mencapai masa depan yang cerah,” jelas Chaim yang baru setahun menikah dengan wanita Indonesia itu.

Sebagian keuntungan Jualo.com disumbangkan untuk YPA, sehingga kesuksesan Jualo.com memberi kontribusi langsung untuk menjamin masa depan mereka yang kurang beruntung daripada kita. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)