Rahasia Budi Lee Sukses Berbisnis Munchies

Ingin cemal-cemil sambil kongko di resto bergaya barat? Munchies bisa jadi alternatif nomor wahid. Variasi menunya dirancang dengan konsep unik sesuai dengan arti kata 'munchies' sendiri yaitu cemilan atau hasrat untuk 'mengudap'. Hasil olahannya pun bebas MSG.

Hal inilah yang menjadi kekuatan Munchies sesuai dengan buah idealisme sang pendiri sekaligus Head Chefnya, Budi Kurniawan atau lebih moncer disapa Budi Lee. Pria muda kelahiran 11 Maret 1987 ini memang bukan sembarang chef. Mengawali perjalanan karir profesionalnya di dunia kliner setelah mentas dari Sunrice Global Chef Academy, Singapura, pria asal Pekalongan ini pun berlanjut gawe di Sentosa Resorts (Singapura), Senso Ristorante (Singapura), Mozaic (Bali) dan kini Munchies.

Sementara itu, di dunia hiburan, Budi juga pernah hadir sebagai Chef Host di tv show “Chef Surprised” dan “Today Special”. Pehobi masak dan baca buku ini juga pernah ambil bagian di beberapa kompetisi masak dan memenangkan beberapa medali.

Prestasi lain yang tak kalah membanggakan adalah keterlibatannya sebagai The President of Young Chef Club Indonesia yang mewakili Indonesia di the World Congress of the World Association of Chefs’ Societies (WACS) di Daejeon, Korea Selatan. Lantas seperti apa kiprah murid William Wongso yang kini mengelola bisnis sendiri lewat MunchiesBistro di Gandaria City dan Munchies Dine and Bar di Kota Kasablanka ini? Berikut wawancara eksklusif Budi Lee dengan Gustyanita Pratiwi dari SWA Online :

970523_10151596058329214_2028046541_n

Bagaimana awal Anda membuka Munchies?

Munchies didirikan oleh 3 orang, saya, Jason Aditya Mulia dan Hamid Sugiharto. Saya dan Jason memang awalnya 1 kitchen. Kami berdua kerja bareng. Memang awalnya kami ingin punya resto. Tidak lama setelah keluar, dia ajak saya untuk buka resto di Jakarta. Saya sebenarnya tidak based di Jakarta (bukan orang Jakarta).

Saat ditawari, saya bilang untuk berbisnis itu tidak gampang. Banyak kendala. Nah, kendala-kendala itu yang harus kami selesaikan satu-persatu. Salah satunya dengan saya harus datang ke Jakarta. Jadi untuk tahu level saya ada di mana, saya bisa main di kelas apa dan customer need di Jakarta itu seperti apa, saya harus cobain satu-satu semua resto di Jakarta. Dari situlah, baru kami berkembang. Setelah okey kami mau main di kelas ini dengan konsep seperti ini, dan kebutuhan orang Jakarta yang seperti ini, baru kemudian kami cari tempat dan koneksi. Jason memang orang Jakarta, tapi dia tidak pernah punya bisnis kuliner di Jakarta.

Akhirnya kami turun semua ke lapangan. Mulai dari plan paper nol lagi. Pelan-pelan cari, manfaatin semua recources yang ada di teman-teman, sampai akhirnya satu-persatu mulai terkumpul. Mungkin awalnya baru supplier kecil yang datang, tapi lama-kelamaan supplier besar bermunculan. Dari situlah kami mulai mendapat posisi tawar bagus dan koneksi yang makin meluas.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)