Chef Yono, Memulai Bisnis Resto di AS dari Nol

Widjiono Purnomo sukses menekuni bisnis restoran di Amerika Serikat. Ia kini telah memiliki dua resto di Negeri Paman Sam dengan total omzet 3-4 juta per tahun, yakni Yono's Restaurant yang fokus di fine dining dan DPYONOS yang merupakan kependekan dari nama putranya Dominick Purnomo. Jalan hidup lulusan AKPAR NHI Bandung, September 1971 sangat berliku. Ia sempat gonta-ganti profesi hingga akhirnya memilih menjadi koki. "Sejak menjadi chef inilah kemudian muncul ide untuk memulai bisnis restoran di Ameria dengan menyewa 21 Restaurant pada 1983, saya memulai memasak dan bisnis memasak dari nol," katanya.

Usai lulus dari NHI, pria kelahiran Solo pada 1 Agustus 1951 ini langsung bekerja di kapal pesiar Holland America kira-kira tujuh tahun lamanya. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana dia bisa mendapatkan kesempatan untuk liburan di negeri orang, tentu saja sembari bekerja. Namun, semuanya berubah ketika dia bertemu dengan wanita idamannya pada tahun 1975, yang merupakan penumpang di kapal pesiar tempatnya bekerja. Wanita keturunan Amerika-Italia dan berwarganegaraan AS itu dinikahinya dua tahun berselang. Ia memutuskan menetap di Albany, New York, mengikuti sang istri. "Di AS inilah, saya mulai dengan pekerjaan baru saya, mulai dari bus boy di hotel, staf dining room dan dapur sekaligus bus boy. Beberapa tahun kemudian, karier saya berkembang menjadi server, bartender, dan sommelier," ujarnya.

chef Yono, pemilik restoran di Albani New York

Pada 1979, Widjiono bekerja sebagai dining room manager di Hotel Americana (sekarang Desmond) dengan tugas mengurus Scrimshaw Restaurant. Pada April 1981, dia diajak Jim Rua untuk bekerja sama menyediakan katering bagi artis di acara Boston Symphony Orchestra. "Di sinilah, saya memiliki kehormatan untuk memasak dan menyajikan makanan pada komposer Sejei Ozawa, konduktor John Williamns, Maria Cole (Janda Nat King Cole) dan putrinya Natalie. Saat itu, saya juga bekerja di 21 Restaurant di Albany. Pada 1983, saya menyewa 21 Restaurant, lalu saya ditantang oleh chef saya, bagaimana kalau saya yang memasak sendiri?" kata dia.

Sejak saat itu, ia belajar memasak secara otodidak dari buku-buku dan seminar. Ia juga bergabung dengan berbagai organisasi, seperti The American Culinary Federation (ACF), NYSRA, Chaine des Rotisseurs, ACCVB, dan sering ikut dalam konferensi yang bisa mengasah skill memasaknya. "Saya juga berhubungan dengan Chef William Wongso, Chef Fritz Sonnenschimdt yang merupakan Dekan dari Culinary Institute of America. Saya benar-benar belajar dari nol untuk urusan memasak. Tahu basic, tapi belum pernah memasak untuk umum," katanya.

Selama 10 tahun belajar, Widjiono akhirnya mendapatkan sertifikat executive chef dari semula hanya sertifikat food and beverage. Pada 1985 terjadi kebakaran di 21 Restaurant, kepemilikan gedung berganti. Widjiono memutuskan tidak memperpanjang sewa dan mencari lokasi baru, tepatnya ke Turnkey Operation di Jalan Hamilton 289. Dibantu seorang teman, lahirlah Yono’s Restaurant. Begitu buka, restoran ini langsung diminati dan bertahan sampai saat ini berusia 35 tahun. Ia lalu berekspansi dengan mendirikan DPYONOS. “Berbisnis restoran banyak sekali tantangannya, mulai dari pekerja dan ketentuan perundangan. Rajin, tawakal, dan sabar. Saya ambil peluang dan sedikit gambling. Di AS kalau tidak gambling tidak akan maju. Gambling tapi pakai otak," kata dia. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)