Cinta Vespa, Igi Kibarkan Epic Veil

Bisnis apapun dimulai dari cinta. Dengan cinta, seseorang tak akan pernah menyerah dalam meniti bisnisnya dari nol. Ini juga yang melandasi obsesi Ignatius Fajar Hardianto saat merintis bisnis apparel dan asesoris untuk para pengendara vespa. Cinta vespa yang dibelikan ayahnya sejak SMP, pria yang akrab disapa Igi ini juga menggilai ragam bentuk helm.

Lulusan D3 Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini sempat bekerja di kapal pesiar selama 2,5 tahun dan pindah dari satu restoran ke resoran lain hingga akhirnya memutuskan berwirausaha bareng kedua rekannya. Awalnya, mereka yang hobi mengenakan kaos ini merintis bisnis apparel hasil desain sendiri, mulai dari kaos, jaket, dan lainnya dan dijual via online.

“Epic Veil berdiri tahun 2013. Awalnya, toko online. Sekarang pun masih tapi hanya lewat media sosial. Pecinta vespa lebih membutuhkan toko fisik sekaligus tempat nongkrong dan kopi darat,” katanya.

Meski tak ikut komunitas vespa, Igi tetap setia dengan cinta lamanya, yaitu vespa. Ide untuk mengembangkan bisnis dengan menjual asesoris vespa, seperti helm berikut visor, tas punggung, serta apparelnya seperti kaos, jaket muncul saat dia melihat touring komunitas vespa.

Ternyata, Indonesia rumah untuk komunitas penggemar vespa kedua di dunia sejak motor buatan Italia ini hadir sejak tahun 1970. Ada sekitar 80 komunitas vespa, yang terbesar adalah Kutu Community dengan jumlah anggota sekitar 400 orang. Paling sedikit, komunitas vespa berjumlah 20-an orang.

Ini adalah pasar yang sangat potensial di mata Igi. Tak heran, ia menyediakan asesoris vespa hingga apparel dan kelengkapan fesyen lainnya saat berkendara. Helm dan visor yang disediakan juga beragam, ada yang buatan dalam negeri maupun impor dari Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Thailand.

“Kami besar karena komunitas. Itulah kenapa kami selalu menyambangi komunitas yang melakukan kopi darat setiap pekan. Dari sana kami bisa tahu kebutuhan mereka. Asesoris apa yang dicari. Bahkan, mereka lebih tahu dari kami. Hanya saja, mereka kesulitan membeli dari luar negeri,” ujarnya.

Ignatius Fajar Hardianto, pendiri Epic Veil Ignatius Fajar Hardianto, pendiri Epic Veil

Gap inilah yang coba ditutupi Igi. Ia sampai harus terbang sendiri ke Jepang, Amerika, hingga Singapura, dan Thailand untuk mencari barang-barang yang dibutuhkan para pecinta vespa di Tanah Air. Berkat kecintaannya pada vespa dan helm, Igi tak menyerah mendatang setiap sudut kota untuk mencari. Ia percaya selalu ada jalan untuk setiap kesulitan yang ditemui.

“Saat ini, kami masih fokus ke asesoris pengguna vespa yang klasik yang memangnya jumlahnya lebih banyak dari yang vespa modern. Kami membuka toko offline juga atas permintaan customer. Mereka ingin melihat dan menyentuh barang yang ingin dibeli,” katanya.

Epic Veil besutan Igi ini mengincar segmen kelas menengah ke atas. Urusan harga, menurut dia, para penggemar vespa klasik ini biasanya tutup mata. Dengan kata lain, harga berapapun akan dibeli kalau sudah terlanjur suka. Tak heran bisnisnya melambung pesat. Omsetnya sudah mencapai Rp 680 juta per bulan sepanjang tahun 2015 lalu.

Untuk memenuhi permintaan pelanggannya, toko fisik dipindahkan dari Cipete Dalam No 2, Jakarta Selatan ke dekat Scooter Care di Jalan Cereme No 1 A, Fatmawati, Jak-Sel. Di sini, para pecinta vespa bisa mencuci dan mempercantik bodi motornya. Tempat ini pas buat nongkrong bersama rekan sesama pecinta vespa. “Fasilitas lengkap. Ada cafe-nya juga. Jadi, pas buat kongkow bareng dan kopdar. Arealnya luas, parkir tidak akan jadi masalah,” katanya.

Ke depan, Epic Veil akan menjalin kerjasama dengan toko apparel asal Singapura yang menyediakan perlengkapan untuk para pengendara vespa modern. Ini dilakukan untuk memperluas pasar yang semula hanya menyasar para pecinta vespa klasik. Untuk meningkatkan loyalitas pelanggan, Igi juga membuka layanan konsultasi gratis untuk mereka yang mengalami masalah pada tunggangannya.

“Kami tahu banyak jaringan bengkel vespa yang bagus. Berikut montir yang berpengalaman. Mereka bisa konsultasi dengan saya kapan saja. Nanti kami carikan solusi. Kami tidak mengambil keuntungan. Ini rezekinya montir. Mereka bisa dipanggil ke rumah kapan saja,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)