Duet Pasutri Membesarkan London Beauty Centre

 

Memulai bisnis dari menjual krim kecantikan, pasangan suami-istri Anton Yuwono dan Watji Niwati melebarkan sayap ke bisnis perawatan kecantikan lewat London Beauty Centre (LBC). Siapa sangka, bisnis coba-coba ini malah berkembang pesat.

Didirikan 18 tahun silam, LBC kini telah memiliki 48 cabang di berbagai kota. Di kancah bisnis perawatan kecantikan, LBC merupakan salah satu klinik papan atas. “Padahal, kami memulai usaha dari rumah tinggal yang hanya berukuran sangat kecil,” kata Anton.

London Beauty Centre Anton Yuwono, Pendiri London Beauty Centre

Ia membuka usaha jasa perawatan kecantikan saat negeri ini didera krisis ekonomi, yakni pada 1998. Usaha ini mulanya mengambil tempat di rumah tinggal mereka di Jl. Poncowinatan 57 Yogyakarta. Ketika itu, ruangan yang digunakan sangat kecil, sehingga sering tidak bisa menampung klien yang datang. “Karena perkembangan sangat bagus, kami mulai membangun klinik di luar,” ujar Anton.

Ia mengaku mendapatkan inspirasi bisnis perawatan kecantikan, khususnya kulit dan wajah, dari Singapura. Kebetulan sang istri yang pedagang emas sering ke negara tersebut untuk perawatan kulit dan wajah sambil belanja. Di Negeri Singa itu, Anton melihat kenyataan banyak perempuan asal Indonesia yang jauh-jauh datang ke sana hanya untuk melakukan perawatan wajah. Melihat fenomena tersebut, naluri bisnis sang istri tiba-tiba muncul.

Mereka iseng memborong krim perawatan wajah dengan merek Mezo Therapy untuk dijual di Indonesia. Awalnya, mereka jual terbatas di kalangan teman sendiri. Ternyata, sambutan bagus. Produknya laris manis karena banyak yang merasa cocok. Omset penjualannya terus meningkat, apalagi setelah sang istri memperluas jangkauan pasar penjualan krim Mezo Theraphy-nya dengan melayani pembeli reseller.

Tak puas hanya mendapatkan hasil dari penjualan krim impor, insting bisnis pasutri ini makin hidup. Belajar dari laris manisnya krim tersebut, mereka berkesimpulan bahwa masih ada ceruk pasar yang terbuka lebar untuk mendirikan bisnis layanan perawatan kecantikan.

Pada 19 Juli 1998, justru ketika kondisi ekonomi Indonesia sedang kacau, pasutri ini membuka LBC di rumah tinggal mereka. Ruang tamu pun disulap menjadi tempat layanan. Keputusan bisnis ini ternyata memang tepat. Dalam waktu terbilang cepat, LBC mendapat respons positif dari pasar. Konsumennya terus berdatangan. Anton dan istrinya berbagi peran. Sang suami lebih banyak mengurusi manajemen dan pemasaran, sedangkan sang istri fokus pada layanan konsumen. Seiring dengan perkembangan bisnis, mereka tidak lagi menggantungkan diri pada krim impor, tetapi mulai fokus meramu krim sendiri di bawah kendali sang istri. Mereka mempekerjakan tenaga dokter dan apoteker. LBC akhirnya memiliki Divisi Industri Farmasi yang secara khusus memproduksi berbagai produk kosmetik untuk perawatan kulit dngan merek LBC.

Menurut Anton, perawatan kecantikan yang ditawarkan LBC merupakan layanan terintegrasi antara estetika dan layanan medis dengan bantuan berbagai peralatan berteknologi canggih. Berbagai keluhan yang berkaitan dengan masalah kecantikan dilayani: jerawat, komedo, flek, kulit kusam, dll. “Waktu itu memang sudah ada dokter kecantikan, tetapi mereka fokus pada penyakit kulit saja, sementara yang terintegrasi dengan facial (perawatan wajah) belum ada,” kata Anton.

Lewat komunikasi dari mulut ke mulut, keberadaan LBC cepat diketahui para perempuan yang mendambakan penampilan wajah yang prima. Ketika LBC lahir, medsos belum berkembang seperti sekarang. “Kami lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut saja,” kata bapak tiga anak tersebut.

Tahun 2005, LBC sudah memulai membuka cabang di beberapa kota di Jawa, yakni di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Kini LBC telah memiliki 48 cabang di seluruh Indonesia. Hampir semua berstatus milik sendiri. Mereka belum tertarik mengembangkan cabang dengan cara franchise. Menurut Anton, banyak sekali yang minta franchise, tetapi tidak disanggupi dengan alasan repot dan belum siap. “Tahun ini, kami akan buka di Makassar,” ungkap pria yang juga penggemar burung berkicau ini.

Salah satu kunci sukses LBC, menurut Anton, strategi untuk membuat konsumen loyal dengan memberikan layanan yang memuaskan. Selain itu, pihaknya juga mendidik SDM yang profesional. Dan yang tak kalah penting: menyiapkan krim yang cocok untuk perawatan berbagai problem yang terkait dengan perawatan kulit. “Jika pelanggan cocok dengan perawatan tersebut, mereka akan kembali datang, dan pasti akan bercerita kepada teman atau saudaranya,” ujar pria kelahiran 10 November 1950 ini.

Karena itulah, selain manajemen layanan yang profesional, LBC juga menerapkan standar yang ketat untuk setiap krim yang diproduksinya. Selain harus memenuhi standar CPKB (Cara Produksi Krim yang Baik ) dari Badan POM RI, LBC juga memiliki sertifikasi halal dari MUI.

Selain menyiapkan krim yang baik, LBC berusaha menjadi trendsetter dengan menyediakan berbagai layanan dan teknologi pendukung untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Jenis layanan yang ditawarkan antara lain peeling, skin facial, meso without needle, radio frekuensi, OXY skint, tread lift, laser IPL, akupresur dan hipnoslimming.

Dari sisi pemasaran, LBC melakukan program promosi melalui pembuatan kartu keanggotaan, penerbitan media internal, hingga penyelenggaraan ajang Pemilihan Putri LBC setiap tahun. Putri LBC yang terpilih akan menjadi endorser untuk mempromosikan klinik kecantikan ini. Tahun 2016, yang terpilih menjadi putri LBC adalah Alissa Zahra Nasution.

Menurut Anton, pada dasarnya LBC melayani pelanggan dari berbagai kalangan. Namun, dengan sendirinya pelanggan yang datang umumnya berasal dari kalangan menengah-atas. Mereka berasal dari berbagai kalangan usia, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga ibu-ibu paruh baya yang butuh penampilan prima.

Secara umum Anton mengatakan, sejak awal sudah punya insting bisnis kecantikan bisa tumbuh pesat lantaran jasa tersebut masih terbilang langka. Menurutnya, bisnis ini masih berada di zona blue ocean karena pasar terbuka lebar dengan persaingan yang belum ketat. “Saat itu yang terkenal hanya klinik Dokter Affandi yang berpusat di Semarang,” ujarnya.

Namun, bukan berarti tidak ada kendala yang dihadapi. Persoalan yang paling pelik berkaitan dengan SDM. Menurut Anton, saat ini ada 1.500 karyawan di bawah naungan LBC. Turnover SDM yang tinggi menjadi persoalan yang dihadapi. “Mereka keluar karena mendapat iming-iming di tempat lain dengan gaji yang lebih tinggi, “ ungkapnya.

Namun, kini Anton tidak harus bersusah-payah sendiri mengelola LBC. Pasalnya, lima tahun silam ia sudah menyerahkan penuh manajemen bisnis ini kepada anak pertamanya, Roni Aktantio, yang merupakan dokter lulusan Universitas Tarumanagara. Selain Roni, anak ketiganya, Lorensia, juga terlibat dalam manajemen LBC, yaitu mengurus LBC Surabaya.

Adapun anak keduanya, Robert Gunawan, memilih berbisnis properti dengan bendera PT Tunggal Putra Bahagia Sejahtera. “Proyek propertinya membangun kawasan perumahan di Yogya,” ungkap Anton.

Saat ini nama Anton memang sudah cukup dikenal sebagai salah satu pebisnis sukses di Yogya. Meski bisnis kencantikannya berkembang pesat, ia tidak meninggalkan bisnis yang telah lama dirintisnya, yakni berjualan emas. Obor, toko emas miliknya, adalah salah satu toko emas lama yang masih eksis hingga sekarang. (Reportase: Gigin W. Utomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)