Dulu Juru Masak Burger King, Kini Penguasa Bisnis Salon Anak-Anak

Cecilia Wirawan, Presiden Direktur Kiddy Cuts.

Ia bersama Rudy Hadisuwarno dan sahabatnya mendirikan salon anak-anak untuk segmen premium di tahun 2001. Salon Kiddy Cuts menguasai pangsa pasar salon anak-anak sebesar 95%. Mantan juru masak di Burger King ini adalah sosok yang tak mudah menyerah.

Cecillia Wirawan adalah  perempuan yang tidak manja. Walau hidup berkecukupan, dia mengasah mental pantang menyerah dan mencari peluang untuk mendapatkan penghasilan. Saat kuliah di Amerika Serikat, misalnya, Cecilia bekerja paruh waktu sebagai juru masak di Burger King, San Fransisco. “Saya senang mencari penghasilan sendiri, saya di tahun 1987 pernah bekerja part time di Burger King San Fransisco, honornya saya sekitar US$ 3,25 per jam,” kenang Cecilia. Dia, ketika itu, berkuliah di program sarjana bidang desain interior di Academy of Art, San Fransisco.

Cecilia menegaskan, dirinya bekerja paruh waktu karena bertekad untuk memenui kebutuhannya dari jerih payahnya. Sejatinya, perekonomian keluarganya cukup memadai untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya selama Cecilia menempuh pendidikan di AS itu. Namun, dia tak berpangku tangan kepada keluarganya. Cecilia ingin menempa jiwa pantang menyerah dan gesit untuk mencari peluang selama merantau di negeri seberang. “Saya juga pernah bekerja part time di perpustakaan kampus ketika berkuliah di Sacramento State University dan perusahaan arsitek dan desain interior,” tuturnya. Honor yang diterimanya di perusahaan arsitek dan desain interior itu mencapai US$ 10/jam.

Pengalaman ini membekas di benak Cecilia. Perjuangan hidup di perantauan merupakan bekal ketika dirinya kembali ke Indonesia di awal tahun 1990-an. “Saya senang mencari tantangan dan belajar menjadi karyawan. Pelajaran yang bisa petik dari pengalaman hidup dan bekerja di Amerika Serikat ini adalah mengasah mental tidak mudah putus asa,” ujarnya. Cecilia meraih gelar sarjana di Academy of Art, San Fransisco, dan Sacramento State University itu.

Kemudian, Cecilia di Jakarta bekerja di sejumlah perusahaan antara lain perusahaan konsultan properti. Namun, dia pada 2001 berhenti dari pekerjaanya lantaran mengubah haluan hidupnya sebagai pengusaha salon anak-anak. Cecilia bersama bersama Rudy Hadisuwarno dan tiga sahabatnya mendirikan Kiddy Cuts, salon anak-anak yang membidik pasar premium. Kiddy Cuts kini menguasai pangsa pasar salon anak-anak sebesar 95%.

Kisah manis Cecilia itu berawal dari kesulitan mencari salon khusus anak-anak. “Saat itu, anak saya yang berumur 6 tahun menangis ketika di potong rambutnya di salon,” ucapnya. Ia mencari salon atau tempat cukur rambut di pusat perbelanjaan yang bisa menangani buah hatinya. Namun, hasilnya nihil. Hal ini menginspirasi Cecilia untuk memberanikan diri membuka salon khusus anak-anak. Ibu dari dua anak ini terlebih dahulu berkonsultasi dengan pakar penata rambut papan atas, yaitu Rudy Hadisuwarno. Kebetulan, Cecilia adalah sahabat Rudy lantaran rumah mereka ini berdekatan. “Orang tua dan keluarga kami saling mengenal, saya tetangganya Rudy,” ungkap Cecilia.Lantas, Cecilia bersama Rudy dan sahabatnya itu menyusun rencana bisnis dan mendirikan PT Kiddycuts Pratama Indonesia sebagai entitas bisnis yang mengelola dan memiliki Kiddy Cuts.

Perusahaan ini membuka Kiddy Cuts yang pertama di Plaza Senayan di tahun 2001. Tak disangka-sangka, antusiasme konsumen melampaui ekspektasi. Sebab, antrian konsumen mengular di depan outlet Kiddy Cuts, Plaza Senayan. Kiddy Cuts dalam waktu singkat selalu dibanjiri konsumen yang membawa anak-anak untuk memotong rambut. Hal ini memancing investor atau calon mitra untuk membawa lisensi Kiddy Cuts. Pengajuan proposal pun berdatangan di meja kerja Cecilia. “Proposalnya ada yang datang dari China,” tukas wanita yang menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur di Kiddy Cuts Pratama Indonesia.

Gandeng Investor

Lantas, Kiddy Cuts pada 2002 diwaralabakan oleh manajemen Kiddy Cuts Pratama Indonesia. Cecilia menyebutkan saat ini jumlah cabang Kiddy Cuts sebanyak 32 yang tersebar di beberapa kota besar, antara lain Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, Cikarang, Bogor, Bandung, Surabaya, Bali, dan Medan. “Tahun ini kami menargetkan penambahan tiga cabang Kiddy Cuts. Saat ini, kami sedang dalam tahap finalisasi dengan mitra yang hendak memegang lisensi dan waralaba Kiddy Cuts di Medan, Makassar, dan Karawang,” beber Cecilia.Tiap tahun, prinsipil Kiddy Cuts membidik penambahan tiga cabang Kiddy Cuts.

Untuk itu, manajemen rajin mengikuti pameran waralaba atau bisnis dan aktif mempromosikan Kiddy Cuts di media sosial. Tujuannya untuk menjaring konsumen dan investor yang berminat menjadi franchisee (penerima waralaba) Kiddy Cuts. Manajemen Kiddy Cuts mensyaratkan beberapa poin kepada investor yang ingin menjadi mitra, antara lain Kiddy Cuts berlokasi di pusat perbelanjaan kelas B ke atas, luas outlet minimal 30 m2, dan menggelontorkan dana sebesar Rp 300-Rp 600 juta untuk mendapatkan hak atau lisensi waralaba Kiddy Cuts. “Durasi franchisee Kiddy Cuts selama lima tahun dan kemudian bisa diperpanjang untuk lima tahun berikutnya,” tukas wanita yang sudah berumur 50-an tahun ini.

Prinsipil Kiddy Cuts memberikan pendampingan kepada mitranya untuk mengembangkan bisnis, Cecilia mengemukakan pihaknya rutin memberikan pelatihan kepada tenaga pemotong rambut dan menghadirkan psikolog anak-anak untuk melatih ketrampilan non teknis pegawai Kiddy Cuts. Contohnya, lanjut Cecilia, menghadirkan Kak Seto untuk melatih dan mengedukasi pegawai mengenai psikologi serta perilaku anak-anak. “Kami ingin memanjakan anak-anak dan memberikan layanan bernilai tambah yang diberikan oleh pegawai,” imbuh Cecilia. Trik ini merupakan salah satu upaya manajemen untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Adapun, jumlah pengunjung Kiddy Cuts bervariasi setiap bulannya. Sebut saja, Kiddy Cuts cabang Senayan City, pusat perbelanjaan premium di Jakarta, yang dikunjungi 1.500 pelanggan tiap bulannya. Jika ditotal, pertumbuhan bisnis Kiddy Cuts lebih dari dua digit setiap tahunnya.

Cecilia mengklaim Kiddy Cuts tidak memiliki kompetitor di Indonesia. “Salon yang model bisnisnya seperti kami ini tidak ada di Indonesia. Jadi boleh dikatakan kami pemain tunggal di pasar salon premium khusus anak-anak,” tandasnya.Kendati demikian, Cecilia tidak jumawa. Justru ia mendorong budaya inovasi dan kreatif untuk memperluas sayap bisnis Kiddy Cuts. Di tahun 2010, contohnya, Kiddy Cuts untuk pertamakalinya menjual shampo atau minyak rambut anak-anak. Varian produk ini kian bertambah. Ke depannya, dia ingin membuka salon Kiddy Cuts untuk segmen C ke bawah.  Perjalanan Cecilia membesarkan Kiddy Cuts diapresiasi berbagai pihak. Kiddy Cuts diganjar sejumlah penghargaan, antara lain penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), ASEAN Outstanding Business Award 2011, Most Recognized Brand Award 2010, Top Brand Award 2017, dan Indonesia Digital Popular Brand Award 2017. “Kami ingin terus berinovasi dan berekspansi dengan cara yang moderat walau kami sudah menguasai pangsa pasar,” dia menutup penjelasannya. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)