Falcon Pictures, Buah Kerja Keras HB Naveen

Masih ingat film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang sempat menghiasi layar lebar tahun lalu? Film bergenre komedi ini sempat menjadi buah bibir karena ditonton hingga 6,8 juta orang. Dengan raihan tersebut, film Jangkrik Boss! Part 1 dinobatkan sebagai pemecah rekor penonton terbanyak di industri perfilman nasional. Ada lagi film My Stupid Boss dan Comic 8: Casino Kings Part 2 , yang juga menyedot perhatian penonton kendati jumlah penontonnya di bawah Warkop DKI. My Stupid Boss meraih 3 juta penonton dan Comic 8 meraih 1,83 juta penonton.

HB Naveen HB Navee, pendiri Falcon Pictures

Semua film di atas karya rumah produksi Falcon Pictures yang telah melahirkan lebih dari 20 judul film. Didirikan oleh HB Naveen bersama Frederica pada 2010, keberhasilan Falcon bukan hadiah yang jatuh dari langit. Dikatakan Naveen, sekarang Falcon memang semakin diperhitungkan di kancah perfilman di negeri ini, tetapi awalnya juga sempat babak belur. Sepuluh film yang diproduksi pada saat awal Falcon berdiri bisa dibilang gagal. Kerugian yang diderita mencapai sekitar Rp 30 miliar.

Memaknai kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda, Naveen, CEO Falcon Pictures, pun mengambil hikmah dari kegagalan 10 film pertamanya. Ia belajar tentang bagaimana memahami pasar yang dinamis. Dikatakannya, perjalanan Falcon seperti bayi yang sedang belajar berjalan: perlu merangkak dulu, baru kemudian dapat berjalan sendiri.

Sejatinya, Falcon lahir karena ketidaksengajaan. Kala itu, Falcon memulai kiprahnya di industri film dengan memproduksi Dawai 2 Asmara yang dibintangi Raja Dangdut Rhoma Irama. “Kami satu label dengan Rhoma Irama. Ketika investor filmnya mundur, beliau minta tolong kami untuk masuk. Nah, itulah awal bagaimana akhirnya Falcon masuk ke industri film, ” ungkap pria kelahiran Jakarta, 16 Desember 1971 ini.

Meski tidak sengaja, sejak awal Naveen berkomitmen bahwa setiap masuk ke suatu industri harus serius dan tidak boleh setengah-setengah. Hal itulah yang membuat perusahaan ini memutuskan serius berkembang di dunia perfilman hingga saat ini.

Selain itu, prinsip Naveen, harus bermodal tekad yang kuat. Sebelum mendirikan Falcon, ia sebenarnya sudah menduduki posisi sangat strategis, yaitu sebagai Direktur Bhakti Media yang saat ini sudah berganti nama menjadi MNC Corp. Naveen pun dinilai punya potensi sangat bagus. Pasalnya, di tempat itu ia berhasil membesarkan beberapa program yang diminati, seperti Fear Factors dan Who Wants to be A Millionaire. “Karena alasan itu pulalah, saya mengundurkan diri dan memberanikan diri untuk terjun sendiri,” katanya.

Modal yang dikeluarkan Naveen untuk mendirikan dan mengembangkan Falcon pun tidaklah sedikit. Seluruh uang tabungan dan pesangon dari Bhakti Media ia alirkan untuk modal mendirikan Falcon. “Mobil pun saya tukar dengan yang lebih murah agar mendapat tambahan modal. Saya benar-benar mulai dari nol,” ujarnya.

Kini, Naveen semakin jeli dalam memilih film yang bakal laris di pasaran. Kiatnya? Harus pandai menilai dalam menentukan target dan premis yang ingin disasar. Di samping itu, pihaknya juga harus terus mencoba. “Akhirnya, kami mengerti bahwa pangsanya di sini, kerannya di sini, mengerti penontonnya. Mulai di film Potong Bebek Angsa di 2012, kami mulai mengerti premis yang diinginkan apa. Itu lambat laun berjalan dengan sendiriya,” ungkapnya.

Nilai investasi dari setiap film, menurutnya, berbeda-beda. Hal itu tergantung pada seperti apa film yang dibuat, material produksi yang digunakan, serta bintang film yang direkrut. Namun, rentang investasinya Rp 10 miliar-25 miliar.

Sekarang pihaknya tengah mempersiapkan dua judul yang akan ditayangkan pada dua hari besar, yaitu Lebaran dan tahun baru. “Kami ingin membuat film yang bisa menyentuh hati semua orang, bukan sekadar ketawa-tawa. Kami ingin bisa memberikan kontribusi yang baik, memberikan kenangan kepada masyarakat, dan kami ingin bisa menapakkan kaki di industri dengan baik,” kata Naveen mengungkap obsesinya.

Hikmat Darmawan, Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, menilai kehadiran Naveen bersama Falcon menambah dominasi keturunan India yang sebagian besar mengisi posisi sebagai pemilik rumah produksi film besar di Indonesia. Namun, ia melihat kehadiran Naveen tidaklah mengancam industri perfilman ataupun sineas lokal. Keberadaan Naveen bersama Falcon justru membangkitkan gairah pencinta film Indonesia.

Yang perlu dilakukan saat ini adalah sinergi bersama antara rumah produksi besar yang umumnya dimiliki keturunan India seperti Falcon dengan sineas lokal yang juga ingin membangun perfilman Indonesia, bukan saling mendominasi. “Keberagaman (film) harusnya jadi agenda bersama. Saya rasa saatnya meruntuhkan perbedaan dan menjadi sinergi bersama. Ada pasar kecil, ada daerah yang harus disentuh, ada suara-suara lokal yang harus diangkat dan itu juga adalah pasar,” ungkap Hikmat memberi masukan. (Reportase: Akbar Kemas/Riset: Irvan Sebastian Iskandar)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)