Gaya Jason Lamuda Melejitkan Berrybenka

Industri e-commerce di Indonesia memang sedang booming akhir-akhir ini. Meski begitu, iklim persaingannya sangat sengit. Di satu sisi banyak pendatang baru yang bermunculan, di sisi lain tidak sedikit start up teknologi ini yang berguguran. Mereka datang dari dalam dan luar negeri. Di kategori e-commerce fashion misalnya, kita kenal Zalora, Pink-Emma, Berrybenka, Periplus dan sebagainya. Namun, hingga detik ini hanya segelintir saja yang eksis. Dan Berrybenka termasuk satu-satunya e-commerce asli Indonesia yang tetap bertahan hingga sekarang.

Apa rahasianya Berrybenka masih survive hingga sekarang?

Menurut Danu Wicaksana, Managing Director PT Berrybenka, hal ini tidak lepas dari strategi manajemen yang dilancarkan. Pertama, Berrybenka fokus menggarap segmen pasar kelas menengah yang kini sedang tumbuh. Dengan demikian produknya tetap stylish dengan harga terjangkau. Rentang harga produk pakaian dibanderol mulai dari Rp125 ribu hingga Rp 800 ribu per potong.

BerrybenkaAli (ki-ka) Danu Wicaksana, Managing Director Berrybenka dan Jason Lamuda, CEO Berrybenka

Kedua, meningkatkan customer service. Untuk pengembalian barang, diberikan free ongkos kirim yang sementara waktu hanya berlaku di Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, retur produk gratis hingga 30 hari setelah barang diterima dan barang akan diganti 100%. Tak ketinggalan layanan cash on delivery (COD) di lebih dari 2.400 kecamatan seluruh Indonesia. Lalu, untuk keluahan bisa diadukan melalui email, chatting atau call center.

Ketiga, menerapkan strategi marketing word of mouth melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Yang menarik, mulai 2016, Berrybenka menjalankan strategi dari online ke offline atau O2O. “Strategi O2O digarap melalui beberapa lini yaitu aktivasi offline seperti Pop Up Store dan offline bazaar; menerapkan metode pembayaran via Indomaret; meluaskan kerja sama lintas industri di berbagai wilayah di Indonesia serta memaksimalkan potensi mobile commerce,” jelas Danu lagi.

Untuk varian produk Berrybenka, kastemer tidak perlu khawatir ketersediaannya. Sebab, Berrybenka sudah berhasil menggaet 1.000 merchant fashion untuk bekerja sama. Para merchnat terdiri dari para UKM, distributor maupun mendatangkan langsung dari produsen-produsen produk impor.

Bahkan, untuk merespons kebutuhan wanita berhijab, BerryBenka melebarkan sayap dengan mendirikan e-commerce baru: Hijabenka.com sejak tahun 2014. Segala kebutuhan jilbab, scraf, pasmina, busana muslim, mukena, aksesoris, dan kebutuhan fashion wanita berhijab tersedia di sana.

“Kami juga menyediakan private label Berrybenka selain merek-merek impor terkenal dan buatan Indonesia,” ucap Danu. Kontribusi penjualan private label mencapai 30% dari total ketersediaan produk Berrybenka yang mencapai 70%. Untuk menghasilkan produk-produk tersebut, Berrybenka memiliki 6-8 desainer sendiri untuk merancang koleksi busana Berrybenka yang eksklusif dan trendy.

Selain itu, tingginya permintaan produk-prodk fashion untuk pria muda, juga mendorong Berrybenka meluaskan segmen pasar yang digarap. Sejak beberapa waktu lalu, Berrybenka juga menjual aneka barang kebutuhan fashion pria, mulai dari jaket, kemeja, celana, sepatu, dan lainnya.

Jurus manajemen Berrybenka itu terbilang ampuh. Buktiknya, kinerja bisnis terus meningkat. “Tahun 2016 ini kami targetkan pertumbuhan penjualan Berrybenka 2-3 kali lipat dari tahun 2015,” tambah Danu.

Kinclongnya performa Berrybenka memang bak gadis cantik yang menjadi rebutan banyak pria. Buktinya, pesona Berrybenka mampu mendatangkan sejumlah investor untuk menanamkan modal pengembangan usaha. Ada East Ventura, Transcosmos Jepang dan Grey Ventura. Namun, sayang berapa dana yang mereka suntikkan, manajemen Berrybenka enggan buka kartunya. “Yang jelas cukuplah untuk pengembangan bisnis Berrybenka ke depan,” kilah Danu.

Kibarkan Berrybenka dari rumah

Di balik kesuksesan Berrybenka itu, ada sosok Jason Lamuda yang membesarkan. Jason mengawali bisnis Berrybenka dari garasi rumah tahun 2012. “Waktu itu kami masih sewa ruangan di rumah orang di kawasan Green Garden, Jakarta Barat. Kami cuma bertiga memulai usaha rumahan itu dengan modal Rp100 juta – 200 juta,” kenang Jason Lamuda, Founder dan CEO PT Berrybenka.

Bagi Jason, dunia bisnis bukanlah hal yang baru. “Kebetulan keluarga kami juga berlatar belakang wirausaha,” ucap lulusan Purdue University dan Columbia University, Amerika Serikat ini. Namun, diakui Jason, pada awalnya kegiatannya di dunia startpup itu sempat dilarang orangtua. Namun, pria kelahiran Jakarta, 30 September 1986 ini mampu meyakinkan orangtuanya.

“Saya lihat potensi bisnis e-commerce ke depan sangat besar. Kalau dulu e-commerce di Indonesia sempat booming, tapi terus berguguran karena infrastruktur belum siap. Tapi, kalau sekarang kondisinya lain. Infrastruktur e-commerce di negara kita sudah membaik. Lihat saja dari sisi pengguna smartphone meningkatkat tajam. Faktor inilah yang mendorong orang untuk melakukan belanja online. Apalagi sekarang biaya Internet lebih murah ketimbang dulu,” ungkap Jason.

Dalam perkembangannya, setelah bisnis Berrybenka Group berkembang, Jason mengajak teman lamanya saat sama-sama kuliah di Amerika Serikat untuk bergabung, yaitu Danu Wicaksana yang kini dipercaya sebagai orang nomor dua di perusahaan startup tersebut. “Saya tertarik gabung dengan Berrybenka tahun 2015 dan siap untuk mengembangkan,” ucap Danu yang meraih gelar MBA dari Wharton Business School, Amerika Serikat. Sebelumnya, pria kelahiran Semarang, 28 Desember 1984 ini pernah bekerja di kantor konsultan asing Mc Kinsey.

Strategi dari online ke offline (O2O)

Di awal tahun 2016, Berrybenka berbagi perkembangan terbaru seputar aktivitas dan pencapaiannya di tahun 2015 serta rencana pengembangan untuk tahun 2016. Tahun ini Berrybenka akan tetap berkomitmen menjadi fashion e-commerce yang customer focus lewat beragam strategi untuk menghadirkan pengalaman belanja online yang mudah, menyenangkan dan dapat diandalkan.

BerrybenkaAli2

“Sebagai salah satu pelopor fashion e-commerce yang membawa pengalaman belanja online di Indonesia, Berrybenka terus bertumbuh dan menjadi destinasi belanja favorit bagi semakin banyak pelanggan kami,” kata Danu Wicaksana, Managing Director PT Berrybenka.

Danu mengklaim, sepanjang tahun 2015, Berrybenka terus berinovasi dan bertumbuh hampir 200% dibandingkan tahun sebelumnya. Berrybenka Label, private label yang baru saja diluncurkan bulan April 2015 juga terus berkembang pesat dan dalam waktu singkat menjadi best seller brand di Berrybenka. Kategori menswear yang baru diluncurkan tahun 2015 pun kian menanjak pamornya dan berkontribusi sebanyak 20% dari total penjualan.

Perkembangan tersebut tidak akan berhenti di 2015. Tahun ini, Berrybenka akan tetap berkomitmen menghadirkan pengalaman belanja yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. “Pelanggan adalah inspirasi terbesar dan alasan di balik semua hal yang kami lakukan,” ungkap Jason Lamuda, CEO PT Berrybenka.

Dijelaskan Jason, tiga komitmen Berrybenka untuk tahun 2016 adalah menghadirkan pengalaman online to offline (O2O) yang terintegrasi demi menjangkau penetrasi yang lebih luas; mendukung dan menjadikan Berrybenka sebagai fashion brand lokal terbesar dan menjadi fashion e-commerce yang customer focus.

Strategi O2O akan digarap melalui beberapa lini yaitu melalui aktivasi offline seperti Pop Up Store dan offline bazaar; menerapkan metode pembayaran via Indomaret; meluaskan kerjasama lintas industri di berbagai wilayah di Indonesia serta memaksimalkan potensi mobile commerce.

Misi selanjutnya adalah menjadikan Berrybenka sebagai fashion brand lokal terbesar lewat Berrybenka label yang terus berkembang pesat dan siap menjadi lini produk andalan untuk 2016. Juga, mempertahankan dan meningkatkan posisi Berrybenka sebagai fashion e-commerce lokal terbesar di Indonesia yang terus bertumbuh dengan aktivitas bisnis yang sehat.

Target lain, menjadikan Berrybenka sebagai fashion e-commerce yang customer focus lewat seleksi produk yang semakin variatif dengan kualitas terbaik, tapi harga tetap terjangkau; memasarkan Berrybenka lebih luas di berbagai kota besar khususnya di luar Jabodetabek; serta menghadirkan kemasan dengan sentuhan personal untuk memberikan pengalaman belanja yang menyenangkan untuk setiap konsumen.

Hingga kini Berrybenka telah menjual lebih dari 1.000 merek lokal dan internasional, termasuk in-house label. Berrybenka menawarkan kombinasi produk fesyen dan kecantikan terkini untuk setiap gaya personal yang beragam untuk wanita dan pria, bervariasi dari pakaian, aksesori, sepatu, tas, produk olahraga dan kecantikan. ” Berrybenka menawarkan beragam keuntungan seperti retur produk gratis hingga 30 hari setelah barang diterima serta Cash on Delivery (COD) di lebih dari 2400 kecamatan di seluruh Indonesia,” ucap Jason mengklaim. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)