Geliat Bisnis Pemuda Semarang, dari Rental Konvensional Hingga Online

Berawal dari seorang pengusaha rental mobil konvensional, Salim Santoso kini sukses menjadi salah satu pemilik perusahaan rintisan di salah satu bidang yang sedang panas-panasnya, transportasi online.

Salim Santoso Salim Santosi, Pendiri ATrans

 

 
Memang, Salim Santoso (37 tahun) itu sejatinya seorang pengusaha penyewaan mobil konvensional di bawah bendera PT Angelita Trans Nusantara sejak tahun 2005. Hingga akhir tahun lalu dirinya sudah mengoperasikan tak kurang dari 60 mobil sewa. Namun geliat bisnis transportasi online telah menggelitik jiwa bisnis salim. Karena itu pada 18 Juli silam di Menara Bidakara, Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, dirinya meluncurkan Atrans. “Di Indonesia perusahaan transportasi online baru 3. Kenapa tidak berani, tambah satu cuma 4,” ujarnya penuh percaya diri menjawab pertanyaan SWA ketika ditemui di sela-sela peluncuran Atrans.
 
Tak tanggung-tanggung, Salim pun mengucurkan dana miliaran rupiah untuk meluncurkan Atrans, merek transportasi online yang melayani dua moda sekaligus, roda dua dan empat. Dirinya menganalogikan kondisi saat ini seperti ketika dirinya memulai bisnis penyewaan mobil 12 tahun silam di Jakarta. Saat itu pemain sewa mobil sudah mencapai ribuan, toh dirinya yang hanya mengawali dari sebuah mobil tua mampu bertahan dan berkembang hingga memiliki puluhan mobil dan karyawan. Apalagi bidang transportasi online yang dalam pengamatannya saat ini hanya diisi pemain kurang dari jumlah jari di sebelah tangan. Karena itu dirinya yakin, berbekal inovasi dan fitur yang tidak dimiliki pesaingnya, Atrans akan mampu memberikan kompetisi yang memadai.
 
Salim sendiri telah menjadi seorang pebisnis sejak belia. Karier bisnisnya dimulai sepulangnya dari sekolah SMA di China pada tahun 2000. Saat itu dirinya membantu toko batik kakaknya di Semarang. Namun, pria yang dibesarkan dalam lingkup keluarga pengusaha hotel di Semarang itu ‘gelisah’. Dirinya ingin lekas memacu diri lebih kencang lagi. Karena itu bontot dari 8 bersaudara itu pergi ke Jakarta dan setelah mencari bidang bisnis yang pas, dirinya memulai bisnis rental mobil.
 
Tabungan sebesar Rp 6 juta hasil ‘magang’ di toko kakaknya pun dipakai untuk mengkredit mobil Daihatsu Espass tua. “Awalnya Espass tahun 1997 masih keropos. DP murah sekali Rp 6 juta angsuran bulanan Rp 1,6 juta,” kenangnya.
 
Mobil tua itu pun dipakainya mengantar konsumen ke mana-mana. Targetnya adalah orang dari daerah yang datang ke Jakarta. Banyak asam garam yang telah dicecapnya saat itu. Dari dimarahi konsumen lantaran hanya memiliki mobil tua keropos, sampai berkali-kali kehilangan kendaraan yang dibawa kabur konsumen.
 
Toh, dirinya tidak menyerah dan terus berinovasi. Hingga kemudian dirinya merilis ‘fitur’ sewa dengan supir sampai mengangkat pengemudi sebagai karyawan tetap. Saat itu pemain rental mobil banyak yang menerapkan sistem lepas kunci, alias sewa tanpa supir dari rental. Kondisi ini meski efisien dan disukai penyewa namun riskan penipuan.
 
Rekan-rekannya sesama pengusaha rental kala itu pun banyak yang penasaran dan meneleponnya mempertanyakan inovasinya. Toh Salim tidak peduli dan jalan terus. Dirinya yakin kemacetan di Jakarta dan sekitarnya yang kian menggila akan membuat orang memilih menyewa dengan supir.
 
Benar saja, konsumen tetap berminat menyewa meski Salim mewajibkan penggunaan supir dari rentalnya. Bahkan, salah satunya karena minat penyewa yang tinggi, dirinya sampai berani mengangkat pengemudi rentalnya sebagai karyawan tetap. “Kalau tidak diangkat jadi karyawan tetap, saya tidak bisa mengontrol kualitas mereka,” ujar Salim yang hingga tahun lalu sudah memiliki 60 supir tetap plus sejumlah supir lepas sebagai pengganti kala pengemudi tetapnya libur.
 
Berkat inovasi itu bisnis rental Salim yang dinamai dengan nama putrinya dan berkantor di Jalan Adam Malik, Kavling 65, Tangerang itu terus membesar. Salim pun yakin, dengan inovasi, dirinya akan mampu mencuri ceruk pasar signifikan dari pemain transportasi online yang sudah ada.
 
Pasalnya, selain menawarkan layanan standard transportasi online seperti Trans Ojek untuk ojek motor, Trans Send untuk kurir, Trans Food untuk pengantaran makanan, Trans Box untuk kiriman kargo, Trans Car untuk mobil, Atrans memiliki fitur unggulan, Trans Day Rent. Dengan layanan terakhir itu, konsumen layaknya menyewa di rental mobil biasa tapi berdasarkan aplikasi Atrans. Lama ‘sewa’ Trans Day Rent sendiri dimulai dari dua jam dengan tarif Rp 160 ribu, atau Rp 80 ribu per jam.  
 
Lantas bagaimana jika pengguna terjebak macet sehingga penggunaan mobilnya melebihi pemesanan awal? Rupanya, Atrans telah memikirkan solusinya dengan memiliki fitur perpanjangan sewa. Hitungan perpanjangannya pun cukup adil, yakni per menit. Biayanya, Rp 80 ribu dibagi 60 menit, atau sekitar Rp 1.300 per menit perpanjangan sewa.  
Inovasi lainnya, Atrans akan memberikan tarif promo selama masa promosi beberapa bulan ke depan. Plus insentif bonus 10% bagi pengemudinya yang mampu mencapai omset tertentu dalam sepekan. Ada pula insentif jalan-jalan ke luar negeri dengan syarat tertentu.
Arynto C. Samudro, Direktur Pengelola Atrans, yang turut meluncurkan aplikasi transportasi online tersebut bersama Salim memaparkan, kelebihan lainnya adalah seluruh armada mobil Atrans telah berizin kendaraan sewa resmi. Hal itu dimungkinkan lantaran induk Atrans, Angelita, merupakan rental mobil resmi terdaftar. Jadi seluruh armada Atrans saat ini menginduk kepada izin Angelita dan bahkan telah mengikuti KIR.
Arynto lebih lanjut memaparkan, di hari peluncuran Atrans pada 18 Juli, tercatat sudah 400 mitra pengemudi baik ojek maupun mobil yang terdaftar di Atrans. “Namun sampai akhir tahun diharapkan target sebanyak 30 ribu mitra driver bisa tercapai,” Arynto menguraikan.

Untuk mencapai target tersebut, Atrans pun telah siap menggandeng berbagai perusahaan rental resmi di berbagai daerah di Indonesia yang selanjutnya disebut agen Atrans. Sejumlah kota yang sudah masuk dalam radar operasi Atrans yakni Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Medan, dan Makassar. Hingga kini sudah terdapat 14 agen transportasi yang tergabung di Atrans. “Selanjutnya agen tersebut yang akan mengelola mitra pengemudi Atrans,” ujar Arynto.
Kedepannya, Salim memaparkan Atrans akan berinovasi dengan menyediakan jasa bus online. “Tapi itu rencana ke depan, fokus kami sekarang membesarkan yang ada dulu dan menambah mitra pengemudi. Akan ada inovasi-inovasi selanjutnya dari kami,” papar Salim, optimistis.


 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)