Gerilya Quick Chicken dari Yogyakarta

Bedi Zubaedi Bedi Zubaedi, Pemilik Quick Chicken

Bisnis ayam goreng tepung nan renyah memang terus merebak. Hampir di setiap tepi jalan kini dapat disaksikan penjaja ayam goreng renyah dari kelas rombong kaki lima sampai yang menempati bangunan mentereng lengkap dengan tempat parkir yang luas. Salah satu pengusaha yang ikut terjun di bisnis tersebut adalah Bedi Zubaedi.

Namun, berbeda dari pengusaha ayam goreng tepung lainnya yang kebanyakan mengawali bisnisnya dari Jakarta dan sekitarnya, Bedi memilih bergerilya dari Yogyakarta.

Ya, mantan general manager di sebuah perusahaan ayam goreng internasional itu mengawali bisnisnya pada tahun 2000 di Yogya. Alasannya sederhana, dirinya paham betul bahwa bisnis ayam goreng di kota besar padat pemain dan persaingannya sangat keras. “Kalau saya membuka tiga gerai di Jakarta mungkin tidak terlalu terlihat. Tapi, di daerah, buka tiga gerai akan cepat menarik perhatian,” ujar Bedi ketika ditemui SWA di sela-sela penganugerahan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas pembukaan gerai terbanyak dalam sehari di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Selatan, awal November silam.

Bedi masih ingat, dana Rp 110 juta dia kucurkan untuk memodali bisnisnya tersebut. Sebelum mantap meluncurkan ayam goreng perdananya, dia meriset produknya. Sebanyak 10 ekor ayam diolahnya saban hari demi menghasilkan citarasa yang pas. Kawan-kawan dan tetangganya tak sungkan dia jadikan kelinci percobaan untuk menyurvei kualitas rasa yang dihasilkan. Setelah mantap, dia pun membuka gerai perdananya di kawasan Demangan, Yogya.

Langkah awal itu ternyata langsung berbuah manis. Dalam setahun, dia bahkan bisa mengembangkan hingga enam cabang di Yogya dan Mojokerto. Sebagai pengusaha pemula yang masih merintis, Bedi mengaku menerapkan strategi copy paste. Produk ayam goreng yang tengah laris di gerai-gerai restoran cepat saji lekas ditirunya dan dilempar ke gerai-gerai Quick Chicken, merek restoran ayam goreng renyah miliknya. Hasilnya sukses besar. Dalam waktu singkat, restonya terus dipadati pembeli.

Namun, lama-kelamaan Bedi gundah. Pasalnya, meski laris, orang tidak mengenal merek Quick Chicken. Yang datang kebanyakan menyebut merek dan varian ayam goreng ternama. Bedi sadar, kondisi itu tak baik untuk jangka panjang. Karena itu, dia pun berinovasi menelurkan berbagai produk baru. Salah satunya, ayam cepat saji bumbu penyet. “Hasilnya, justru  produk kami ditiru oleh pesaing besar, hehehe,” ujar Bedi, terselip rasa bangga.

Inovasinya terus berlanjut. Dia membuka gerai dengan berbagai ukuran, dari seukuran peti kemas kontainer sampai restoran besar. Organisasi perusahaan juga dibenahi di bawah PT Quick Chicken Indonesia. QCI yang berkantor pusat di Gedung Sentral Senayan 2, Lantai 27, Jl. Asia Afrika, Jakarta Pusat, memiliki pusat pelatihan SDM untuk mendidik karyawannya. Bahkan, khusus untuk menangani perbumbuan, QCI membentuk perusahaan tersendiri, yakni PT Beta Ciptarasa Indonesia.

Buah dari profesionalisme tersebut, akhir tahun ini gerai Quick Chicken telah menembus 230. Anny Janti Gorat, Direktur Utama QCI, menyebutkan, dalam sehari penjualan ayam goreng di tiap gerai Quick Chicken rata-rata mencapai 35 kg. “Omset per gerai mencapai Rp 80 juta-150 juta per bulan,” tutur Anny yang juga ditemui SWA di kesempatan serupa.

Lantaran sukses membuka gerai terbanyak dalam sehari --mencapai 50 unit-- Quick Chicken dianugerahi penghargaan dari MURI pada 3 November 2017. Gerai-gerai yang dibuka berada di Serang, Tangerang, Jakarta, Depok, Karawang, Purwokerto, Yogya, Semarang, dan Luwuk.

Bedi mengaku, pihaknya masih akan membuka setidaknya 20 gerai lagi hingga mencapai 250 gerai pada akhir 2017 ini. Lebih ambisius lagi, pada 2018 jumlah gerai QCI akan bertambah 700 unit lagi. Dengan demikian, pada akhir 2018 akan terdapat kurang-lebih seribu gerai Quick Chicken di seantero Indonesia.

Untuk mewujudkan rencana ekspansi gerai hingga nyaris tiga kali lipat itu, QCI menganggarkan dana Rp 3 triliun. Modal yang sebagian direncanakan dari pinjaman bank tersebut akan dibelanjakan untuk menambah gerai, membangun tim, mendirikan pusat logistik, melakukan riset bumbu, dan mengadakan bahan baku. Direktur Keuangan Quick Chicken Hartati Rusdy dalam kesempatan yang sama turut menerangkan, biaya pembukaan per gerai mencapai Rp 200 juta-400 juta, tergantung jenisnya.

Bedi menilai, prospek bisnis ayam goreng masih akan melesat di tahun-tahun mendatang. “Permintaan ayam goreng ini masih sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan ramainya gerai-gerai Quick Chicken di berbagai daerah. Jadi, kami optimistis terhadap perkembangan usaha kami,” Bedi menegaskan. (*)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!