Filosofi Bisnis Sepatu 910 Hartono Wijaya

Dengan mengusung tagline "everyone can fly",  Air Asia mencoba merangkul penumpang dari kalangan menengah dengan menyuguhkan tiket penerbangan dengan harga yang terjangkau. Ide tersebut secara tidak langsung mengubah image bahwa bepergian menggunakan maskapai penerbangan tidak lagi kebutuhan mewah, sehingga kalangan menengah pun kini bisa merasakannya.

rsz_img_20150428_133041rsz_img_20150428_133041IMG_20150428_133041Rupanya filosofi Air Asia ini diterapkan Hartono Wijaya, CEO 910 (NineTen) yang sebelumnya pernah berkiprah di beberapa brand global seperti Nike, Puma, dan Yonex, pada brand barunya yang telah berusia satu tahun tersebut. Sama halnya dengan kebutuhan bepergian menggunakan maskapai penerbangan, olahraga lari pun identik dengan citra high class dimana untuk melengkapi gear running-nya umumnya runner harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah, terlebih untuk sepasang sepatunya.

"Untuk sepatu running brand global misalnya, bahkan range harganya itu ada yang di atas jutaan rupiah," ujarnya. Bicara soal harga, wajar saja apabila sepatu running tersebut mencapai jutaan rupiah. Hal tersebut karena fitur safety yang ditawarkan lengkap, seperti fitur insole gel technology-nya yang meminimalisir terjadinay cedera tumit, outsole yang disesuaikan (bisa tebal ataupun tipis) untuk menahan gesekan kala berada di track tanah yang licin, berbatu, atau berpasir, juga cenderung nyaman apabila digunakan di track road (jalan raya). Selain itu heel counter dan pull tab yang kokoh juga bisa meminimalisir runner dari cedera engkel.

Namun pada brand 910 (NineTen) besutannya, fitur tersebut tetap dipertahankan namun harga yang disuguhkan masih berkisar di Rp 200.000 - Rp 400.000. Alasannya, seperti yang dituturkan Hartono, adalah untuk menjaring sebanyak mungkin pelari - pelari dari kalangan menengah untuk tetap bisa mendapatkan prioritas safety tersebut, namun tetap bisa menjangkau harga yang ditawarkan.

Bagi alumnus La Trobe University Australia ini, margin tidaklah penting. Yang terpenting adalah kuantitas dalam jumlah massal. "Sekarang gini, pilih mana, margin sebesar 200 - 300% tapi yang beli sedikit, atau margin sedikit tapi yang beli banyak," katanya.

Adapun mengenai kualitas brand yang berada di naungan Wijaya Artha Mandiri Group ini, jika dibanding brand global, agaknya tidak banyak yang berbeda. Sebut saja seperti pada koleksi spring summer 2015 ini, di mana beberapa variannya mengimplementasikan teknologi no sew (tanpa jahitan), maupun knitting (teknik rajut). Kemudian beberapa varian juga mengimplementasikan insole dan outsole technology yang diberi nama Acro+ dengan disesuaikan pada medan yang ingin ditempuh pelari.

"Kalau medannya jalan raya, ya almost barefoot. Namun kalau untuk trail atau medan gunung yang umumnya bertanah ataupun berbatu, ya outsolenya mesti tebal," kata Hartono.

Hartono sendiri menargetkan di pengujung tahun 2015 ini bisa menjangkau sebanyak mungkin dealer yang tersebar di kota - kota besar di Indonesia. Adapun saat ini, dealer yang digandengnya baru terpusat di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sementara ekspektasi penjualan akhir tahun 2015 ditargetkan sekitar 2 juta pasang.

"Kami sudah siap untuk bersaing dengan merek - merek global saat ini. Apalagi di tahun 2015, akan ada banyak kejutan yang kami berikan baik dari sisi pengembangan teknologi, dan model produk, distribusi penjualan, dan juga cara berkomunikasi kepada masyarakat Indonesia. Dimana begitu mendengar kata lari, yang terbesit adalah sepatu 910 (NineTen)," tutur Hartono.

Ia pun pelan - pelan mulai bangga atas hasil jerih payahnya, di mana di beberapa event lari, mulai dari Car Free Day, Marathon, hingga Trail Gunung, sepatunya mulai digunakan oleh khalayak. "Saya bisa mengenali sepatu 910 (NineTen) tersebut hanya dengan melihat saja. Bangga juga sih, meski dari 10 orang, paling dua sampai tiga di antaranya yang menggunakan sepatu ini," lanjutnya.

Tak dilewatkan pula, event - event berwarna charity dan sosial pun dilalui Hartono. Sebut saja seperti Pertamina Eco Run yang dihelat oleh Pertamina, dan sebuah kegiatan lari sosial bertajuk  "sweat over sweat" yang digelar oleh International Pharmaceutical Student di Bundaran Hotel Indonesia beberapa waktu silam. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)