Jurus Kawan Lama Group Bertumbuh Hingga Tiga Generasi

Kuncoro Wibowo, CEO Kawan Lama Group

 

Keberhasilan Kawan Lama Group dalam mengembangkan jaringan bisnis alat teknik, perkakas dan peralatan serta perlengkapan rumah tangga memang sebuah kisah yang layak mendapat tempat tersendiri dalam sejarah bisnis Indonesia. Betapa tidak, di saat bisnis sejenis lainnya hanya dapat bertahan di kios-kios kecil, Kawan Lama Group sukses melesat jauh melampaui kios sempit tempat berdirinya pada tahun 1955 di kawasan Glodok, Jakarta. Hingga akhirnya kini bisnis KLG menggelembung masif dengan ratusan gerai yang menaungi puluhan ribu karyawan.

 
Sejarah Kawan Lama Group memang terentang sangat jauh hingga ke masa awal pendirian Republik Indonesia. Cikal bakal perusahaannya sendiri dirintis oleh Wong Jin pada tahun 1955 dari sebuah kios kecil berukuran 3x3 meter. Hingga kemudian ketika wafatnya sang pendiri perusahaan pada tahun 1981, tongkat estafet kepemimpinan diteruskan oleh Kuncoro Wibowo, anak sulung dari 9 bersaudara. PT Kawan Lama Sejahtera, yang menjadi cikal bakal Kawan Lama Group sendiri lahir setahun sebelum wafatnya sang perintis.
 
Selanjutnya tak bisa dipungkiri, di tangan Kuncoro bersaudara, bisnis keluarga yang dikelola dengan profesional tersebut semakin meroket. Kini berbagai perusahaan yang bergerak di bidang perkakas, penjualan ritel, online, properti dan bahkan furnitur serta makanan dan minuman turut dirambah Kawan Lama Group. Berbagai merek maupun unit bisnisnya pun telah akrab di telinga konsumen seperti merek perkakas Krisbow, gerai supermarket perkakas ACE Hardware, merek furnitur Informa, mal Living World di Alam Sutera, gerai Toys Kingdom, Chatime dan lain sebagainya  
Melihat rekam jejaknya yang cemerlang, siapapun pasti berdecak kagum dibuatnya sekaligus menaruh hormat kepada para pendiri maupun pengelola perusahaan. Meski demikian, Kuncoro Wibowo, sang komandan KLG menanggapinya dengan rendah hati. “Kami adalah putra-putri keluarga besar yang sudah berkecimpung selama 62 tahun. Kami mulai dari toko sederhana, banyak suka dan dukanya,” jelas CEO Kawan Lama Group itu kepada Majalah SWA.
 
Kuncoro memaparkan, meski KLG terlihat bertumbuh ke berbagai bidang yang sangat luas. Namun sejatinya bisnis perusahaan terus terkait satu dengan lainnya. Hal itu terlihat dari rekaman sejarah KLG yang dimulai dari toko kecil untuk alat-alat teknik, lalu berkembang ke ritel, produk gaya hidup, ritel furnitur dan selanjutnya ke makanan dan minuman melalui Chatime bahkan kini merambah properti mal. “Sebenarnya semuanya masih terkoneksi dengan bisnis kami,” jelas Kuncoro.
 
Kuncoro pun mafhum, bahwa tanpa inovasi, KLG pasti akan digilas kompetisi. Karena itu pihaknya menyiapkan digitalisasi sebagai langkah pengembangan bisnis selanjutnya. “Kawan Lama dan anak perusahaan memiliki sistem yang sudah ada, infrastruktur sudah tersedia. Ini adalah titik mula dibandingkan negara lain yang berkembang, persentase pola berbelanja online kita ini tinggi,” ungkapnya.
 
Itu sebabnya KLG meluncurkan Ruparupa.com untuk penjualan ritel daring, Klikmro.com untuk aneka produk kebutuhan maintenance. Ada pula Krisbow.com dan Kawanlama.com. Krisbow.com yang dimulai tahun 2013 itu sekaligus menjadi titik permulaan KLG memasuki e-commerce segmen bisnis (B2B). ”Melihat dinamika pola berbelanja ini, kebutuhan yang dasar yang tidak membutuhkan teknikal information atau consultative selling dapat dijalankan melalui digital procurement. Di satu sisi untuk produk yang masih membutuhkan technical consultant masih ada interaktif antar seller dan buyer,” Kuncoro menjelaskan strategi di balik pendirian berbagai e-commerce KLG.
 
Tantangan utama yang dihadapi KLG dalam membesarkan perusahaannya kini terletak di dua aspek, manusia dan rantai pasok. Dengan 26 ribu karyawan tak mengherankan KLG harus menempatkan SDM sebagai salah satu perhatian utamanya. Tujuan pengembangan SDM di KLG adalah agar karyawannya mampu sekaligus menjadi seorang konsultan bisnis. “Tantangan yang menyenangkan untuk develop mereka. Usia mereka rata-rata di bawah 35 tahun, mereka beradaptasi dengan cepat, inovatif, out of the box dan kooperatif. Tugas kami adalah membuat suasana kerja yang lebih nyaman dan lebih interaktif,” jelas Kuncoro
 
Sementara di sisi rantai pasok, jaringan KLG tersebar di 17 kantor cabang dan 300 retail kecil maupun besar di 35 kota di Indonesia. Demi memenuhi kebutuhan jaringannya itu maka KLH membuka pusat distribusi (DC) di berbagai kota besar di Indonesia seperti di Surabaya untuk area timur, di Medan untuk menangani area Sumatera. Sedangkan di Jakarta ada 2 lokasi yaitu di Jakarta Barat dan Timur.
 
Tentu menangani jaringan semasif itu membutuhkan teknologi tinggi agar mampu memproses permintaan konsumen dan memberikan laporan situasi bisnis terkini kepada manajemen. Karena itu sejak tahun 2013 KLG mengimplementasikan sistem operasi berbasis SAP.  “Dengan perkembangan teknologi, kami juga membuka toko yang sudah sustain ini juga sebagai distribution fulfillment untuk konsumen. Di mana jika ada konsumen yang berbelanja online, lalu barang dapat dikirim dari DC terdekat dari wilayah kota mereka,” jelas Kuncoro.
 
Dengan sentuhan teknologi pula KLG berharap dapat membuhul kesetiaan konsumennya. Caranya, 3,5 juta anggota pelanggan KLG diberikan berbagai program seperti point reward, members only discount, special offers back to school, promosi berkala tiga bulan sekali untuk anggota dan lain sebagainya. “Members memberikan kontribusi yang signifikan yaitu lebih dari 50 persen revenue,’ ungkap Kuncoro blak-blakan.
 
Sementara bisnis properti yang digeluti mal Living World kini menurut Kuncoro telah menunjukkan sinyal kesuksesan. Menyusul keberhasilan itu, KLG akan membuka Living World selanjutnya di Balikpapan pada Agustus tahun ini dan di Pekanbaru pada awal tahun depan serta segera menyusul di berbagai kota lain di Indonesia.
 
Menanggapi keberhasilannya, Kuncoro memaparkan, hingga kini pihaknya terus memegang terus filosofi kerja keras dan inovasi, terus belajar dan bertumbuh. Menularkan filosofi ini ke generasi selanjutnya pun menjadi sebuah kewajiban tersendiri. Pasalnya, Kuncoro berharap bisnis yang telah dirintis dengan susah payah ini dapat terus tumbuh hingga ke generasi berikutnya. “Seperti Teresa Wibowo yang saat ini menjabat sebagai Chief of Many Things atau ruparupa.com dan Feronia Wibowo sebagai Operations Director PT Food Beverages Indonesia yang memiliki produk Chatime. Mereka bisa terus mengembangkan perusahaan ini, apalagi mereka adalah generasi yang melek digital. Yang kami lakukan adalah support inovasi mereka,” ujar Kuncoro.
 
Menurut Kuncoro, tantangan bagi generasi ketiga adalah untuk growing next generation. Hal ini pun bukan pekerjaan yang ringan. Pasalnya, Kuncoro mengamati banyak perusahaan keluarga yang tidak bertahan hingga ke generasi ketiga dan selanjutnya. “Jadi jangan sampai generasi pertama membangun, generasi kedua meng-groom, dan generasi ketiga hanya menikmati,” tegas Kuncoro.
 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)