Kegigihan Lenywati Berbisnis Spa Sampai Afrika

Lenywaty merupakan cerminan perempuan tangguh yang tak kenal lelah dalam mengejar impiannya.

Ir. Lenywati Ir. Lenywati, pendiri PT Tirta Ayu Spa

Bayangkan, pengusaha kelahiran Kediri 7 Mei 1965 itu mengawali bisnisnya di bidang spa seorang diri dari mal ke mal di Jakarta Pusat dan Selatan. Hal itu dilakukan karena tidak ada dana lebih untuk berjualan produk jamu racikannya. Terkesan biasa saja? Jangan salah, Leny menawarkan produk herbal racikan perawatan organ kewanitaan bukan di ajang pameran di mal, atau kios, melainkan di toilet mal! “Soalnya waktu itu modalnya terbatas. Jadi tidak mungkin ikut pameran. Selain itu, yang saya tawarkan produk perawatan organ kewanitaan. Jadi ya yang cocok menawarkannya di toilet,” papar perempuan yang akrab disapa Leny itu ketika ditemui Majalah SWA di restoran Kitchenette, mal Central Park, Jakarta Barat pada awal Maret silam.

Saking gigihnya, hampir semua mal kelas atas di kawasan Jaksel dan Jakpus pernah disambanginya. Bahkan yang lebih ‘mengagumkan’, dirinya pernah ditangkap satpam di salah satu mal di Jaksel. “Jualannya kan memang tidak izin. Eh malah ditangkap satpam, gara-gara disangka mengedarkan narkoba, hahaha,” ujar ibu tiga anak itu seraya tertawa mengenang kejadian di tahun 2009 silam.

Hot Stone Massage

Toh, kisah pahit itu kini tinggal kenangan masa lalu. Bahkan buah manis telah dipetiknya, Leny yang berbisnis spa dengan merek Tirta Ayu Spa dan Tirta Ayu V-Spa saat ini telah mempunyai 11 gerai yang 3 di antaranya tersebar di negara-negara Afrika seperti Kamerun, Ghana, dan Nigeria. Bahkan, hingga akhir tahun ini, daftar negara yang disambangi Tirta Ayu Spa akan bertambah beberapa buah lagi. “Puji syukur, saya dikuatkan Tuhan dalam merintis bisnis ini. Tujuan saya sebenarnya sederhana. Saya ingin membantu wanita lain menghindari nasib yang dialami ibu saya,” papar Leny, seraya terdiam sejenak.

Memang, kegigihan Leny di bisnis spa dan produk herbal untuk perawatan organ kewanitaan berawal dari sebuah tragedi. Ketika masih kuliah semester 1 jurusan arsitektur Institut Teknologi Nasional Malang, ibunda yang begitu dikasihinya divonis dokter menderita kanker ovarium. Sebagai anak bontot dari 3 bersaudara, hubungan Leny begitu erat dengan ibunya. “Saya ini jaraknya 15 tahun dengan kakak termuda. Jadi saya sangat dekat dengan ibu,” urainya.

Toh sekeras apapun ibunya berjuang, Tuhan jua yang menentukan. Hanya berselang bulan dari vonis dokter, sang ibu menutup mata untuk selama-lamanya. Leny muda pun tenggelam dalam duka mendalam. Saat itu bara ‘dendam’ memercik di hatinya. “Saya berjanji untuk mencegah wanita dari kanker ovarium semampu saya,” tuturnya.

Meski demikian, demi pengabdiannya kepada orang tua, Leny menuntaskan kuliahnya. Dirinya pun sempat menggeluti profesi desain interior. Pun begitu, lama kelamaan Leny tidak bisa mengekang kata hatinya. Tahun 2005 dirinya meminta izin kepada suaminya dan ketiga anaknya untuk mempelajari ilmu perawatan organ kewanitaan. “Menempuh pendidikan kedokteran lagi terlalu lama. Karena itu saya mengambil berbagai short course,” jelas Leny.

Lenywati Lenywati

Setelah izin dalam genggaman, sejak 2005 hingga 2009 Leny mengikuti berbagai pendidikan perawatan organ kewanitaan dan kecantikan di institusi dalam dan luar negeri. Di antara lembaga yang dimasukinya adalah International Beauty School di Jakarta, lembaga pendidikan kecantikan dan kesehatan Comite' d'Esthetique et de Cosmetologie (CIDESCO) di Zurich, Swiss serta pusat pendidikan akupresur dan akupunktur di Guangzou RRT. Belakangan di tahun 2013 dirinya pun mengikuti pendidikan tambahan di Academy Es Vichy, di kota Vichy, Perancis. Dirinya juga mempelajari jamu tradisional langsung dari ahlinya, seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Setelah dirasa ilmunya cukup memadai, pada 2009 Leny pun memberanikan diri meracik ramuan herbal dari rumahnya di Jalan Gajah Mada, Bojonegoro, Jawa Timur. Dirinya memulai dengan hanya dibantu dua pegawai untuk memblender bahan baku dan mengemasnya. Berbagai tumbuhan seperti jahe dan daun sirih, untuk racikan jamu berbentuk godok, serbuk, dan cair pun diambilnya dari petani lokal.

Awalnya, Leny membuat ramuan jamu godok, jamu serbuk serta cair untuk mengobati penyakit keputihan, penstabil hormon dan jamu perangsang perempuan. ““Macam-macam penyakit sampai organ vagina yang asimetris sebenarnya bisa disembuhkan dengan perawatan dan teknik pijat yang tepat,” ujarnya.

Herbal racikan dan layanan spa pun mulanya ditawarkan kepada orang-orang terdekatnya, dari rumah ke rumah di Bojonegoro. Ternyata pengguna ramuan Leny banyak yang merasakan manfaatnya. Ada temannya yang lama menderita keputihan sembuh berkat racikan herbal Leny. Belakangan para pelanggannya semakin bertambah. “Spa saya lengkap, mencakup perawatan kesehatan dan kecantikan tubuh wanita, perawatan organ kewanitaan sampai ramuan herbal jamu godok untuk diminum,” ujarnya.

Sampai kemudian dirinya meyakini bahwa jika ingin membesarkan usahanya maka dia harus ke Jakarta, pusat segala bisnis di Indonesia. Tahun 2009 itu juga Leny kembali ke Jakarta, kali ini untuk berjualan. Tanpa ragu dirinya membawa jamu racikannya ke Jakarta menggunakan tas ransel.

Leny mengaku, sebenarnya dirinya buta sama sekali tentang peta pemasaran produk kecantikan dan kesehatan herbal di Jakarta. Toh dirinya tak patah semangat. Bermodal uang Rp 60 ribu dirinya mencarter ojek untuk mengantarnya berjualan. Dari tukang ojek itu dirinya mendapat informasi untuk menawarkan produknya ke daerah Pasar Baru dan juga ke mal-mal di Jakpus dan Jaksel.

Kerap kali, saat mal sudah tutup, Leny tak segan berpindah ke restoran cepat saji 24 jam yang berlokasi di lantai dasar pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta. Ternyata langkahnya tepat. Dari sana nama Leny semakin dikenal sebagai konsultan herbal untuk perawatan organ kewanitaan. Meski demikian, Leny mengaku masih kerap bolak-balik Bojonegoro-Jakarta untuk menjaga pelanggannya di kedua daerah itu sekaligus mengambil stok produk. “Saya terus produksi di Bojonegoro. Sudah ada apotekernya di sana,” paparnya.

Lompatan besar Leny tanpa disangka terjadi di tahun 2009 itu juga. Saat itu Leny juga menjadi anggota pemasaran berjenjang (MLM) produk pembalut sehat perempuan. Pengetahuan dan keahlian Leny yang sangat mendalam membuat perusahaan MLM tersebut menawarkannya untuk merintis pasar di Afrika, tepatnya di Kamerun.

Dirinya pun tanpa ragu menyambar peluang emas tersebut. Di berbagai kota di Kamerun Leny mengajarkan calon anggota MLM mengenai keunggulan produknya sekaligus kesehatan perempuan. Namun ada satu hal yang menarik perhatiannya. Kala itu di Kamerun tengah merebak penyakit kelamin klamidia.

Penyakit yang disebabkan oleh tumbuhnya bakteri di organ kelamin perempuan itu dipahami betul penyebab dan penyembuhannya oleh Leny. Karena itu dirinya terbersit untuk sekaligus memasarkan produk perawatan organ wanita miliknya di sana. Benar saja, kegigihannya dalam mensosialisasikan perawatan dan pengobatan organ kewanitaan mengundang perhatian pemerintah Kamerun. Bahkan Leny mengaku dirinya sempat diganjar penghargaan dari Menteri Kesehatan Kamerun. “Dia kagum juga baru kali ini ada orang Indonesia berbisnis ke Kamerun,” ujar Leny.

Dari sana pengusaha lokal di Kamerun yang sekaligus berprofesi sebagai dokter tertarik untuk menjalin kerja sama dengannya. Bahkan mereka serius mengirim tiga orang dokter untuk belajar di Indonesia. Tak disangka, berkah tak terduga itu membuat Leny kelabakan. Pasalnya, Leny belum memiliki tempat menetap yang bisa disebut spa.

Kadung tercebur, mandi hingga tuntas saja sekalian. Begitu prinsipnya. Menjelang kedatangan para dokter tersebut ke Jakarta, Leny bergerilya membuka spa ‘dadakan’ dengan menyewa sebuah ruang kecil di Jalan KS. Tubun No.15 Jakarta Barat yang berada di samping sebuah hotel kecil, Kalisma. Nama Tirta Ayu pun saya cetuskan di sana. Tirta air, Ayu cantik. Artinya kecantikan yang bersumber dari unsur alami seperti air, yang besar pengaruhnya bagi manusia,” Leny menjelaskan.

Perjuangannya itu membuahkan hasil gemilang. Tiga dokter yang belajar di Tirta Ayu Spa di Jakarta pulang ke negaranya dengan dengan puas dan membuka spa dengan yang sama di negaranya. Untuk menunjang kebutuhan spa di Kamerun, tahun 2010 akhir Leny merintis ekspor perdananya ke Afrika. Satu container berukuran 20 kaki penuh diisinya dengan berbagai produk herbal dan spa.

Belakangan, rekam jejak Leny mengekspor ke Kamerun terendus Kementerian Perdagangan RI. Karena itu dirinya diajak pameran produk herbal Indonesia di Jakarta Convention Center. Bisnisnya pun semakin berkembang pesat. Tahun 2010 dirinya pun diganjar penghargaan Peserta Terseleksi Program Ekspor Waralaba 2010 dari komite tetap dan lisensi Kamar Dagang Indonesia bekerja sama dengan Wali, perhimpunan waralaba dan lisensi Indonesia.

Empat tahun berikutnya Tirta Ayu Spa diganjar penghargaan Spa Layak Ekspor dari Kementerian Koperasi dan UKM. “Bintang saya bersinar terang di 2014 itu,” kenang Leny dengan senyum mengembang.

Toh dengan cara demikian, bisnisnya terus berkembang. Kini Leny memiliki 11 spa. Tiga spa merupakan miliknya sendiri dengan yang terbesar berada di Bojonegoro, sementara selebihnya hasil kerja sama dengan mitra. Tiga spa Tirta Ayu berada di luar negeri yakni di Kamerun, Nigeria dan Ghana, 5 milik mitranya di berbagai hotel di dalam negeri yakni Hotel Aston Bojonegoro, Luminor Surabaya, The Season Jepara dan The Season Pulau Karimun Jawa serta di Sijori Resort Batam. “Di resor Sentosa Island Singapura akan buka tahun ini,” ungkap Leny seraya menyebut saat ini setiap spanya rata-rata dikunjungi 15 orang per hari.

Aktivitas di Gerai Tirta Ayu Spa

Pada 23 Maret kemarin, Leny menandatangani MoU dengan pengusaha dari Cebu Filipina untuk membuka Tirta Ayu Spa di sana. “Sebentar lagi akan buka di Senegal, lalu November ke Bahrain untuk MoU dengan pengusaha sana. Di Dubai juga ada tapi itu hanya menjual produk herbal saya saja. Targetnya akan ada 4 spa lagi sampai akhir 2017. Di awal tahun ini saja yang mengantri untuk menjadi mitra ada 5 ,” ujar Leny.

Leny mengaku mengutamakan kualitas. Karena itu dirinya tak ragu membandrol harga layanan spanya ratusan ribu hingga jutaan rupiah per paket. Adapun untuk produk herbal yang menawarkan produk pembersih vagina, perawatan kesehatan vagina, perawatan kaki, tubuh, wajah dan lain sebagainya dihargai mulai dari Rp 75 ribu per kemasan hingga jutaan rupiah untuk paket ramuan pelangsing tubuh. Memang, sebuah harga yang cukup premium. “Karena bahan bakunya natural semua,” papar Leny seraya menyebut produknya di produksi dari pabrik Tirta Ayu di Jalan Veteran No.1, Bojonegoro. Dalam sehari, tak kurang dari 20 ribu produk diproduksi di pabriknya.

Dirinya pun ke depan akan membagi bisnisnya ke dalam tiga lini. Tirta Ayu Spa yang menawarkan layanan spa individual di lokasi mandiri, lalu Tirta Ayu V-Spa yang khusus menawarkan perawatan organ intim kewanitaan, dan satu lagi Hotel Spa, yakni menjalin kerja sama khusus dengan hotel sebagai lokasi spa.

Adapun di mata konsultan dan praktisi bisnis Jahja B. Soenarjo, Leny merupakan sosok pembelajar sejati, life learner. Hal itu ditunjukkan dengan keberaniannya berpindah keilmuan dari arsitektur ke perawatan kesehatan organ wanita untuk mengejar cita-citanya. Tak ketinggalan keputusannya untuk merambah pasar Afrika merupakan bukti dari keberanian Leny mengambil risiko.

Leny juga memiliki pengetahuan mendalam di bidangnya sebagai buah dari tekadnya menuntut ilmu di bisnis yang digelutinya. “Itu adalah bekal utama seorang pengusaha, menguasai basic know how bisnisnya,” ujar konsultan dari Direxion Consulting itu.

Eddy Dwinanto Iskandar

Kunci sukses Lenywati

1. Memiliki tekad kuat meretas bisnis perawatan organ wanita

2. Gigih mempelajari mendalam ilmu di bidangnya

3. Berani mengawali bisnis dari nol di Bojonegoro dan Jakarta

4. Berani merambah peluang di kirim ke Afrika

5. Jeli melihat peluang bisnis dari berbagai tempat yang dikunjunginya

6. Fokus di bidang yang digelutinya

7. Menekankan pada kualitas produk

8. Berkomitmen mengembangkan SDM dengan membuka pusat pelatihan sendiri

9. Terus mengembangkan pasar

Milestones Lenywati

2005-2009 mempelajari berbagai ilmu terkait perawatan kesehatan dan penyakit organ kelamin wanita

2009 Mengawali bisnis di Bojonegoro

2009 Merambah Jakarta

2009 Pergi ke Afrika

2010 Membuka Tirta Ayu Spa pertama di Jakarta

2010 Mengekspor perdana produk Tirta Ayu ke Afrika

2010 Penghargaan Peserta Terseleksi Program Ekspor Waralaba 2010 dari komite tetap dan lisensi Kamar Dagang Indonesia bekerja sama dengan Wali, perhimpunan waralaba dan lisensi Indonesia.

2014 Penghargaan Spa Layak Ekspor dari Kementerian Koperasi dan UKM

2016 Mengoperasikan 11 gerai spa dengan 3 di antaranya berlokasi di Afrika

2017 Rencana membuka gerai Tirta Ayu di Singapura, Senegal, Bahrain, dan Filipina

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)