Ketika Seniman Menyulap Gudang Mangkrak

Gudang Sarinah (Ki-ka: MG Pringgotomo, Ajeng Nurul Aini, Reza Afisina)

Bila Anda lama tak melintas di depan Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II/4 Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, jangan kaget bila melihat perubahan suasana di kompleks tersebut. Gudang milik BUMN PT Sarinah (Persero) yang belasan tahun terbengkalai ini belakangan ramai dengan berbagai kegiatan: pertunjukan seni (antara lain konser musik), ekspo, bazar, dan berbagai kegiatan anak muda lainnya. Kompleks itu tiba-tiba menjadi hidup. Dalam satu minggu setidaknya ada lima event yang digelar dengan ruangan (hall) yang selalu penuh pengunjung.

Ini gudang milik Sarinah yang kami sewa. Dulu gudang ini untuk menyimpan barang dagangan dari Sarinah. Sejak Mei 2016 kami sewa dan kami perbaiki fasilitasnya untuk kepentingan komunitas kami,” ungkap Ajeng Nurul Aini, General Manager Gudang Sarinah Ekosistem (GSE). Komunitas yang dimaksud ialah RURU Corps, organisasi dan komunitas kesenian di Jakarta yang terdiri dari Ruangrupa, Forum Lenteng, dan SERRUM. Mereka menjadikan gudang itu sebagai pusat dan sarana kegiatan berkumpul dan mengasah bakat-bakat kreatif di bidang seni dan kemudian memberi nama baru: GSE. Sebelumnya, selama lebih dari 10 tahun, sejumlah komunitas seni rupa itu tersebar lokasinya di berbagai wilayah di Jakarta dan baru membentuk jaringan jika ada kegiatan.

Tapi setelah kegiatan bersama Jakarta Biennale 2015 yang menggunakan Gudang Sarinah ini, kami berpikir kenapa tidak memanfaatkan dan menyewa gudang ini? Daripada kosong. Lokasinya strategis sehingga memungkinkan kami dari komunitas dapat menghasilkan karya di tempat ini. Akhirnya, kami coba menawarkan ke komunitas untuk ikut pindah,” kata Ajeng. Saat ini setidaknya sudah enam komunitas yang bergabung, yaitu Ruangrupa, SERRUM, Grafis Huru Hara, Forum Lenteng, Jakarta32C, dan OK! Video. Mereka menyebut komuntasnya sebagai Art Collective Compound (ACC).

Sebelum pindah ke Gudang Sarinah, komunitas itu membentuk RURU Corps yang membawahkan unit bisnis Ruangrupa, SERRUM, dan Forum Lenteng. Setelah pindah, RURU Corps inilah yang mengelola transaksi dan bisnis GSE — kini diperkuat tim 25 orang. “Masing-masing komunitas tetap memiliki program dan kegiatan yang otonom: SERRUM dengan workshop dan forum pendidikan, Grafis Huru Hara dengan workshop grafisnya, dll.,” Ajeng memaparkan. RURU Corps memang menyewakan ruangan yang ada kepada komunitas dan pihak lain agar bisa mendapatkan pemasukan, tetapi tetap membatasi siapa saja yang boleh masuk dan menyewanya agar bisa menjaga ekosistem yang sudah terbentuk. Enam komunitas yang ada di wilayah kerja ACC diminta membayarnya dengan berbagai program dan kegiatan yang membuat tempat itu aktif dan ramai.

Sistem kerjasama dengan pihak Sarinah berupa hubungan sewa-menyewa. RURU Corps membayar sewa bulanan termasuk mengurus pajak, perbaikan fasilitas, dan hal lain yang terkait. Dari tiga hall yang dimiliki Sarinah, mereka menyewa dua, Hall A dan Hall B, masing-masing seluas 3.000 m2. Hall A (dibagi dua, A1 dan A2) diperuntukkan bagi komunitas, sedangkan sisanya untuk kegiatan pihak lain. Adapun Hall B digunakan untuk kegiatan bulanan seperti pasar murah Tumpah Ruah. GSE kini juga sudah memiliki RURU Radio, bioskop mini Forum Sinema yang bisa digunakan untuk nonton bareng. Jika sedang diselenggarakan perhelatan seni, Grafis Huru-Hara sering mengadakan workshop cetak sablon manual. Ada juga perpustakaan mini yang mayoritas bukunya tentang seni rupa.

David Christ, Direktur Pengelola PT Mayora Indah Tbk., yang pernah ikut berkegiatan di GSE untuk merek minuman Pucuk Harum, menilai GSE punya lokasi yang cukup strategis di daerah selatan dan sudah dikenal di kalangan anak SMA. “Harga pun cukup terjangkau serta bangunannya cukup luas untuk membuat event festival dalam skala menengah,” ujar David yang menyelenggarakan event Pucuk Cool Jam Festival (Big Bang dari roadshow kompetisi band yang dijalankan di 30 sekolah se-Jabodetabek-Bandung) di lokasi itu.

Hartawan Adi Kusuma, Head of Brand Management Sampoerna A, PT HM Sampoerna Tbk., menilai GSE berkembang cukup pesat dan bisa menggerakkan komunitas seniman besar Tanah Air. “Selain itu, juga mampu beperan mendorong emerging artist untuk berkarya atau berekspresi secara lebih luas. Munculnya talenta-talenta baru di bidang seni tak lepas dari dukungan berbagai pihak kolektif seni dan art space sebagai fasilitator,” ujar Adi Kusuma yang juga pernah mengadakan pameran seni kolektif di GSE.

Pengelola GSE menjalankan berbagai cara agar semakin dikenal dan ramai didatangi. Namun, tampaknya promosi yang diandalkan tetap melalui media sosial. Selain itu, juga memiliki program aktivasi rutin bazar bulanan seperti Tumpah Ruah. Manajemen GSE pun mengajak pedagang sekitar Gudang Sarinah untuk dapat ikut membuka lapaknya secara gratis di Tumpah Ruah. Di sisi lain, GSE juga menyewakan stand ke pelapak lain secara komersial, dengan peserta sekitar 400 pelapak per hari saat Tumpah Ruah. Mereka menyewa Rp 250 ribu/lapak ukuran 2x3 m2 dari pukul 8.00 hingga pukul 20.00. Karena ramai, bila sebelumnya hanya diadakan hari Minggu, sejak Mei 2017 Tumpah Ruah diselenggarakan dua hari, Sabtu dan Minggu.

Kegiatan yang langsung terkait komunitas seni antara lain Jakarta Biennale pada November, Indonesia New Media Arts Festival, dan RRREC Fest. “Harapannya, Gudang Sarinah Ekosistem tetap mempertahankan lokasi ini sebagai ruang untuk anak muda berkarya, bereksperimen, dan dekat dengan ragam kegiatan kreatif. Kami berharap juga agar komunikasi antara kami dan manajemen Sarinah terus berjalan baik,” kata Ajeng. Ya, jelas langkah GSE tentu sebuah upaya yang positif dan bisa dicontoh komunitas seni di kota lain. Mengoptimalisasi aset gedung yang menganggur di kota mereka untuk kegiatan yang positif seperti seni dan bisnis. (Reportase: Tiffany Diahnisa/Riset: Armiady)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)