Kiprah VE Handojo Membangun Sekolah Kopi

Minimnya pengetahuan masyarakat akan jenis jenis kopi terbaik, membuat Venerdi Handojo, punya misi untuk melakukan edukasi terkait kopi. Bersama rekannya, Hendri Kurniawan, pria kelahiran tahun 1975 itu , lantas mendirikan sebuah sekolah kopi bernama ABCD Coffee yang merupakan kepanjangan dari A Bunch of Caffeine Dealer.

Sejak tahun 2012, ia bersama Hendri mulai aktif melakukan acara edukasi kopi, di Pasar Santa , Jakarta Selatan melalui acara-acara ngopi bareng yang rutin diadakan setiap pekan. Ketika itu, ia bercerita, ABCD belum berbentuk sebuah sekolah, seperti yang saat ini berdiri kokoh di jalan RP. Soeroso, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Kegiatan-kegiatan di Pasar Santa, Ve-sapaan akrab Venerdi, ceritakan lebih banyak ke arah kegiatan komunitas yang sifatnya non komersial. Kala itu, ia bercerita menempati kios sederhana berukuran 6x2 meter, untuk menyajikan specialty coffee lokal dan kelas dunia, seperti Colombia Finca La Falda, Bruna Espresso Blend, Mecca Espresso’s Dark Horse, Coffee Alchemy’s Goodness Galileo, kopi Gayo, kopi Lombok, kopi Flores-Manggarai, dan lain-lain.

Di sana para pengunjung bisa leluasa mencicipi berbagai kopi yang disajikan tanpa harus bayar alias gratis karena sebagian besar biji kopi premium yang dimiliki oleh ABCD Coffee juga didapat secara cuma-cuma. Lama kelamaan ternyata jumlah pengunjung semakin besar, dan angka keanggotaan komunitas pun semakin gemuk. Hingga akhirnya ia melebarkan misinya sampai benar-benar membuat sekolah kopi di tahun 2014.

Ve Handojo, ABCD Coffee Ve Handojo, ABCD Coffee

Ia percaya bila pemahaman akan kopi meningkat, maka secara tidak langsung akan memperbaiki keseluruhan bisnis kopi dari hulu hingga hilir. “Sekolah kopi ini berjalan intuitif saja, tidak ada bussiness plan dan lain-lain, mengalir begitu saja,” ungkapnya.

Saat ini, ia menyebutkan ABCD Coffee sendiri telah meluluskan 700 orang. Berbeda dengan sekolah lain yang banyak menghasilkan Barista, sekolah kopi ABCD Coffee justru lebih banyak diminati oleh kalangan yang ingin membuka usaha kedai kopi. Tercatat sudah 40 coffe shop yang dibuka oleh orang yang pernah menimba ilmu di ABCD Coffee.

Tak hanya dari Jakarta, sekolah tersebut juga pernah diikuti oleh WNA dari Malaysia, Singapura, Vietnam bahkan Spanyol. “Dari 700 ini 90% nya mengatakan tertarik belajar di sana (ABCD Coffee) karena inging membuka Coffe Shop,” ungkap putra bungsu pelatih nasional tenis meja, Djaja Oetama (alm.) dan balerina Lita Muljadi ini.

ABCD Coffee membagi edukasinya menjadi beberapa kelas, semisal kelas A (Appreciation Class) yang fokus pada sejarah kopi, B (Brewing Class) untuk mengenal jenis kopi dan cara pengolahannya, C (Cupping Class) untuk melatih indra perasa dalam mengenal karakter kopi, dan DE1 (Definitive Espresso Class) untuk mempertajam teknik meracik kopi. “Tiap minggu kami dapat menampung sekitar 10-20 orang,” ujarnya.

Di sana para siswa punya peluang diajarkan langsung oleh Hendri, yang notabane-nya seorang pemegang lisensi Q Grader (pencicip kopi) dan juri Kompetisi Barista Internasional. Soal biaya, bisa bervariasi tergantung kelas apa yang diikuti. Namun secara umum Ve sempat menyebutkan bahwa biaya untuk 3 hari pertemuan bisa sebesar Rp 3 juta.

Selain aktif mengurusi ABCD Coffee, ia juga dikenal sebagai penulis. Sejak tahun 2002 ia sudah menulis untuk serial televisi berjudul “A.B.G.” yang bertahan selama tiga tahun. Sejak tahun 2005, banyak skenario film layar lebarnya yang diproduksi, beberapa di antaranya seperti film 'Buruan Cium Gue', 'Kuntilanak', 'Rectoverso', ' D.O. (Drop Out)' dan lain-lain.

Profil
Nama Lengkap: Ve Handojo
Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 11 April 1975
Instagram: @abcd_coffee

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)