Kisah Ariyanto Cs. yang Sukses Besarkan Bakpia Jogkem

Para pendiri Pusat Oleh-oleh Jogkem, Yogyakarta; Ariyanto, Satriya, Ferdi dan Purwo (Foto: Gigin W. Utomo)

Bagi anda yang ingin menekuni bisnis kuliner atau oleh-oleh, tidak ada salahnya bila berkonsultasi dulu pada pakarnya. Salah satu pakar yang cukup kredibel dan kompeten dalam bidang tersebut adalah Ariyanto.

Dalam jagad industri pariwisata di Tanah Air, nama Ariyanto begitu popular, khususnya di kalangan para tour leader dari berbagai travel dan biro di dalam negeri. Bapak lima anak ini merupakan salah satu owner Resto Jamur Jawon dan  Pusat Oleh-oleh Bakpia Jogkem.

Brand resto dan pusat oleh-oleh tersebut ternyata awalnya didirikan oleh  empat sekawan abadi. Mereka adalah  Ariyanto, Ferdi, Satriya dan Purwo. Nama Ariyanto lebih popular di kalangan mitra bisnis, karena kebetulan mengemban tugas yang berkaitan dengan kemitraan. Sedangkan tiga rekan lainnya lebih banyak aktif di bagian internal.

Mereka memang layak disebut kawan abadi  karena pernah bersama-sama mengalami pahit getirnya membangun bisnis pusat oleh-oleh. “Kami sempat jatuh bangun berdarah-darah bersama, dan kami sudah komitmen untuk tetap bersama dalam kondisi apapun,” kata Ariyanto kepada SWA.

Nama Bakpia Jogkem, merupakan akronim dari Jogja Kembali, bisa dibilang masih usia balita. Dalam usianya yang masih hitungan jari tersebut, ia telah berhasil menarik perhatian ribuan biro travel untuk menjalin kerjasama kemitraan.

(foto: Gigin W Utomo)

Sudah sewajarnya bila dalam tempo tidak lama Bakpia Jogkem mendapatkan banyak mitra kerjasama untuk  penjualan produknya. Sebab, empat sekawan yang menjadi pendiri perusahaan tersebut, bukanlah orang asing dalam blantika bisnis oleh-oleh makanan khas Jogja.

Setidaknya mereka pernah sama-sama bergabung di manajemen Pusat Oleh-oleh Ambarketawang Group yang dimiliki keluarga almarhum Sudwikadmono.

Di perusahaan yang berlokasi di Jl Wates Gamping inilah, Ariyanto bertemu dengan tiga kawannya tersebut yang kemudian menjadi sahabat karib.  Sekitar tiga tahun  bergabung di Pusat Oleh-oleh Ambarketawang, Ariyanto dkk mengundurkan diri sebagai karyawan karena ingin mandiri. Kebetulan mereka dipercaya untuk pegang manajemen  Rest Area Paradise yang lokasinya hanya berjarak satu kilo meter arah timur dari Resto Ambarketawang,

Di lokasi baru tersebut, mereka membuka pusat oleh-oleh Bakpia Toegoe. Sebenarnya, bapkia Toegoe cukup memiliki pasar bagus. Namun entah kenapa, Ariyanto dan kawannya diberhentikan oleh pemiliknya secara tiba-tiba.

Tahun 2013, empat sekawan ini mendirikan Bakpia Toegoe CIS. Namun karena keterbatasan modal, pertumbuhannya lambat tidak sesuai harapan. Pada tahun yang sama,. Ariyanto dan tiga kawannya mulai bernafas lega ketika ada pemilik perusahaan bersedia kerjasama dergan syarat pakai nama Bakpia Soemodigdo.

(Foto: Gigin W Utomo)

Apalah arti sebuah nama, tanpa pikir panjang, mereka setuju dengan nama Bakpia Soemodigdo tersebut. Hanya berbekal saling percaya, tanpa kontrak perjanjian yang  seharusnya, berdirilah Bakpia Soemodigdo yang berlokasi di Jl. Ireda dekat Purawisata.

Di tangan Ariyanto dkk, Bakpia Soemodigdo pada awalnya mengalamai perkembangan yang bagus dengan banyaknya mitra bisnis tour & travel yang bisa dirangkul. Namun, pada tahun ketiga ada keanehan yang terjadi, karena kian hari jumlah stok produk oleh-oleh yang dijual selain bapkia hilang di rak-rak counter. Ternyata banyak pemasoknya  yang tidak kirim barang karena banyak tunggakan. “Kami diboikot supplier,” ungkap Ariyanto.

Karena kondisi perusahaan yang makin mengenaskan, Ariyanto dan kawannya mencoba komunikasi dengan investor. Mereka ingin membuka akses pembukuan untuk melihat catatan keuangan. Tapi apa yang diharapkan ternyata bertepuk sebelah tangan. Pihak investor tidak mau buka-bukaan. Mereka pun harus sayonara, berpisah dengan kegetiran. “Kami harus membayar supplier  yang nilainya mencapai miliaran rupiah,” ujar Ariyanto.

Karena nama Soemodigdo dibawa pemiliknya, Ariyanto dkk. harus membuat mereka baru. Dan ketemulah nama Bapkia Jogkem, yang ternyata menjadi berkah. Karena dengan nama itu, Ariyanto CS bisa bangkit lagi. Mereka sudah bisa menutup hutang satu miliar rupiah, dan tentu saja sudah bisa menikmati hasil jerih payah mereka.

Bukan sekadar menikmati hasilnya saja, mereka juga sudah leluasa berinvestasi membuka cabang baru. Yang sudah berjalan adalah Resto Jamur Jawon, serta membuka outlet Ba[pkia Jogkem di Langesanstran dan Mangkuyudan. “Dalam bulan ini, kami akan membuka Rest Area di Jalan Wates,” ia menjelaskan.

Belajar dari pengalaman di atas, Ariyanto CS sepakat untuk mengelola secara tranparan. Mereka berempat berbagi tugas sesuai keahlian masing-masing. Ariyanto menangangi  kerjasama dengan mitra. Sementara, tiga temannya yang lain, Purwo dipercaya memegang Pusat oleh-oleh Jogkem Gedongkuning, Satriya nangani administrasi manajemen, sedangkan Ferdi pegang Bakpia Jogkem yang di Purawisata. “Prinsip kami kerjasama itu ada tiga hal, yakni bagi hasil, bagi tanggungjawab dan transparansi. Sekarang, kami berempat bisa buka akses keuangan,” ungkap pria yang akrab disapa Ari ini lagi.

Saat ini, Bakpia Jogkem memiliki  outlet terbesarnya  di kawasan Jl Gedongkuning, Yogyakarta. Di hari libur, suasana toko oleh-oleh ini seperti  terminal bus. Bus-bus yang pada umumnya dari luar Jogja membawa rombongan wisatawan hilir mudik keluar masuk. “Bila pas liburan rata-rata jumlah pengunjung  bisa 100-150 bus” kata Ariyanto.

Selain di Gedong Kuning, Bapkia Jogkem juga punya outlet di tengah kota Yogyakarta,  tepatnya di utara Purawisata. Demi memenuhi permintaan konsumen, dalam waktu dekat akan segera dibuka dua outlet baru di kawasan kraton Jogja dan di Jalan Mangkuyudan.  “Yang di tengah kota untuk melayani konsumen pribadi, becak, andong, taksi, serta penjualan online” tambah Ariyanto yang asli kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur ini.  

Dalam menjalankan bisnis kuliner dan oleh-oleh, Ariyanto memang memilih menjalin kemitraan dengan para  pengelola biro perjalanan dan  bus pariwisata. Alasannya ternyata simple, yakni jaminan konsumen yang sudah pasti. “Hari ini ada berapa tamu pengunjung, kami sudah bisa prediksi karena ada informasi dari rekanan,” lanjut Alumni Akademi Pariwisata Yogyakarta ini,

Selama ini, Ariyanto memang fokus melayani kebutuhan makan dan oleh-oleh  untuk  rombongan wisatawan yang  masuk ke DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan sekitarnya. Untuk keperluan makan, dilayani di Resto Jamur Jawon yang berlokasi di Jalan Jogja Wonosari. Sementara untuk kebutuhan buah tangan yang dibawa pulang wisatawan, dipusatkan di Bakpia Jogkem. Saat ini, Ariyanto mengaku sudah menjalin kerjasama dengan ratusan bus pariwisata dan travel berau dari berbagai kota diseluruh wilayah Jawa dan Bali. Sistem kerjasamanya, tentu saja saling menguntungkan kedua belah pihak. “Kami anggap pengelola pariwisata adalah mitra marketing, mereka yang bawa konsumen, kami yang menyediakan kebutuhan makan dan oleh oleh pelanggan mereka,” ujarnya.

Menurut Ariyanto, kerjasama semacam itu, sudah bukan rahasia lagi dalam bisnis oleh-oleh. “Prinsipnya saling menguntungkan. “Kami untung yang bawa pelanggan juga untung,” ia menegaskan. Namun demikian, tidak semua yang menjalankan konsep bisnis seperti itu bisa meraih kesuksesan. Ada beberapa pengusaha yang terjungkal terjungkal di tengah jalan, walaupun sempat terkenal dengan jumlah outlet besar yang tersebar di beberapa sudut kota yang  strategis..

Ada rahasia yang disampaikan Ariyanto di balik bisnisnya yang tetap eksis walau dihantam badai pandemi Covid 19. Kuncinya ada pada hubungan yang baik dengan mitra bisnis. Ia menempatkan posisi mitra semata-semata bukan karena faktor bisnis semata, tapi bagaimana bisa terjalin hubungan yang makin akrab seperti hubungan kekeluarga.

Salah satu yang dilakukan Ariyanto adalah selalu hadir dalam setiap kegiatan organisasi mitra bisnisnya. Bila ada permintaan donasi untuk kegiatan organisasi, Bapkia Jogkem dipastikan akan mendukungnya. “Kami sering mngadakan gathering bersama pelaku usaha biro perjalanan wisata di berbagai kota,” paparnya.

Satu hal lain yang membuat mitra bisnis merasa nyaman bekerjasama dengan Bakpia Jogkem adalah dalam hal transparansi manajemen. Selama ini, pihak tour leader yang membawa rombongan. “Begitu transaski selesai, hak mereka langsung kami berikan,” ujar Ariyanto.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)