Kisah Nurul Pelopori Kewirausahaan Nanoteknologi

Nurul Taufiqu Rochman, ilmuwan nanoteknologi dan pendiri perusahaan PT Nanotech Inovasi Indonesia, ekspansi ke bisnis properti. Nana Properti, demikian nama perusahaan, sedang menggarap area residensial di Serpong dan Serang, Banten.

Perusahaan anyar ini bakal melengkapi empat unit perusahaan yang sebelumnya sudah didirikan Nurul. Perusahaan tersebut adalah PT Nanotech Herbal Indonesia  yang memproduksi bahan baku nano herbal, PT Langgar Nanotech Indonesia (mineral dan energi), PT Sinergi Nanotech Indonesia (analisa risiko), dan CV Transfer Inovasi (teknologi informasi dan pendidikan). Perusahaan ini didirikan Nurul bersama rekan-rekannya selama rentang tahun 2009-2015.

Nanotech Herbal, misalnya, didirikan pada 2013. Nurul mendirikan perusahaan ini untuk mengembangkan nanoteknologi yang menghasilkan berbagai produk. “Nanotech Herbal memproduksi bahan baku organik yang dikembangkan dari nanoteknologi. Hanya segelintir perusahaan di dunia yang bisa membuat produk ini,” ucap Nurul saat dijumpai di sela-sela Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2016 di Jakarta, Jum’at (19/8/2016).

Produknya, menurut Nurul, diserap sejumlah perusahaan jamu dan farmasi ternama di Indonesia. Potensi pasar di sektor ini sangat besar lantaran perusahaan jamu dan farmasi sangat tergantung dengan bahan baku tersebut. Selama ini, bahan baku diimpor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Harga produk Nanotech Herbal lebih murah, atau selisih 50% dari harga bahan baku impor. “Harga dan kualitas Nanotech Herbal meningkatkan daya saing kami dalam berkompetisi dengan produk impor,” ungkap Nurul.

Umumnya, biaya bahan baku sekitar 40-70% dari jumlah total biaya operasional perusahaan jamu dan farmasi. Nah, harga produknya yang lebih rendah itu memangkas biaya operasional pengguna produknya tersebut.  Nurul menyebutkan produk Nanotech Herbal lebih banyak dibeli korporat. Produknya itu diproduksi di pabrik Nanotech Herbal di tiga lokasi, antara lain Narogong, Bekasi, Jawa Barat dan Serpong.

Selama 2,5 tahun beroperasi, laju bisnis perusahaan tersebut melaju mulus. Aset perusahaan pun terdongkrak. “Naik lebih dua kali lipat. Aset Nanotech Herbal  di tahun 2013 masih sekitar Rp 1 miliar. Sedangkan, aset di akhir tahun lalu mencapai Rp 3,5 miliar,” jelas Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia. Peningkatan aset perusahaan merupakan bukti kejelian Nurul mengaplikasikan nanoteknologi di ladang bisnis. Dia merambah lahan bisnis lainnya.

Contohnya, Nurul bersama koleganya mendirikan Langgar Nanotech di tahun 2015. Perusahaan ini memproduksi pigmen cat yang dibanderol sebesar US$ 1  per kilogram. Harga itu lebih rendah daripada pigmen cat impor sebesar US$ 3. “Sebagian besar pigmen cat diimpor. Jadi, produk kami tidak kalah bersaing dari segi harga dan kualitas,” tuturnya.

Nurul tak hanya produktif melahirkan berbagai macam produk nanoteknologi. Dia juga sangat giat menularkan ilmu nanoteknologi dan dampak bisnisnya ke masyarakat. Karena itu, dia menggalakkan penyebaran ilmu nanoteknologi ke masyarakat melalui medium internet. Ia rutin menggelar kuliah online. Pesertanya adalah mahasiswa di seantero dunia. “Pesertanya dari Asia, Amerika hingga Eropa. Kuliah online digarap oleh Transfer Inovasi bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia di luar negeri dan lembaga lainnya,” uja pria berkacamata ini.

Nurul Taufiqu Rochman, ilmuwan nanoteknologi yang mengembangkan perusahaan dan bisnis nanoteknologi di Indonesia. (Foto : Vicky Rachman/SWA). Nurul Taufiqu Rochman, ilmuwan nanoteknologi yang mengembangkan perusahaan dan bisnis nanoteknologi di Indonesia. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Lebih lanjut Nurul menuturkan, perusahaan mengembangkan diverisifikasi bisnis dengan menggarap sektor non-nanoteknologi. Sebut saja Sinergi Nanotech yang menggarap analisa risiko. “Klien Sinergi Nanotech adalah perusahaan listrik, namanya PT Indonesia Power,” sebutnya.

Sinergi Nanotech beroperasi sejak tahun lalu. Dia menyebutkan profesi nanoteknologi ini sangat prospektif. Akan tetapi, si ilmuwan, Nurul menyarankan, sebaiknya mengaplikasikan ilmu nanoteknologi untuk menghasilkan produk yang hasilnya bisa digunakan masyarakat. Untuk itu, ia mendirikan Yayasan Nano Center sejak tahun 2008. Yayasan ini memberikan beasiswa bagi mahasiswa untuk mendalami nanoteknologi. “Setelah lulus, mereka ditempatkan di unit bisnis Nanotech Inovasi Indonesia,” tandasnya.

Para alumnus ditunjuk sebagai direktur perusahaan atau diberi saham di unit bisnis yang baru didirikan. “Mereka diberi saham, misalnya sebanyak 10%, kemudian Yayasan Nano Center 10% dan seterusnya hingga genap 50%. Lalu, saham yang tersisa kami tawarkan ke investor,” ucapnya. Cara seperti itu merupakan upaya Nurul untuk menggelorakan semangat kewirausahaan sekaligus menjembatani dunia akademik dengan industri.

“Jumlah alumnusnya sebanyak 45-an orang. Mereka tersebar-sebar di perusahaan kami atau menempati posisi di perusahaan yang sedang kami didirikan seperti Nano Properti,” paparnya. Bagi Nurul, perusahaan itu merupakan perusahaan rintisasn (start up). Target ke depannya, Nurul berencana mendirikan 10 perusahaan start up nanoteknologi atau sektor bisnis lainnya.

Saat ini, Nurul tercatat sebagai PNS eselon II yang menjabat Kepala Pusat Inovasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebelumnya, Nurul bekerja di Jepang selama empat tahun sejak tahun 2000-2004. Dia kembali ke Tanah Air pada 2004. Di tahun 2011, dia merampungkan kuliah doktoral bidang Manajemen Bisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengombinasikan ilmu bisnis dan nano teknologi. Sekitar tahun 2009, Nurul mendirikan entitas bisnis yang berbendera CV Nanotech Indonesia. Nah, perusahaan ini menjadi cikal bakal PT Nanotech Inovasi Indonesia. (*)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)