Konsep Out of The Box Melambungkan Bandar Djakarta

Kesuksesan Bandar Djakarta sebagai restoran seafood dengan suasana tepi pantai banyak diikuti oleh pengusaha lain yang menawarkan konsep hampir sama. Namun, tidak sedikit dari para plagiat yang justru merugi karena sepinya pelanggan. Apa kiat sukses Bandar Djakarta? Berikut petikan wawancara Ario Fajar dengan Wendy Santoso, salah satu pendiri Bandar Djakarta.

Bandar Djakarta cukup sukses menjadi ikon resto di Jakarta. Apa kiat untuk mencapai itu?

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai bisnis. Pertama, harus memiliki mental dan keyakinan. Mental berupa keseriusan dan konsistensi dalam menjalankan bisnis. Kedua, punya pengetahuan yang mumpuni di bisnis itu. Terakhir, adalah soal sistem yang jelas, berupa visi dan misi, konsep bisnis, positioning produk, dan pengelolaan. Yang lebih penting dari itu adalah berkonsep dan berfikir “out of the box”

Bagaimana contohnya?

Dulu banyak orang yang menertawakan ide kami untuk mendirikan restoran di dalam Ancol. Selain banyak tiket masuk, konsep yang kami buat dianggap tidak komersial. Banyak orang yang pesimistis dengan konsep ini. Ibaratnya, mana mau orang bayar berkali-kali hanya untuk datang ke Bandar Djakarta. Walau menuai banyak kritikan, kami tidak putus asa. Kami nekad membangun restoran ini dengan konsep awal. Kami melakukan hal itu karena kami tahu belum ada restoran yang berkonsep seperti Bandar Djakarta.

Bisnis Bandar Djakart sudah besar, apa yang harus diperkuat?

Mental. Banyak pengusaha apalagi pengusaha kuliner yang tumbang karena tidak memiliki mental yang kuat. Dengan adanya mental, kita akan terdorong untuk terus belajar demi kemajuan bisnis. Misalnya saya dan rekan, selalu belajar dari situasi seperti keluhan pelanggan dan kurangnya sarana. Dari situlah kami belajar dan memperbaiki layanan. Jika seseorang bermental tempe, keluhan akan membuat dia enggan melanjutkan bisnis. Ujung-ujungnya, bisnis tersebut akan jalan ditempat dan bahkan bisa gulung tikar

 Adakah masa krusial dalam mengembangan bisnis?

 Tentu ada. Misalnya saat bisnis yang kita kelola sudah tumbuh, apalagi tumbuhnya dengan cepat, jauh dari ekpektasi kita. Contoh, waktu itu kami tidak mengira bahwa Bandar Djakarta akan booming seperti sekarang. Banyak orang yang datang ke tempat kami, tetapi kecewa karena tidak mendapatkan tempat duduk. Walhasil, kami sedikit kebakaran jenggot mencari solusinya. Tapi dengan mental dan kesiapan manajemen, masalah itu bisa teratasi.

Bandar Djakarta dibangun dari beberapa inisiator, bagaimana Anda menyatukan visi dan misi?

Itu memang lebih sulit karena harus menyatukan beberapa ide agar satu visi. Jika kita keukeuh dengan pendapat masing-masing, maka bisnis tidak akan berjalan. Cara yang baik adalah toleransi dan saling mengisi kekurangan. Ide sebelum dieksekusi harus di-challenge terlebih dahulu. Membuat struktur kepengurusan juga hal penting, agar tidak terjadi masalah ke depannya

Bagaimana membuat bisnis agar berkelanjutan?

Punya perencaan yang matang. Mulai dari pengelolaan SDM, keuangan, dan operasional. Perlu ada evaluasi agar bisa meningkatkan nilai perusahaan. (Ario Fajar/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)