Kunci Sukses Helianti Hilman Lambungkan Javara

Gagal bukan berarti kalah untuk Helianti Hilman, CEO & Founder Javara Indonesia. Pada awal merintis usahanya, produk pangan organik, ia menampung berbagai varian beras lokal yang namanya sudah asing terdengar saat ini, seperti Menthik Susu, Cempo Merah, Jenggot Netep, Wangi Menyan dan Andel Abang. Mantan konsultan pertanian ini mengemas menarik produk langka itu dengan berat antara 400 gram dan 5 kg. Sesuai dengan ongkos produksinya yang tinggi karena kelangkaannya, produknya dibanderol dengan harga 2-3 kali lipat dari harga beras massal lainnya.

Dengan mencantumkan pada kemasan produknya berupa kisah proses pembuatan produknya yang sehat, alami dan diproduksi oleh komunitas petani dari daerah terpencil, Helianti pede memasarkan produknya ke dalam negeri. Ia yakin, kalangan menengah-atas di Indonesia tertarik dengan produk yang alami dan sehat. Namun, keyakinannya salah. Ia bahkan sempat terlilit utang kartu kredit hingga Rp 300 juta. Tapi, Helianti tak patah arang. Sejak tahun 2011, target pasar diubah dari semula menyasar pasar domestik, kini fokus pada pasar ekspor.

Helianti Hilman, CEO & Founder Javara Indonesia Helianti Hilman, CEO & Founder Javara Indonesia

Lulusan master ilmu hukum jurusan Intellectual Property Right dari Kings College, London, Inggris, ini juga giat mengikuti aneka pameran produk organik di mancanegara seperti Biofach, SIAL Paris, dan SIAL Kanada. Penjualannya pun berbalik, dari 80% lokal, menjadi 80% ekspor dengan tujuan utama ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Italia, Jerman, dan negara Eropa lainnya, hingga sekarang. Adapun di dalam negeri, produknya yang diberi merek Javara bisa diperoleh di supermarket kelas atas seperti Ranch Market dan Kem Chicks. Tak lupa, Ia kerap mengajak 1-3 orang petani berpameran ke luar negeri. “Dengan melihat produknya dipajang di supermarket luar negeri, saya mau mereka merasa bangga dengan produk dan profesi mereka sehingga nanti ada penerusnya,” kata Helianti.

Kini, varian produk Javara kian bertambah, mencakup kacang hijau, aneka rempah, madu, garam, gula aren, kacang mete, virgin coconut oil, dan sebagainya. Total, kini ada 640 varian produk yang diproduksinya dengan bantuan 50 ribu mitra petani saat ini. Puluhan ribu petani itu tentu tak mungkin dibina oleh Javara yang hanya berawak 40 karyawan. Karena itu, Javara membina 100 mitra perusahaan pengolah produk di daerah yang mengawasi kualitas tanaman petani dan hasil panennya, serta mengemasnya.

Dari dapur resep miliknya, Helianti menguji coba aneka menu baru yang bisa dihasilkan dari produk rempah Indonesia. Modifikasi resep dalam menggunakan bahan makanan Indonesia sangat penting agar produknya mudah diterima pasar luar negeri. Salah satu inovasinya, penggunaan kemiri dalam saus pesto yang kerap dikonsumsi masyarakat Italia. “Saat kami tunjukkan di pameran luar negeri rasa saus pesto pakai kemiri, langsung ordernya kontaineran. Kuncinya, inovasi dan pahami karakter pasar. Jangan pasarkan kemiri ke luar negeri untuk ayam goreng kemiri, mereka gak kenal. Yang penting, produknya diterima dulu untuk membuat produk makanan mereka,” katanya. (Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)