Mimpi Besar Unisat Mengorbitkan Satelit

Bisnis satelit di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan menarik. Ini ditandai dengan peluncuran satelit BRIsat pada 2016, kemudian satelit T3S yang meluncur Februari 2017. Bahkan, saat ini ada dua satelit Indonesia yang sedang dalam proses pabrikasi, yaitu satelit PSN-VI dan satelit Telkom-4.

Kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan memang sangat cocok dihubungkan melalui satelit yang memiliki jangkauan sangat luas dan tak kenal medan. “Indonesia pun saat ini menjadi pusat perhatian para operator satelit global karena dianggap sebagai the hottest market untuk pasar transponder satelit,” tutur Dani Indra Widjanarko, Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), kepada SWA.

Widodo Mardijono Widodo Mardijono (kiri), salah satu pendiri Unisat

Peluang itu telah lama disadari Widodo Mardijono, profesional yang telah tiga dekade menggeluti industri satelit Indonesia. Bersama tiga rekannya –Arifin Nugroho, Irvan Nugraha dan Haryanto Sie– dia mendirikan PT Universal Satelit Indonesia (Unisat) pada 12 Januari 2016. Perusahaan satelit ini memberikan layanan transponder untuk kebutuhan telekomunikasi, broadcasting dan komunikasi data, serta layanan sektor lain seperti perikanan, transportasi, tambang dan kehutanan. “Perusahaan ini didirikan atas dasar idealisme dan ada unsur bisnis. Idealisme ini berangkat dari kami yang telah bekerja di industri ini lebih dari 35 tahun,” ungkap Widodo kepada SWA di kantornya, Wisma Aldiron, Jalan Gatot Subroto Kav. 72, Jakarta Selatan.

Rencana besarnya, pada 2020, Unisat meluncurkan satelitnya sendiri. Widodo pun bergerak cepat untuk mewujudkan impiannya itu. Salah satunya, menggandeng Intersputnik, perusahaan satelit terintegrasi yang berbasis di Moskow, Rusia. Pada 28 Februari 2017, Unisat dan Intersputnik resmi menandatangani perjanjian kerja sama. Hadir dalam acara penandatanganan itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin.

Kerja sama itu memungkinkan Unisat menggunakan slot orbit milik Intersputnik yang berada di titik 103 derajat Bujur Timur. Posisi tersebut berada di atas wilayah Sumatera Selatan dan Sumatera Barat, tepatnya di area Padang dan Jambi. Kehadiran satelit ini akan memberikan kapasitas high troughpout satelite (HTS) yang mampu memberikan layanan internet broadband dengan kecepatan yang memadai.

Manuver jitu, memang. Pasalnya, menurut Rudiantara kepada media massa usai acara penandatanganan, jika menempuh cara konvensional dengan mengupayakan memiliki slot sendiri, bisa makan waktu hingga 10 tahun. Dengan menggandeng Intersputnik, Unisat hanya perlu waktu setahun sejak pendirian perusahan untuk bisa “memiliki” slot orbitnya. “Pak Rudiantara sangat mendukung bisnis satelit ini, sehingga pada akhir 2016 kami sudah mampu mendapatkan pelanggan VSAT,” ujar Widodo.

Rekam jejak Widodo di bidang satelit memang solid. Dia menempuh S-1 Teknik Elektro di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, dilanjutkan di Jurusan Satellite Communication Engineering, University of Califonia Los Angeles, AS, pada 1991. Lalu, 30 tahun lebih kariernya ditempuh di Telkom Indonesia, Satelit Palapa Indonesia dan Indosat. Seluruh bidang pekerjaannya bersentuhan dengan satelit, baik di lini teknis, pemasaran/penjualan, maupun pengembangan bisnis dan produk.

Jalur kewirausahaan mulai ditempuhnya pada 2011 bersama beberapa rekanya dengan membesut perusahaan TV satelit berbayar Sky Cable. Pada 2014, dia bergabung dengan BRI sebagai konsultan untuk persiapan peluncuran BRISat pada 17 Juni 2016 dari Kourou, AS.

Widodo dkk. memandang, tiba saatnya peran swasta murni ditingkatkan di industri satelit Indonesia. Peluang yang terbuka pun sudah cukup matang untuk digarap. Keyakinannya kian mantap karena proses membuat lisensi untuk jaringan tetap tertutup demi melayani jasa satelit ternyata sangat mudah. Ditambah lagi, permintaan jasa satelit di Indonesia baru bisa dipenuhi separuhnya. Apalagi, visi dan misi pemerintah saat ini akan lebih meningkatkan pembangunan di daerah 3T (terpencil, terluar dan tertinggal). “Artinya, kebutuhan komunikasi melalui satelit akan meningkat karena geografis Indonesia yang sulit dilayani oleh konsep wireline atau terrestrial,” Widodo menjelaskan.

Rencana pengadaan satelit Unisat dimulai September tahun ini. Unisat akan mencari pabrikan satelit yang memiliki total cost of ownership terendah. “Selanjutnya, kami akan segera memiliki satelit pada 2020 dengan teknologi HTS pertama di Indonesia. Konsep kami dalam mendapatkan satelit ini akan berkontribusi dalam alih teknologi satelit dari luar negeri ke dalam negeri,” paparnya.

Biaya untuk mengorbitkan satelit Unisat diperkirakan US$ 250 juta- 350 juta. Widodo memprediksi investasi tersebut akan kembali modal dalam tempo enam tahun. “Ini modal sendiri dan pembiayaan dari lembaga keuangan. Saat ini sedang dalam proses due dilligence,” ungkapnya.

Widodo optimistis terhadap rencananya karena saat ini sudah dua perusahaan yang meneken kontrak untuk menggunakan layanan Unisat. Tiga perusahaan lain segera menyusul. “Kami juga akan bekerja sama dengan existing operator satelit yang ada di Indonesia. Dari kontrak hingga peluncuran bisa makan waktu 2-3 tahun,” ujarnya.

Dia memaparkan, pelanggan satelit di Indonesia sangat sensitif terhadap harga. Namun, apabila pelanggan dapat diyakinkan perihal layanan yang terbaik, mereka tidak akan segan untuk loyal menggunakannya. “Sehingga, jika kami bisa memberikan harga dan layanan yang prima, kami akan mendapatkan market share yang baik. Selain itu, stakeholder, khususnya dari sisi penyelenggara, harus memiliki SDM yang dapat diandalkan serta menguasai teknologi dan pengoperasian,” kata Widodo.

Dani Indra Widjanarko memaparkan, Unisat sebagai perusahaan satelit baru harus segera berlari mengejar pendahulunya dalam penyediaan transponder. Bahkan, Unisat harus tumbuh menjadi perusahaan yang dapat meluncurkan dan mengoperasikan satelitnya sendiri. “Jadi, tidak terjebak sekadar menjadi broker barang dagangan operator satelit asing. Unisat harus dapat menyakinkan investor, sehingga bisa tumbuh menjadi operator satelit besar,” Dani menegaskan.

Lebih lanjut Dani memaparkan, hal terpenting yang harus dilakukan adalah sinergi antaroperator-domestik di Indonesia. “ASSI sangat-sangat mendukung adanya konsolidasi operator satelit domestik, paling tidak saling bekerja sama, karena pesaing sebenarnya adalah para pemain asing atau global. Untuk lokasi peluncuran satelit di Indonesia, memang perlu keseriusan dan dukungan pemerintah, khususnya masalah permodalan dan regulasi,” katanya tandas.(Riset: Elsi Anismar)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)