Misi Sosial Novi Imelly

Masa kecil bahagia, muda kaya-raya, dan mati masuk surga. Siapa yang tidak senang dengan tahapan kehidupan sempurna seperti ini. Setelah lama merenda bisnis, banyak pengusaha yang telah mapan mulai tertarik mengembangkan kewirausahaan sosial (Social Entrepreneurship). Salah satunya adalah Novi Imelly, Direktur Utama PT Grha Kirana Development. Ibu tiga orang anak ini sudah 21 tahun malang-melintang di industri properti. Berbagai posisi penting pernah dipegang alumnus Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Novi mulai meniti karier di industri properti sejak tahun 1994 silam. Ia sudah menjadi direksi pada tahun 2002, di usia yang terbilang muda, 32 tahun. Selama 13 tahun terakhir, ia sudah merasakan kursi empuk direksi di tiga perusahaan berbeda.

“Selepas lulus kuliah, saya merintis karier di Bumi Serpong Damai selama 5 tahun, lalu pindah ke Lippo Karawaci sekitar 5 tahun juga. Selama 5 tahun berikutnya, saya bergabung dengan Modernland. Saya melihat posisi perusahaan sudah mulai establish. Awal saya masuk, penjualan perusahaan kurang dari Rp 100 miliar. Dalam waktu 4-5 tahun kemudian, penjualan meningkat sampai Rp 450 miliar,” katanya.

Novi Imelly, Direktur Utama PT Grha Kirana Development

Tepatnya, tujuh tahun lalu, Novi memutuskan hijrah ke Cowell Development Tbk. Ia telah merasakan seluruh level jabatan di sana, mulai dari Marketing and Business Development, merangkap Operational Director, lalu Chief Operating Officer, kemudian Managing Director, dan terakhir President Director. Saat di posisi tersebut, ia merasa sudah saatnya untuk berhenti dan memulai bisnis sendiri. “Kebetulan, suami saya juga sudah mulai merintis usaha sendiri pada tahun 2007. Saya berpikir sudah 21 tahun menghabiskan waktu di perusahaan-perusahaan besar. Saatnya resign,” ujarnya.

Kemudian, Novi mendirikan PT Grha Kirana Development. Saat ini, ia tengah menggarap dua proyek. Pertama, proyek di Serpong, Kirana Residence seluas 5.000 m2. Sudah ada 44 unit rumah yang mulai terjual. Proyek kedua di kampung halamannya, Kota Medan. Ia mengakui itu adalah proyek idealis dirinya. Selama kariernya, baru kali ini dia bisa menemukan kebahagiaan membangun proyek berisikan rumah bertipe sangat sederhana (RSS). Ia turut merasakan kebahagiaan konsumen mendapatkan rumah pertamanya dengan susah-payah, menjual motor, membayar uang muka (DP), hingga berjibaku keluar dari rumah kontrakan dan tinggal di rumah sendiri meski tidak besar.

“Saya tidak bisa melakukan itu saat saya masih profesional karena punya tanggung jawab untuk memenuhi target-target perusahaan. Selama karier, saya banyak menangani proyek properti kelas menengah ke atas. Kalau di perusahaan sendiri, saya bisa mengembangkan social entrepreneurship. Kita tetap berbisnis dan mengambil keuntungan tapi pada batas toleransi yang cukup. Tujuan utamanya, saya ingin menyediakan perumahan yang terjangkau bagi mereka yang selama ini terkendala pada mahalnya harga dan ketiadaan rumah jenis tersebut,” katanya. (Reportase: Destiwati Sitanggang)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)