Muljadi Pinneng Sulungbudi: Profesional Langka Dunia Bawah Laut

Menyelam dan mengambil foto. Itulah profesi Muljadi Pinneng Sulungbudi. Lulusan S-1 Teknik Elektro Universitas Maranatha Bandung dan S-2 Teknik Industri ITB ini memang populer sebagai professional underwater photographer and videographer. Dari tangannya lahir foto-foto keindahan bawah laut Indonesia. “Keindahan bawah laut itu tidaklah lengkap jika hanya dinikmati sendiri. Saya ingin orang lain tahu juga keindahan bawah laut. Bukan ingin menyombongkan diri, tapi saya ingin orang-orang juga kagum dan menghargai dalam laut negeri kita,” papar Pinneng, panggilan akrab kelahiran Bandung, 24 Mei 1971 ini.

Pinneng mulai dikenal keahliannya tahun 2003. Saat itu melalui jejaring dunia maya Multiply – media sosial yang tutup pada 2013 – ia menyebarkan hasil jepretannya. Dunia maya itulah yang membuatnya dikenal banyak orang sebagai penyelam sekaligus fotografer. Saat ini media sosial tetap menjadi pilihannya untuk berbagi semua kegiatannya di bawah laut, mulai dari Instagram, Twitter, Facebook, YouTube, Tumblr, TripAdvisor App, Pinterest, LinkedIn, Flickr hingga tentu saja blog-nya, Pinneng Photography, dengan alamat Pinneng.me. Majalah DiveMag juga menjadi media yang membuatnya dikenal luas.

Muljadi Pinneng Sulungbudi, fotografer dan videografer alam bawah laut Muljadi Pinneng Sulungbudi, fotografer dan videografer alam bawah laut. (Foto: dok. pribadi)

Pinneng bisa dibilang satu-satunya orang Indonesia yang berani memproklamasikan diri sebagai fotografer dan videografer bawah laut profesional. “Banyak fotografer dan videografer bagus, tapi belum ada yang berani mengklaim dirinya profesional khusus untuk bawah laut. Saya mengklaim, bukan karena ingin punya status profesional, tapi lebih karena tanggung jawab pada pekerjaan saya,” tuturnya.

Pinneng baru berani memproklamasikan diri sebagai profesional di bidang ini sejak tiga tahun lalu, meskipun perkenalannya dengan dunia bawah laut dimulai tahun 2003. Dan pada 2007 serius mengikuti kursus fotografi dan videografi bawah laut. “Saya perlu mengasah diri. Tidak banyak kursus semacam ini di Indonesia,” katanya. Teknik dan skill memotret di bawah laut, imbuhnya, makin terasah dengan makin seringnya dia mengambil gambar di bawah laut, serta belajar dan bertukar pengalaman dengan sesama teman.

Keberanian itu kian terpacu ketika dia menerima pengakuan dan penghargaan internasional. Antara lain, Wakatobi U/W Photographic Competition, Wakatobi, Indonesia: 1st Macro Category (2007); The Blue Earth UW Photo Contest, Japan: Honorable Mention Macro Category; Raja Ampat U/W Photographic Competition, Raja Ampat, Indonesia: 2nd Wide Angle Category; Scuba Diving Magazine Photo Contest, USA: Grand Prize Winner (2008); DEEP Indonesia International Underwater Photo Competition, Indonesia: Honorable Mention Animal Portrait Category; FINS Magazine group: Photo of the Month May 2009; The Blue Earth UW Photo Contest, Japan: Honorable Mention Macro Category; Underwater Images Competition-USA: 3rd Conservation Category; Scuba Diver Australasia 2009 Manado Shootout: Winner Portfolio, 2nd Wide Angle Category and 1st Macro Category.

Ketertarikan Pinneng pada dunia bawah laut dimulai pada akhir 1998, saat ia memutuskan kembali ke Kupang untuk meneruskan bisnis keluarga. Sebelumnya, ia sempat dua tahun berkarier di Astra. Di kampung halamannya itu, ia belajar diving. “Saya mau orang juga tahu yang saya lihat waktu diving, saya gunakan kamera poket plus ‘rumahnya’ agar bisa dibawa menyelam,” ujar Pinneng yang sejak SMP memang suka memotret.

Seiring perjalanan waktu, ia mulai serius melihat-lihat hasil jepretan penyelam lain atau fotografer luar negeri yang memotret di bawah laut. Ia juga mengikuti lomba. Lomba pertama yang ia menangi adalah lomba yang digelar sebuah majalah Amerika. “Foto saya menjadi yang terbaik dari seluruh peserta, hadiahnya juga lumayan. Dari situ saya bisa beli kamera DSLR dengan housing untuk underwater serta lampu-lampu penunjangnya,” ia bercerita.

Muljadi Pinneng Sulungbudi Hasil jepretan Muljadi Pinneng

Keseriusan mendalami profesi bawah laut mengantarkannya bersama Nadine Candrawinata, Riyani Jangkaru dan Gemala mendirikan Dive Mag Indonesia, majalah khusus diving. Bersama Gemala, ia juga mengelola Wet Traveler, program traveling yang berhubungan dengan air (menyelam, surfing). Hanya saja masih terbatas di YouTube – acara ini disponsori Simpati Telkomsel yang secara eksklusif mengampanyekan slogan produknya, #GoDiscover.

Diakui Jowvy Kumala, Manajer Komunikasi Korporat Kanal Media Internal Telkomsel, Simpati hingga sekarang masih menjadi sponsor utama acara tersebut. “Saya pikir Wet Traveler itu sesuai dengan slogan #GoDiscover, yaitu orang-orang pecicilan jalan-jalan dan terutama di air,” ujarnya. Menurutnya, mereka memiliki konsep yang jelas, mereka datang ke pelosok daerah yang ada jaringan Telkomsel. “Sekalian promosi toh, tapi yang sebenarnya ingin kami sampaikan adalah mereka suka traveling, dan melalui traveling kami bisa mengeksplor banyak hal,” paparnya.

Menurut Jowvy yang juga Instruktur Diving Padi, Pinneng mewakili anak muda yang berani mengeksplor dan bagaimana memanfaatkan hidup. “Sebagai profesional, saya melihat Pinneng sangat pro. Dia sangat suka sharing. Dengan makin banyak share, dia bisa memunculkan Pinneng-Pinneng baru,” imbuhnya. Dari situ juga bisa disampaikan bahwa hobi seperti yang dia tekuni sebenarnya bisa menghasilkan uang yang cukup bagus. Selama ini, orang menggunakan kamera dan menyelam hanya untuk fun. Padahal, kalau mau serius, bisa dijadikan income tambahan. “Pinneng sangat sadar akan kelebihan ini. Dia bisa merekam dengan baik di bawah laut, bahkan menyampaikan edukasi keindahan laut kita.”

Dari profesinya itu, Pinneng mengaku mendapatkan penghasilan yang lumayan. Apalagi saat ini belum banyak yang berprofesi seperti ini. “Bahwa saya bisa menghasilkan uang dari foto yang saya dapat, tidak. Tapi saya dapat pekerjaan akibat itu, banyak,” ungkap ayah tiga anak ini. Ia mencontohkan, beberapa daerah memintanya untuk membuat koleksi foto potensi wisata bawah laut, resor, pembuatan film dan video. Menurutnya, profesi ini menjanjikan, tetapi tergantung sejauh mana mampu melebarkan sayapnya.

Apakah sekali pekerjaan fee-nya bisa sampai puluhan juta rupiah? “Bisa. Tapi, yang terpenting, dengan memasuki daerah baru, saya bisa berbagi informasi seperti apa resor yang oke, tempat menyelam yang asyik, dan sebagainya,” kata Pinneng yang kerap memberikan pelatihan fotografi dan videografi bawah laut untuk berbagai organisasi dan perusahaan.

Pinneng mengaku beruntung bisa mempelajari fotografi bawah laut secara bertahap. Mulai dari memotret untuk bersenang-senang, lalu memotret untuk kompetisi, memotret untuk majalah, memotret untuk eksplorasi dan memotret untuk profesional. Memotret untuk eksplorasi maksudnya adalah ketika suatu tempat mau dibuka, ia dipanggil untuk memotret dan memperlihatkan ke dunia, potensi apa saja di bawah laut di daerah baru itu yang menarik dieksplor. Biasanya, yang meminta adalah  pebisnis yang akan membuka usaha atau pemda yang ingin memunculkan potensi bawah laut di daerahnya. “Dengan pengalaman yang bertahap itu, saya beruntung karena memberikan pengalaman. Masing-masing tahapan mengasah skill dan kemampuan saya.”

Keindahan dunia bawah laut dan fotografi bawah laut juga diabadikannya dalam sebuah buku berbahasa Inggris yang dia beri judul Halia. Buku yang diterbitkan Afterhours Books itu baru diluncurkan di Frankfurt Book Festival belum lama ini. “Dalam buku itu saya menyampaikan, tidak ada fotografer yang jago sekali, semua sama, karena tekniknya itu-itu saja. Bedanya adalah ada orang-orang yang membuat kesempatan, terutama tentang foto underwater,” ungkapnya. Seperti dirinya, orang mengenal Pinneng sebagai fotografer bawah laut, ketika ia dikenal sebagai profesional, kemudian orang memberinya kesempatan untuk mengeksplor suatu tempat. “Ketika orang memberikan kesempatan mengeksplor tempat itu, otomatis saya sendiri mempunyai kesempatan buat memotret lebih bagus di tempat itu,” tuturnya.

Pengalaman tak terlupakan adalah ketika dia dan tim DiveMag diundang melihat Wheel Shark di Nabire, Papua. Waktu itu publik belum terlalu tahu tentang keberadaan salah satu hewan purba yang masih ada di sana. “Kalau mau ke sana biaya sangat mahal, satu orang saja butuh dana Rp 12 juta. Beruntung saya diundang. Saya yang motret pertama kali, orang Indonesia pertama,” kata pria yang mengantongi lisensi Dive Master ini. Saat itu dia diundang oleh sebuah resor  yang akan menjual program perjalanan ke sana.

Pinneng juga pernah diundang perusahaan tambang di Sumbawa. “Kalau orang biasa mau memotret di sana tidak bisa,” ujarnya. Ia juga rajin diundang pemda-pemda yang ingin wisata bawah lautnya dieksplor. “Menjadi orang pertama yang mengeksplor suatu tempat, saya rasa ini prestasi dan kebanggaan tersendiri,” ucapnya. Kunci sukses mengambil gambar di bawah laut, imbuhnya, adalah teknik diving-nya harus bagus dulu.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)