Bisnis Mebel Wong Ndeso Ini Menembus 9 Negara

“Saya itu orang desa, lulus kuliah nilai cum laude 2.75, sudah begitu saya tidak good looking, apa yang mau dibanggakan. Lha saya hidup lagi,” ujar Arifin seraya tertawa. Ia hanya menggunakan kemeja jins sederhana dipadukan celana denim belel dengan sepatu Converse hitam usang. Namun siapa sangka, pria berusa 35 tahun ini telah sukses dalam membangun bisnis furniture dengan bendera PT Sasana Antik.

Tak tanggung-tanggung, ia pun menyasar pasar internasional dan telah memiliki kantor perwakilan di Wina. Kini, ia pun sedang menikmati pertumbuhan bisnisnya, dengan memiliki satu pabrik di Rembang, Desa Krikilan dan 200 karyawan plus 30 unit mesin. Toh, ia enggan untuk mengumbar omset.”Mbaknya petugas pajak ya?” ujarnya berkelakar kepada tim SWA Online saat ditemui di kantornya.

2015_1010_09502300_resized

Meski begitu perjuangannya dalam berbisnis tak selalu mulus. Pertama kali terjun ke panggung bisnis tahun 2003, ia sempat merugi karena barang yang dikirimnya ke Belanda mengalami kerusakan seperti retak dan pecah. Kerusakan terjadi pada seluruh barang dalam satu kontainer dan membuat konsumennya marah besar hingga meminta potongan 50%.

Ia mengaku tak memiliki keahlian di bidang mebel, pada awalnya hanya belajar pada pengrajin lokal di Yogyakarta saat kuliah STIE YKPN. Tapi, para pengrajin tersebut tidak menggunakan proses oven dalam pembuatannya sehingga kayu menjadi lebih rapuh.

Berbisnis pun diakuinya hanya bermodalkan nekat, di mana ia melihat peluang saat temannya yang dari luar negri membutuhkan mebel dalam jumlah besar. Ia bersyukur saat konsumennya justru datang ke Indonesia dan mengajarinya membuat mebel. Meskipun memiliki banyak pesaing di industri furniture, ia tak takut.

Baginya, keunggulan kayu jati tak bisa dikalahkan dengan kayu jenis lain seperti kayu akasia yang menjadi unggulan Vietnam. Meski begitu, ia tak menampik bahwa harga menjadi salah satu pesaing utama. Menurut pria kelahiran desa Krikilan, Rembang ini, kayu akasia memiliki kualitas yang baik dengan harga murah. Meski begitu, mebel miliknya mendapat sambutan baik di pasar internasional, sehingga mampu mengekspor ke Belanda, Belgia, Perancis, Denmark, Austria, Swiss, Australia, Jepang dan Korea.

Ia sendiri menggunakan kayu jati recycle, di mana kayu daur ulang tersebut hanya dibentuk tanpa meninggalkan bekas atau cat dari bentuk sebelumnya. Tak heran bila produknya memiliki nilai karya seni yang tinggi. Dalam sebulan ia bisa memproduksi 2000-an produk seperti meja, kursi lemari, dll.

Agar pelanggan tidak bosan, ia pun selalu mengeluarkan desain baru setiap dua bulan sekali. Arifin  sengaja membentuk tim khusus yang berkutat di bidang desain sesuai selera konsumen. Umpamanya, konsumen Eropa  suka dengan model klasik dan minimalis seperti unfinished furniture.

Saat ditanya apakah ingin membuka toko, ia hanya tersenyum. Menurutnya ia ingin fokus pada pasar luar negeri, mengingat semua produknya adalah ekspor. "Kami hanya menjual lewat online dan pameran saja," tegasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)