Nienik Menyulap Limbah Jadi Bisnis Keripik Ikan

Nienik Rakhmawati Zauharoh

Aktivitas di pesisir pantai dan sekitarnya kerap menghasilkan limbah, misalnya ikan-ikan ukuran kecil dan cangkang kepiting. Biasanya, limbah tersebut sekadar dijadikan pakan ternak atau dikembalikan ke laut oleh nelayan.

Namun, seorang ibu rumah tangga bernama Nienik Rakhmawati Zauharoh (41 tahun) melihat hal ini sebagai peluang usaha. Berawal dari tekanan kondisi keuangan yang sulit, Nienik mencetuskan ide untuk menghasilkan produk dari limbah yang tidak terpakai. Awalnya ia mengolah beras pakan ayam menjadi keripik. Ia memasarkan produk pertamanya tersebut ke warung-warung dan mendapatkan respons positif dari pasar. Tapi, ia kesulitan untuk mendapatkan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) serta kesulitan dalam proses penjemuran. Akhirnya, ia pun mencari alternatif produk lain.

Kendala tersebut malah menjadi jalan Nienik untuk menemukan ide baru. Saat berjalan-jalan di pesisir pantai Bontang, ia memperhatikan ada banyak ikan bawis ukuran kecil (5-10 cm) yang hanya dijadikan makanan ikan oleh nelayan. Padahal, ikan bawis berukuran besar (10-23 cm) dihargai Rp30-60 ribu per kilogram. Ikan bawis selama ini memang sudah dimanfaatkan sebagai bahan masakan siap saji gami bawis, tetapi belum ada yang membuatnya menjadi keripik.

Mengingat potensi ikan bawis yang merupakan pangan khas Bontang, Nienik mencoba mengolah ikan bawis kecil menjadi keripik yang bisa dijadikan lauk ataupun cemilan. Ia membeli bahannya dari nelayan. “Awalnya nelayan mau memberi saya ikan secara gratis, tapi akhirnya saya kasih harga Rp2 ribu per kilogram. Sekarang, harganya sudah jadi Rp15 ribu per kilogram,” ujar Nienik.

Nienik mengemas keripik miliknya dengan label Saputra Snack. Ia pasarkan produk tersebut di toko oleh-oleh Bontang. Saat ini, produk Nienik sudah dijual di Bontang, Samarinda, dan Balikpapan. Ia juga memasarkannya lewat media sosial. Bahkan, kini Saputra Snack sudah dipesan untuk menjadi bekal haji dan umroh.

Setiap bulan, Nienik memproduksi 900 bungkus keripik dan dihargai Rp15 ribu per bungkusnya. “Sekarang penjualan kami sudah mencapai Rp15 juta per bulan,” tuturnya.

Saputra Snack kini telah mendapat izin PIRT, sertifikat halal, serta sertifikat kelayakan pengolahan (SKP). Produknya juga sempat pendapatkan penghargaan dari Gubernur Kalimantan Timur dan penghargaan Citi Microentrepreneurship kategori fishery tahun 2017-2018.

Tidak mau berhenti pada produk bawis, Nienik juga membuat es krim kepiting. Ide ini muncul dari ketidaksukaan anaknya terhadap produk makanan laut. Es krim kepiting ia buat dengan rasa stroberi, coklat, hingga melon yang disukai anak-anak. Meski begitu, produk tersebut tetap punya kandungan gizi yang dimiliki kepiting. Selain itu, produk lain yang diproduksi Nienik diantaranya kulit bandeng, teri krispi, stik rumput laut, dan stik ikan.

Sejauh ini, karyawan Nienik berjumlah enam orang untuk pembersihan ikan. Ia memberdayakan istri-istri para nelayan. Untuk proses penggorengan hingga pengemasan ia lakukan sendiri.

Ada banyak tantangan yang dihadapi Nienik dalam berbisnis. Salah satunya adalah kesulitannya dalam menghilangkan bau amis ikan. Ia terus berusaha meracik bumbu yang tepat selama satu tahun hingga akhirnya dapat meredam bau amis tersebut. “Selain itu, sulit untuk memperkenalkan produk baru seperti ini ke pasar. Makanya, saya coba promosikan setiap ada acara kuliner, salah satunya adalah acara rekor MURI yang pernah diadakan di Bontang. Lewat event tersebut, saya ikut menyebarkan selebaran produk saya,” tambah Nienik.

“Rencana ke depan, saya ingin manfaatkan cangkang kepiting untuk jadi campuran es krim. Di tempat saya banyak pengerok kepiting. Saya coba olah, ternyata hasilnya tidak amis. Namun, perlu dicek dulu soal kadar kalsiumnya,” ungkapnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)