Pendar Terang Bisnis Lighting Robby Permana

Robby P Mannas Robby P Mannas, Pendiri Trilite Wesia Geni

Di tangan Robby P. Mannas, lampu yang lazimnya difungsikan sebagai alat penerangan semata, berubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Ya, di bawah perusahaannya, Trilite Wesia Geni (TWG), Robby menciptakan tata cahaya arsitektural. Hasil kreasinya yang unik di setiap karyanya pun mampu memicu aneka perasaan seperti tenang, dinamis hingga magis. Pengalamannya bekerja bertahun-tahun di perusahaan lampu dalam dan luar negeri membuat Robby mampu merancang, memasok, hingga mengimplementasikan berbagai kreasi tata cahaya.

Perusahaan yang didirikan lima tahun silam oleh Robby dan rekannya itu pun telah dipercaya menangani pencahayaan di rumah pribadi, mal, vila, hotel dan resor di Indonesia hingga mancanegara. “Saya melihat bahwa lighting tidak hanya sekadar untuk pencahayaan, tetapi ada nilai lebih yang bisa dibuat, yaitu melalui seni dan kreativitas untuk menjadikan ruangan memiliki daya tarik dengan pencahayaan yang tepat.”

Robby memaparkan, bisnisnya memberikan solusi tata cahaya untuk berbagai kebutuhan, baik kediaman pribadi, properti komersial, maupun berbagai acara khusus. Waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian proyek dari mulai merancang hingga implementasi pun tak sebentar. Sebagai contoh, diperlukan waktu tak kurang dari tiga bulan untuk menyelesaikan
proyek di properti seluas 1.000 m2. “Karena kami mengacu pada pembangunannya, apakah ada perubahan interior dan struktur bangunan. Misalnya tidak ada perubahan secara arsitektur, maka kami selesaikan dalam waktu tiga bulan,” ujarnya.

Dan seperti halnya dalam penyelesaian proyek properti lainnya, tantangan utama timnya terletak pada suasana hati klien. Pernah suatu ketika Robby telah menyelesaikan rancangan sesuai dengan pembahasan awal dengan klien. Ternyata, keinginan klien berubah total.


Meski mengaku memberi peringatan kepada kliennya untuk mematuhi tenggat waktu yang disepakati, kadang kondisi tidak dapat lagi diatasi. “Sempat ada kejadian pembatalan juga dari klien,” ujar Robby blakblakan.


Berhubung pengaruh pemilik properti sangat besar dalam penentuan pemakaian jasa, pemasaran TWG pun difokuskan pada mereka. Contohnya, Robby pernah menggelar acara pameran khusus untuk 110 pemilik properti di Pulau Dewata yang digelar di Hotel Padma, Bali, pada akhir 2015. “Di situ kami buat 10
booth untuk memberikan informasi mengenai lighting tetapi secara fun. Kami ingin mendekatkan diri ke owner agar mereka merasa bukan hanya rekan bisnis.”

Selain itu, ada pula ajang khusus yang digelar untuk publik, seperti Luminair yang digelar di Bandung dan Bali. Di Luminair Bandung pada 2014, TWG merancang tata cahaya di Taman Hutan Raya Juanda, hutan kota dekat kampus Institut Teknologi Bandung. Hasilnya, rawa dan pohon-pohon besar di sana yang nampak mencekam kala malam menjelang berubah semarak dengan tata cahaya yang dinamis. Tak pelak, warga Bandung pun berdatangan ke sana untuk menikmati suasana malam.

Pasar di bisnis ini pun diakui Robby masih sangat besar. Ditambah lagi, belum banyak yang terjun ke dalamnya. Setahunya baru ada 10 perusahaan di dalam negeri yang fokus di bidang desain cahaya dan segelintir perusahaang asing yang mencoba mencicipi pasar Indonesia.

Setelah bertahun-tahun merintis bisnis, kini mantan profesional di sejumlah perusahaan lampu itu pun memetik hasilnya. Saat ini karya TWG sudah tersaji di Pakubuwono Residence di Jakarta, Bandara Soekarno Hatta Terminal 2, Beach Walk di Bali, Padma Hotel di Legian dan Ubud, Hotel Swiss Bell di Yogyakarta, Hotel Sheraton, dan masih banyak lagi.
Tak hanya di dalam negeri, karya TWG pun menerangi berbagai respor di luar negeri seperti Kepulauan Maladewa, Singapura dan India.


Robby menuturkan, sejumlah kliennya di Bali yang merasa puas banyak yang memintanya menggarap properti serupa milik mereka di luar negeri. Itu sebabnya, TWG bisa mendapat pesanan di mancanegara. Adapun saat ini TWG tengah menggarap tata cahaya di banyak properti, seperti mal di Bandung dan Bali milik Plaza Indonesia Group, proyek
Bandara Ngurah Rai tahap 2, apartemen di BSD-Tangerang Selatan, proyek Gelora Bung Karno untuk area publik dan stadion madya, dan proyek Jembatan Semanggi.


Beberapa waktu lalu TWG juga menyajikan seni tata cahaya dalam ulang tahun ke-30 Ikatan Perancang Mode Indonesia. Di acara bertajuk
Spectrum of Batik tersebut, instalasi tata cahaya TWG yang bertitel Love bersanding dengan karya busana batik 23 perancang IPMI.


Target Robby, pada 2017 bisnisnya bisa menggarap proyek dua kali lipat dari jumlah saat ini. Plus, menggarap pasar baru di Kalimantan dan Sulawesi. “Kami tidak mau terlalu ekspansi ke luar negeri, Bali tetap menjadi representasi kami untuk pasar internasional,” kata Robby menegaskan. (Riset: Hana Bilqisthi)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)