Pertaruhan Henny Adnan, Kembangkan Madeena Skin Clinic

Heny founder Madeena Skin Clinic

Meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perawatan kecantikan, membuat klinik kecantikan tumbuh dimana-mana sesuai segmen market yang dibidik. Melihat peluang dan populasi penduduk Indonesia sebagian besar muslimah, menginspirasi dr Henny Adnan untuk mengembangkan klinik muslimah yaitu Madeena Skin Clinic. "Saya belum melihat pelaku usaha yang benar-benar fokus untuk menciptakan layanan yang halal dan natural," kata Heny founder Madeena Skin Clinic.

Dengan investasi sekitar Rp 1 miliar, Heny nekad untuk membuka Madeena Skin Clinic pertama di Lampung tahun 2017. Alasannya, segmen pasar muslimah di Indonesia masih terbuka lebar. "Sejak awal kami mengembangkan konsep klinik muslimah, mengingat klinik yang secara khusus membidik segmen ini masih jarang,” kata Henny.

Dengan membidik segmen menengah ke bawah khususnya ibu muda usia 23-40 tahun, Madeena Skin Clinic tetap mempertahankan kualitas dan harga terjangkau. "Kehadiran Madeena Skin Clinic, untuk mengedukasi masyarakat bagaimana mendapatkan layanan berkualitas dengan pengawasan dokter kulit, tapi dengan harga terjangkau," katanya.

Misalnya, harga treatment sangat terjangkau, sebagai contoh facial halal Madeena hanya Rp50 ribu, saja, laser berkisar Rp 300 ribu an, dan stem cell pun hanya Rp300 ribu. "Kami memiliki team dokter yang handal, terdiri dari dokter spesialis kulit, dokter kecantikan, ahli androlog, ahli gizi dan lain-lain," kata Heny.

Diakui Heny, kehadiran Madeena Skin Clinic mendapat respon positif. Hal ini tercermin dari kunjungan pasien yang hadir sekitar 1500-2000 orang pasien/bulan. "Omset rata-rata per cabang sekitar Rp 250 juta-Rp 350 juta/bulan," kata Heny.

Melihat responnya bagus, perlahan-lahan Heny pun mulai memikirkan ekspansi Madeena Skin Clinic dimana saat ini telah memiliki 4 klinik kecantikan di Lampung, Binjai, Bandung dan Bojonegoro. Buktinya, hingga akhir 2019 ini dirinya bakal membuka hingga 8 outlet yang tersebar di berbagai wilayah di Tanah Air. “Yang sudah berjalan baru 5 outlet. Sampai akhir tahun ini saya akan buka 3 klinik di Medan, Bekasi, dan Surabaya," katanya.

Untuk mempercepat penambahan kliniknya, Heny menawarkan konsep joint investment. Dengan cara ini keuntungan dan resiko dipikul bersama. Diakui Heny untuk membangun klinik dibutuhkan investasi Rp 1,5 miliar.

Konsep bisnis yang ditawarkan adalah kemitraan mandiri, dimana di konsep bisnis ini antara pusat dengan cabang akan melakukan join investasi, prosentasenya bisa 50%:50% atau 70%:30%. Biaya tersebut sudah termasuk sewa tempat 1 tahun, recruitment dan training, marketing dan system, machine, medicine, perlengkapan dan lain-lain.

Diakui Heny, sistem ini memiliki keunggulan dari sisi investasi misalnya, menjadi tidak besar sebab akan ditanggung berdua antara pusat dengan cabang. Cabang tidak perlu takut ditinggalkan sebab pusat memiliki saham di setiap cabang sehingga pusat akan selalu melakukan berbagai upaya untuk profit setiap bulannya.

Selain itu, dari kualitas layanan tetap terkontrol sebab semua langsung pengawasan dari kantor pusat. Apalagi tidak dikenakan royalty fee dan franchise fee sehingga lebih cepat balik modal.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)