Petuah Presiden SBY Bagi Wirausaha Muda Indonesia

Persaingan dalam mencari pekerjaan sekarang ini kian ketat. Ketersediaan lowongan kerja di perusahaan maupun di pemerintahan tak sebanding dengan jumlah pencari kerja yang terus bertambah setiap waktu. Salah satu solusi menghadapi masalah itu adalah menciptakan lapangan kerja sendiri. Itulah yang disebut dengan wirausaha. Menciptakan usaha sendiri, merekrut orang sebagai anak buah, tampaknya semakin diminati para anak muda di Indonesia.

Dalam acara pemberian penghargaan Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur 2013, yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2014), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pun menyampaikan kisah inspiratif juga nasehat kepada anak muda Indonesia yang berkeinginan menjadi wirausahawan.
presiden sby susiloHarapan Presiden Yudhoyono terhadap dunia kuliner dan fashion Indonesia

Saya ingin berbagi satu cerita, tadi pimpinan Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan bahwa makanan atau kuliner Indonesia itu juga diminati di luar negeri. Kita juga tahu batik ataupun tenun Indonesia itu juga laku dipasarkan di banyak negara. Cerita saya adalah pada bulan November 2011, Indonesia menjadi tuan rumah yang disebut dengan East Asia Summit. Itu sebuah asosiasi yang terdiri dari 18 negara, yakni 10 negara ASEAN dan 8 negara lain (Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, India, Australia dan Selandia Baru).

Kebetulan pada saat pemimpin dunia yang tergabung dalam East Asia Summit bertemu di Bali, itu pertama kalinya yang dihadiri oleh para pemimpin, kepala negara, baik itu presiden atau perdana menteri. Indonesia jadi tuan rumah. Tapi, ceritanya bukan itu.

Hari kedua, dilaksanakan jamuan santap malam. Kita mempertunjukkan seni budaya Indonesia. Dan banyak sekali yang mendapatkan apresiasi dari yang hadir pada malam itu. Besok harinya, kami langsung bekerja. Dan, di tengah-tengah bekerja ada acara santap siang di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar.

Kebetulan saya bersebelahan dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, di situ juga ada Perdana Menteri Tiongkok, Wen Jiabao. Obama menyampaikan kepada saya, SBY begitu dia menyebut saya, dia mengatakan, "Bagus sekali tadi malam, saya suka dengan kesenian Indonesia. Musik, tarian, atraksi bagus. Tapi, saya mau protes."

Saya kaget protes apa.

"Saya menunggu ada masakan Indonesia. Ternyata tidak banyak."

Wah, saya minta maaf.

Setelah saya selesai mengikuti acara jamuan santap malam, saya kembali ke hotel. Saya pesan bakso, kemudian nasi goreng dan emping. Saya bilang bahwa saya sudah takut kalau tidak enak.

"Rasanya bagaimana?"

"Well, lumayan."

Waktu itu, singkat cerita, ini sedang di tengah-tengah makan siang, saya melirik di sebelah kanan ada namanya Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi. Beliau saya panggil, saya bisikkan, "Tolong pesankan nasi goreng sekarang juga."

"Untuk siapa?"

"Untuk Obama."

Pak Sudi bergerak, masuk ke dapur. Dipesanlah nasi goreng. Tiba-tiba pasukan pengamanan presiden Amerika Serikat tahu, kalau sedang dipesan nasi goreng. Ditanya, nasi goreng untuk siapa. "Untuk presiden Anda."

"Oh, tidak bisa, tidak bisa." Lalu, bertengkar sedikit.

Akhirnya, Pak Sudi berbicara seperti ini, "Begini, begini, ini yang memesan Presiden Indonesia, presiden saya, akan diserahkan kepada sahabatnya, Presiden Obama."

Setelah itu, datang makanan, dicek secara bersama, karena makanan harus dicek baik oleh Paspampres Indonesia dan Paspampres Amerika Serikat. Singkat kata, lolos, dan datanglah nasi goreng itu. Begitu sampai di tempat saya, Obama sedang mengambil piring makanan yang disiapkan siang hari itu. Begitu datang nasi goreng, dia kaget.

"Apa ini?"

"Ini untuk Anda."

"Nasi goreng?"

"Yes."

Langsung diambil, dan dalam waktu yang singkat ludes, habis. Kalau Presiden AS, presiden adidaya menyenangi nasi goreng, banyak orang di luar negeri yang suka masakan orang Indonesia, nasi goreng, dan lain-lain. Tolong, para wirausaha yang bergerak di bidang kuliner jadikan ini inspirasi untuk mengembangkan kuliner Indonesia. Kalau Thailand punya semboyan kitchen of the world, dan kalau masakan Vietnam, Tiongkok ada di mana-mana, maka masakan Indonesia suatu saat juga ada di seluruh dunia. Ini harapan kita.

Cerita saya masih belum selesai. Masih di Bali. Pada acara malam kesenian di Bali, saya dengan Ibu Ani, dan teman-teman yang lain, berbincang-bincang, "Kira-kira pakaiannya apa nanti?" Karena kami ingin menyerahkan busana yang khas Indonesia. Saya mengatakan, meski batik sangat disukai, tetapi sudah amat sering. Bagaimana kalau ditampilkan tenun.

Singkat kata, kami mengambil tenun dari Nusa Tenggara Timur. Kemudian, kami modifikasi dengan gaya yang bagus, yang pas. Dan malam hari itu dipakailah tenun Indonesia oleh para pemimpin dunia beserta para pendampingnya. Itu merupakan tayangan ataupun busana terbaik, dan sekarang diabadikan di banyak tempat. Lagi-lagi fashion juga memiliki masa depan yang baik, karena Indonesia punya bakat, punya kemampuan untuk mengembangkan bisnis di bidang itu.

presiden sby
Wirausahawan adalah pahlawan sebenarnya

Saudara-saudara, saya mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan tadi. Jadilah contoh, jadilah model, teruslah berinovasi, karena dengan inovasi, sangat mungkin saudara-saudara akan menjadi pengusaha yang sukses baik di daerah, di Indonesia, dan tingkat dunia.

Saya sungguh gembira hari ini. Mengapa saya gembira? Karena saudara, para entrepreneur, para wirausahawan itu adalah pahlawan sebenarnya, pahlawan bisnis, pahlawan ekonomi, dan juga pahlawan pembangunan. Mengapa? Wirausahawan itu bukan hanya mencari dan menunggu peluang, tapi mereka menciptakan peluang.

Ingat, untuk menjadi wirausahawan yang tangguh dan sukses, itu jalannya tidak mudah. Semua begitu di negara manapun. Olah karena itu, ingatlah seorang entrepreneur itu sebenarnya orang yang punya ide, orangnya kreatif serta inovatif, serta senang dengan terobosan. Dia tidak suka yang biasa-biasa saja. Ia berani memulai yang baru, yang belum ada memang. Dia berani mengambil risiko. Tidak pasif tetapi aktif untuk mencari dan menemukan. Mestilah orang yang sabar, yang ulet, dan pantang menyerah. Mereka juga siap untuk gagal, tetapi mencoba lagi, berupaya lagi, dan tidak pernah punya mental mencari jalan pintas. Baca kisah sukses para entrepreneur di seluruh dunia yang menjadi jutawan, miliarder pada tingkat dunia adalah mereka yang gagal, mencoba lagi, gagal, mencoba lagi, akhirnya berhasil. Itulah entrepreneur, technopreneur.

Dan, ingat untuk meraih sukses tentu bukanlah pekerjaan sehari-dua hari, sebulan-dua bulan, bahkan bukan pekerjaan setahun-dua tahun. Mereka sering mengalami proses jatuh dan bangun. Tetapi, sekali lagi, tetap ulet, pantang menyerah, dan terus berinovasi. Oleh karena itu, saya senang hari ini, sekali lagi, melihat semangat saudara-saudara, utamanya kaum perempuan dan mahasiswa, untuk suatu saat menjadi pengusaha yang berhasil di negeri tercinta ini. Kaum muda harapan bangsa.

Insya Allah, tahun ini, saya akan selesai mengemban tugas saya. Dan, akan muncul pemimpin-pemimpin yang baru. Dan saudara, para mahasiswa inilah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa di masa depan. Oleh karena itu, pesan saya kepada kaum muda, jangan tergoda dengan sesuatu yang tidak benar, misalnya maunya serba cepat dan mudah, ingin cepat jadi kaya, ingin cepat jadi pemimpin besar, maunya menempuh jalan pintas, disertai dengan cara-cara yang belum tentu baik. Ambisinya tinggi, itu boleh, itu bagus. Tetapi, kalau sangat tinggi dan tidak mau bekerja, berupaya, tentu tidak baik. Bukan seperti itu yang hendak kita bangun. Tetapi, mereka yang terus gigih berjuang dari hari ke hari, dari masa ke masa.

Dalam dunia bisnis, kalau kita baca di seluruh dunia, seorang wirausaha adalah mereka yang menemukan produk dan jasa yang baru, membuka pasar yang tadinya belum ada. Memberikan nilai tambah pada barang dan jasa yang sudah ada. Menghubungkan modal dengan pekerja. Membikin bisnis dan ekonomi makin berkembang. Saya juga ingin para pengusaha muda agar kewirausahaan di negeri kita terus tumbuh dan berkembang. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koperasi dan UKM tadi, kalau ekonomi dan bisnis terus tumbuh, maka yang tadinya menganggur, dapat pekerjaan. Kalau dia bekerja maka mendapatkan penghasilan. Kalau keluarga atau rumah tangga mendapatkan penghasilan, tidak menganggur lagi, maka kemiskinan berkurang dan hidupnya semakin sejahtera.

Tiap tahun, banyak sekali angkatan kerja yang mencari pekerjaan, banyak sekali, jutaan. Oleh karena itu, negara, saya sebagai presiden, setiap saat memikirkan bagaimana menyerap, menampung, dan memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka. Saya ingin beri contoh, banyak yang ingin jadi pegawai, termasuk guru, TNI, Polri. Tapi, itu ada batasnya. Tidak mungkin kami menambah ratusan ribu pegawai negeri, termasuk TNI dan Polri, karena memang tidak sebesar itu yang kami perlukan, dan negara tidak mampu membiayainya. Ada batasnya.

Ada yang ingin jadi profesional di organisasi maupun di perusahaan. Ada yang ingin menjadi buruh. Ada yang ingin bekerja di bidang pembangunan infrastruktur. Ada yang pergi ke luar negeri mencari
pekerjaan. Tetapi, dan ini tanda-tanda yang baik: Makin banyak saudara-saudara kita yang ingin berusaha sendiri. Merekalah sebetulnya penyelamat ekonomi nasional kita, termasuk para mahasiwa, para wirausaha muda tadi.

Peluang berkembangnya usaha-usaha mandiri masih besar

Pertanyaannya kemudian, apakah di Indonesia ini masih bisa berkembang usaha-usaha mandiri? Jawaban saya dengan tegas, masih. Peluang dan kesempatan masih terbuka. Makin ke depan, makin besar peluang itu. Mengapa? Seperti ini, negara kita adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Indonesia, ekonomi nomor 15 besar di dunia. Penduduk kita besar, sumber daya alam kita tidak sedikit. Tanah Air kita luas. Itu potensi.

Kemudian, alhamdullilah, berkat kerja sama kita, kerja keras kita, ekonomi kita tumbuh relatif tinggi meskipun dunia sedang tidak bersahabat. Kalau ekonomi tumbuh tinggi, penduduk besar, maka permintaan akan barang dan jasa akan terus meningkat. Ada 240 juta penduduk, dan masih akan bertambah, dan memerlukan produk barang dan jasa untuk kehidupannya. Jangan lupa, tahun lalu, itu yang disebut consuming class atau kelas menengah itu berjumlah 50 juta orang. Itu sudah 10 kali jumlah penduduk Singapura. Mendekati tahun 2030, consuming class itu akan menjadi 125 juta. Apa artinya? Mereka perlu barang dan jasa yang lebih besar lagi dengan kualitas yang lebih baik.

Di samping itu, ekonomi makin berkembang di seluruh Indonesia. Dulu, seolah-olah hanya di Jawa. Sekarang pergerakan ekonomi, ada di provinsi-provinsi di luar Jawa. Iptek makin baik. Kalau orang punya kreasi, jiwa seni, kemudian teknologi didatangkan maka produknya akan punya nilai tambah yang tinggi. Ini tanda-tanda baik. Indonesia orangnya kreatif, teknologinya semakin maju, begitu disatukan akan menjadi produk bernilai tinggi, contohnya, yang ada di Korea, Jepang, Hong Kong, Taiwan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, saya ingin sekali lagi memberikan gambaran tentang perjalanan negeri ini, tentang masa depan kita bahwa Anda semua mempunyai peluang untuk berhasil di masa depan. Pemerintah, negara akan terus mengembangkan kebijakan, program-program yang tepat, bahkan juga memberikan kemudahan permodalan. Sejak tahun 2007, kredit usaha rakyat jumlahnya sekarang mencapai Rp 137 triliun, dan telah mengalirkan kepada 10 juta pengusaha mikro kecil dan menengah.

Kalau ingin sukses di bidang apapun, termasuk di bidang bisnis, maka bergabunglah saudara pada barisan orang yang optimis, yang berpikirnya positif, yang jiwanya terang, dan mau bekerja untuk mengejar sukses. Jangan mau bergabung ke dalam barisan orang yang berpikirnya serba negatif, pesimis, berjiwa gelap, gemar, dan mudah menyalahkan orang lain, malas dan tidak mau bekerja apapun. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)