Rafael David, Membentuk Karakter Entrepreneur Sejak Dini

Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki populasi entrepruener yang kuat. Rupanya paradigma inilah yang diyakini oleh Rafael David, owner dari Aboday Design. Pembandingnya cukup jelas, ia mencontohkan Amerika Serikat mencatatkan populasi wirausahanya sebesar 15%, dan juga Singapura sebesar 9%. Namun untuk Indonesia angkanya masih belum bisa move on dari 2%.

rafael david

Memang jika dibandingkan dengan Singapura, jumlah 2% ini lebih banyak, namun untuk mengayomi jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 250 juta, tentu saja masih sangat kecil perbandingannya.

“Idealnya itu antara 7% – 10%, dimana jumlah tersebut diharapkan bisa menjaring kelebihan bonus demografi kita untuk bisa dikembangkan kemampuannya ke arah yang lebih produktif,” kata Rafael, saat ditemui di acara prese conference Canisius Alumni Day di Hermitage, Menteng Jakarta (11/3).

Menurutnya, angka pertumbuhan entrepreneur ini perlu digenjot sehingga pada akhirnya bisa menggalakkan perekonomian negara pada umumnya. Hanya saja, pertumbuhan jumlah juga perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas entrepreunernya. Untuk mewujudkannya, David mengutip perkataan Yohannes Haryanto, pengelola Kolese Canisius , bahwa untuk menciptakan qualitypreuner hal yang sangat fundamental untuk dibenahi adalah karakter. Sehingga Kolese Canisius menerapkan pendidikan karakter, ketimbang kompetensi.

Itu artinya kolese ini tidak semata – mata berfokus pada mendidik siswa agar menjadi pribadi yang pintar dalam segala hal, melainkan lebih kepada menanamkan karakter humanity, sehingga simpelnya, ketika mereka berada pada situasi tertinggi pun, masih memiliki karakter down to earth.

“Saat ini kan banyak manusia pintar baik itu pengusaha maupun yang berada di pemerintahan, banyak terjerat kasus. Itulah bukti faktual betapa kurangnya pendidikan karakter ditanamkan pada setiap pribadi generasi kita,” sambung Rafael.

Sebagai bentuk implikasi dari pendidikan karakter yang diterapkan di Kolese Canisius, Rafael mencontohkan, ada beberapa nilai yang ditanamkan pada setiap individunya, yakni seperti menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, gotong royong, dan selalu menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Kemudian barulah disusul dengan nilai – nilai yang bersinggungan dengan kompetensi seperti teknologi, finance, serta komunikasi.

10917874_10152953182921291_1219997979797891734_n

“Sebagai contoh, waktu saya sekolah saya memiliki teman dari berbagai latar belakang budaya, memang banyak hal yang membuat kita merasa berbeda satu sama lain. Tapi disitu Romo Hary selalu menekankan betapa kita harus saling menghargai. Begitu juga dengan teman saya yang setiap hendak pergi ke sekolah harus bangun jam empat subuh, dan membawa bekal makan seadanya, disitu juga kita diajarkan untuk saling berbagi, tanpa perlu membeda – bedakan,” jelas Rafael, sambil menceritakan secara flashback masa – masa sekolahnya.

Masih tentang nilai entrepreuner, penyandang gelar arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung ini menambahkan bahwa menjadi entrepreuner harus bisa memberikan value added bagi perekonomian negara. Dalam artian, dengan memberikan impact terhadap perekonomian Indonesia yang semakin solid, maka imbasnya akan dirasakan oleh masyarakat, baik itu penambahan jumlah lapangan kerja yang akan diserap, juga bisa memberikan kesejahteraan pagi pekerjanya.

Efek lain yang bakal dirasa jika tercipta entrepruener Indonesia yang berkualitas adalah bisa mempertahankan market Indonesia dari gempuran perusahaan multinasional. Artinya pengusaha lokal pun dengan kompetensinya bisa dapat bersaing dengan pengusaha global. “Yang paling terasa itu ketika nanti Masyarakat Ekonomi Asia telah bergulir, jika pengusaha lokal memiliki kualitas, maka akan memiliki determinasi atas pangsanya sendiri di lokal, maupun melebarkan pangsa ke luar, bukan malah didominasi oleh pengusaha global,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)