Rahasia Sukses Kagum Group Catatkan Rekor MURI

asep supardiTepat pada tanggal 23 Agustus 2014, bertempat di Hotel Golden Flower Bandung, Kagum Group secara resmi melaunching 15 hotel barunya secara bersamaan. Beberapa hotel baru dari brand Zodiak, Serela, serta Gino Feruci yang telah diresmikan di lima kota besar, yakni Bandung, Jakarta. Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Alhasil, Museum Rekor Indonesia (MURI) pun mencatatkan event tersebut ke dalam buku MURI sebagai jaringan hotel dengan peresmian terbanyak dalam satu waktu.

Lantas, apa rahasia kesuksesan jaringan hotel yang dimiliki oleh Henri Husada ini dapat menembus batas normal? Asep Supardi, Director of Operations Kagum Hotels, menuturkannya kepada wartawan SWA Online, Fardil Khalidi.

Apa latar belakang peluncuran 15 hotel secara bersamaan ini?

Ada beberapa aspek yang melatarbelakangi kami untuk meluncurkan 15 hotel ini, bahkan untuk launching hotel – hotel berikutnya. Yang pertama, terlepas dari aspek brand oriented, yang mana kami akan tercatat di buku Rekor MURI ialah dari peningkatan traffic masyarakat ke kota – kota besar, baik itu untuk keperluan rekreasi, maupun bisnis, dimana ambil satu sample saja misalnya, Bandung, perharinya bisa mendatangkan wisatawan (baik lokal maupun asing) sebanyak 40.000.

Pasti ada sekian persennya yang tidak pulang pada hari itu juga, dengan kata lain menginap. Nah dari situlah coba kita provide akomodasinya. Gak cuma Bandung saja, Jakarta, Surabaya, Bali, dan Yogyakarta juga memiliki visit rate yang cukup besar, dimana salah satu faktor pendukungnya adalah kemajuan dari sektor pariwisata kota tersebut.

Kedua, kami melihat dari sisi persaingannya, di mana tidak melulu memberikan aspek yang negatif, melainkan aspek positifnya sangat potensial. Dalam hal ini kami melihat banyak kompetitor yang juga tidak kalah ekspansifnya.

Namun, ada benefit yang bisa diperoleh. Analoginya seperti ini, pilih mana jualan di tempat sepi atau tempat ramai? Pasti memilih di tempat ramai dong? Walaupun kompetitor disana juga sangat banyak. Begitu juga dengan kami, kami melihat mereka – mereka lah yang secara tidak langsung berperan meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke suatu kota. Dengan demikian, meliat potensi persaingan tersebut, kami percaya jika ekspansi ini berjalan, okupansi kami tetap terjamin.

Yang ketiga, imbasnya akan terjadi pada peningkatan job oportunity, di mana setiap satu hotel kami yang beroperasi, bisa menyerap lebih dari 100 karyawan. Bahkan tidak sebatas itu saja, kami juga menyediakan program edukasi di bidang perhotelan kepada anak – anak muda berbakat di Indonesia.

Dilihat dari aspek bisnisnya, apa sih yang mendorong Kagum Group tergolong berani dalam mengambil langkah ini?

Untuk bisnis perhotelan bisa dikatakan investasi tidak terlalu tinggi, bahkan siapa pun bisa untuk ambil bagian dalam investasi ini. Ditambah lagi untuk cashflow, dalam hal ini hotel kami kan bintang tiga, jadi tegolong cepat. Proyeksi saya maximum 4 tahun sudah turnover. Kalau bintang 3 ke atas bisa 7 tahun.

asepsupardi

Bisa digambarkan proyeksi ekspansi Kagum Group dari tahun ke tahun?

Kagum Group ini tergolong sebuah perusahaan yang masih belia. Usia kami baru menginjak 9 tahun. Namun proses menjadi seperti ini, bagi saya, tidak serta merta seperti membalikkan tangan. Ada frase – frase di mana kami berjuang secara total. Awalnya di tahun 2005 itu baru 1 hotel. Dan kami, selaku management berupaya secara optimal, naikkan revenue. Sehingga setelah itu, baru beberapa hotel kami dirikan, seperti beberapa hotel Golden Flower dan Serela. Pendanaannya masih berupa urunan. Ada pula yang dari bank, cuma, perlu sebuah upaya untuk meyakinkan mereka, karena pada dasarnya ini mengandalkan asas kepercayaan.

Saat ini kami telah memiliki total 35 hotel yang sudah dikelola, yang mana beberapa di antaranya merupakan hasil dari take over beberapa hotel terdahulu (contohnya yang di Medan), serta established dari 0. Untuk yang take over, kami menyematkan standard operasional di hotel yang telah kita take over, meliputi layout hotel, standard operasional, serta service.

Bagaimana strategi promosinya?

Untuk promosinya, Kagum Group memfokuskan di online promotion, yakni kami mengoptimalkan menggunakan engine sendiri, tidak menggunakan Agoda atau portal booking online sejenisnya. Kenapa? Simple, karena untuk menekan biaya operasional, dan untuk membuat semakin efektif incomenya. Karena, ada cost yang bisa dipangkas jika menggunakan engine sendiri dibanding menggunakan engine lain, yakni misalkan kalau lewat Agoda, kami harus membayar jasa engine tersebut, sementara jika lewat engine sendiri kami lebih efisien. Bahkan disisi pengunjung pun, jika di Agoda harga kamar bisa Rp800 ribu, booking langsung melalui website Kagum Hotel bisa Rp700 ribu.

Selain itu kami juga memberlakukan cross selling database, yakni apabila pengunjung check in di Medan, maka hotel di Surabaya bisa mendapatkan database-nya. Ini penting untuk melihat pertumbuhan customer engagementnya. Selain itu seringkali kita beri penawaran khusus bagi pengunjung yang loyal.

Seperti apa gambaran investasi Kagum Hotel untuk tiap – tiap hotelnya?

Kami hitungnya sih per-kamar. Tergantung juga dimana tempatnya, tingkat okupansinya, serta banyak faktor lainnya. Untuk yang di Bandung sebagai contoh, satu kamarnya itu average di Rp400 juta. Jika ingin memiliki satu hotel, tinggal dikali saja kamarnya, kemudian ditambah fasilitas – fasilitas yang lain seperti lounge, restoran, penthouse, dan lain sebagainya. Kami juga turut mengundang para calon investor untuk ambil bagian di ekspansi ini, dimana Kagum Group sebagai operationnya, dan untuk para investor ada sharing profit yang reliable.

Apa saja tantangan yang sering anda hadapi, terutama dalam proses ekspansi ini?

Tantangannya ada beberapa, antara lain soal investor engagement. Investor itu akan tertarik berinvestasi di salah satu hotel, tidak hanya melihat pada reputasinya, melainkan juga pengembangan infrastruktur di sekitarnya. Buat apa investasi di hotel yang bagus, tetapi akses ke sana masih menjadi kendala. Nah ini menjadi PR kami juga, dimana untuk membangun hotel, kami juga perlu lihat infrastrukturnya. Seperti apa jalan rayanya, bagaimana akses ke tempat – tempat strategis seperti pariwisata, serta pusat belanja.

Saat ini, sebenarnya, jika dilihat dari aspek pariwisata, banyak tempat – tempat yang potensial. Misalnya saja tidak usah jauh – jauh, di Jawa Barat, ada Pangandaran, gunung Papandayan, Pantai Santolo, yang sebenarnya prospektif. Namun sayang jalanannya masih memprihatinkan.

Kemudian dari sisi investasi, seringkali dihadapkan pada harga tanah yang fluktuatif, sehingga seringkali kami mengalami penyesuaian.

Ada pula untuk perizinan, yang mana berhadapan dengan birokrasi. Misalnya untuk urusan ketinggian bangunan, dimana maksimal ada yang bahkan hanya untuk dua lantai.

Apa target Kagum Group ke depan?

Alhamdulillah, target untuk tahun ini terpenuhi yakni peresmian 15 hotel, yang artinya sudah ada 35 hotel yang kita kelola. Untuk ke depannya, sampai akhir 2015 target kami sudah kelola total 55 hotel, dimana lokasinya sudah menyasar ke spot – spot pariwisata wahid Indonesia, seperti Raja Ampat. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)