Randy Chandra, Mantap di Bisnis Solusi Dokumen

Sudah 12 tahun sudah Randy Chandra membangun bisnis manajemen layanan dan solusi dokumen. Bersama partnernya, Frans Reyner, kini pria berusia 42 tahun tersebut itu telah berhasil membawa PT Reycom Document Solusi, atau RDS Group menjadi perusahaan terdepan di bidang solusi dokumen. Persaingan bisnis di bidang solusi dokumen dijelaskan Randy memang banyak, atau sekitar belasan pemain. Namun kebanyakan pemain di bisnis ini, ia klaim belum ada yang sebesar RDS. “Kebanyakan mereka itu perusahaan kecil-kecil,” ujar Randy.

Saat ini RDS melayani berbagai jenis solusi dokumen, mulai dari bisnis data capturing, percetakan, penerbitan, manajemen penyimpanan dokumen fisik, integrated cross media, hingga layanan contact center dan administrasi kesehatan . Beberapa klien besar seperti Taspen, BNI Life, Bank Mandiri, Unilever, Telkom Internasional (Telin), Biro Pusat Statistik dan Donggi Senoro pernah mencicipi layanan RDS. “Kebanyakan klien kami di industri asuransi dan perbankan,” ujarnya.

Di bisnis data capturing atau digitalisasi dokumen hard copy menjadi soft copy misalnya, nama RDS telah banyak dikenal. RDS telah berhasil memproses rata-rata 10 juta halaman dokumen per bulan dari berbagai jenis klien. Sedangkan untuk jasa penyimpanan dokumen fisik, perusahaan ini memiliki gudang berkapasitas 110.000 box, tingkat dua di Cikarang. “Kami menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) agar keakurasian pengambilan dokumen terjaga,” ujarmya.

Randy Chandra (kanan) dalam acara peluncuran show room pertama PT Reycom Document Solusi.

Tak cuma menawarkan jasa solusi data, RDS juga merambah bisnis penjualan scanner atau alat pemindai. RDS saat ini tercatat sebagai distributor resmi pemindai merek Fujitsu dan jContex, dengan satu jumlah show room di Gedung Pakarti Center, Tanah Abang.

Secara keseluruhan RDS saat ini memiliki 200 karyawan tetap dan 2.000 karyawan kontrak yang tersebar di 1.000 unit kerja. RDS saat ini beroperasi di lima kota yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Denpasar dan juga Semarang. “Meski banyak orang bilang paperless, toh nyatanya bisnis kami selalu growth double digit,” ujarnya.

Latar belakangnya untuk terjun ke bisnis solusi dokumen, ia ceritakan karena melihat potensi di bisnis tersebut yang amat besar. Ia mengatakan, sejatinya setiap perusahaan pasti memilik banyak dokumen entah itu hard copy maupun soft copy. Untuk itu mereka pasti perlu adanya pengelolaan dokumen yang profesional. “Kami hadir memberikan manfaat untuk membantu mengurangi beban biaya, waktu dan tenaga pengelolaan dokumen,” ujarnya.

Sistem keamanan pun dijaga ketat. RDS memastikan semua dokumen yang diorganisasikan tidak akan bocor ke tangan yang salah. Setiap pegawai yang melakukan pemprosesan data dijaga keta agar tidak membawa alat perekam, kamera dan juga handphone. Setiap komputer di-setting agar tidak bisa memindahkan data melalui USB, CD maupun disket.

Sebelum terjun memulai bisnis sendiri, kiprah Randy didunia dokumen data sebenarnya tidaklah baru. Setidaknya ia pernah bersinggungan dengan hal tersebut ketika bekerja 10 tahun di PT Astra Graphia, walau memang latar belakang pendidikannya tidak nyambung, yaitu di Teknik Metalurgi di Universitas Indonesia. “Jabatan terakhir saya di Astra Graphia project manager,” ujarnya.

Barulah ketika berusia 30 tahunan ia mulai berpikir membuka usaha sendiri. Ia ingin membuktikan kepada dirinya, bahwa ia bisa maju mengembangkan usaha sendiri. “Latar belakang keluarga saya pekerja, bukan pengusaha,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)