Reggy Widjaya, Arsitek Nyentrik dan Multitalenta Pendiri Tetra

Reggy Widjaya Reggy Widjaya, Presiden Directur PT Sirius Surya Sentosa

Bagi Reggy Widjaya, ke mana pun ia pergi meninggalkan kesibukan Kota Jakarta, jejaknya tidak akan punah oleh waktu atau hilang ditelan zaman. Pasalnya, karya rancang arsitek yang dihasilkannya telah menyebar ke sudut-sudut Jakarta. Semua menjadi penanda karya kreatif buah pemikirannya. Di antaranya, Tamansari Parama Building, World Capital Tower, MNC Tower, MNC Tower II, Cyber 2 Tower, hotel, rumah sakit, serta mal dan apartemen.

Adalah Tetra Konstruksindo, perusahaan desain dan konstruksi yang didirikannya bersama tiga teman di tahun 1997, yang menjadi cikal bakal lahirnya karya-karya out of the box di Ibukota saat ini. Setelah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia arsitektur dan mendapat kesempatan mendesain bangunan-bangunan fenomenal, Reggy yang lulusan S-1 Arsitektur Universitas Tarumanagara (1994) dan S-2 Master of Architecture dari Khatolieke Universitet Leuven, Belgia (1996) mendirikan usaha desain dan konstruksi sendiri. Sebagai anggota Asosiasi Arsitek Indonesia dan ASEAN Architect, ia yakin bisa mewujudkan impian mendesain dan membangun sekaligus sesuai dengan citarasa profesionalnya.

Benar apa yang diyakininya. Terbukti beberapa kali Tetra meraih penghargaan, antara lain, masuk dalam BCI Asia Top 10 Architecture Firm Awards, Ernst & Young Finalist Entrepreneur of The Year 2010, dan HDII Award 2012 for Interior Design, Health & Care. Penghargaan internasional lainnya adalah Schott Design Award 2007 dan Internasional Star for Leadership Quality Award 2011 dengan Gold Category.

Dalam perjalananannya, diakui Reggy, divisi properti bergerak lebih lincah dibandingkan divisi lainnya. Misalnya, tahun 2012, ia membangun Fourwinds Apartment di Permata Hijau, Senayan, Jakarta, dan Ayawana Villa di Ubud, Bali. Ia pun mempunyai sejumlah bisnis lain, yaitu dive center dan dua kapal Phinisi di Labuan Bajo, juga sejumlah coffee shop di beberapa kota. Pada 2014, bersama Daiwa House Ltd. Jepang dan Grup Argo Manunggal, mendirikan Daiwa Tetra Manunggal Konstruksi yang menggarap bisnis konstruksi.

Tidak berhenti di situ, tahun 2015, Reggy kembali mengembangkan bisnis baru, PT Sirius Surya Sentosa, anak usaha Grup Vasanta Indo Properti. Perusahaan yang ia pimpin ini --sebagai presdir-- sedang membangun proyek perdana bernama Vasanta Innopark di kawasan industri MM2100 Cikarang senilai Rp 20 triliun. Kini ia pun bertindak sebagai prinsipal Tetra. “Bisa dibilang, saya sebagai CEO di keduanya,” lanjutnya.

Apa rahasia sukses Reggy? Kelahiran Semarang, 17 Oktober 1970, ini mengungkap, ia bekerja fokus dan dengan passion tinggi. “Passion saya memang di arsitek. Sampai sekarang masih menjalankan bidang ini,” ujarnya.

Dijelaskannya, nama Tetra berarti empat, karena memang didirikan oleh empat sekawan teman kuliah, sekaligus teman kos-kosan. “Kami sudah berteman 30 tahun,” lanjut Reggy tentang persahabatan yang dibina dengan sesama pendiri Tetra. Baginya, sebagai arsitek, mimpinya dapat diwujudkan di Tetra bersama teman-teman. Bahkan berkat kebersamaannya itu, ia dapat mengembangkan bisnis properti dengan lebih baik lagi. “Ini benar-benar mewujudkan impian saya, menjadi arsitek yang tidak hanya jual kecap, tetapi juga bisa jual makanannya, dalam hal ini produk bangunannya,” katanya menegaskan. Menurut Reggy, akhirnya idealismenya dapat ditawarkan melalui properti-properti sebagai pengembang/developer.

Sebagai konsultan, Reggy berpikir bahwa orang yang menunjuk Tetra sebagai konsultan harus mendapatkan nilai tambah. Ini yang membedakan Tetra dengan konsultan yang lain. Spirit ini juga yang ia bawa ketika menjadi pengembang. “Orang yang membeli produk saya tidak hanya sekadar membeli apartemen tetapi juga ada added -nya,” ungkapnya. Ia mencontohkan Vasanta Innopark. Konsumen tidak sekadar membeli unit apartemen di kawasan industri, tetapi sebetulnya mereka membeli neighborhood, mendapat future yang akan bagus. Nah, future yang bagus ini artinya adalah komitmen pengembang yang baik dalam membangun, right on time, right on track, right on quality. “Idealisme ini yang saya terapkan di setiap proyek saya,” katanya tandas.

Memang tidak mudah membesarkan perusahaan dengan idealisme tinggi. Itu sebabnya, sepanjang berdirinya, setidaknya Tetra melewati tiga kali krisis besar. Yaitu 1998, 2008, dan saat ini 2015-16. “Saya merasa ini benar-benar dahsyat. Bersyukur sekali, kami tidak pernah lay off, tidak pernah tidak bayar karyawan. Ini yang menjadi salah satu vitamin sebenarnya,” ungkapnya. Rasanya memang pahit, katanya, tetapi ini yang membuat Tetra sehat. Berhasil melewati krisis itu yang membuatnya yakin, semua bisa dilewati selama kita sendiri punya komitmen dan spirit yang sungguh-sungguh.

Begitu juga di pengembang properti, saat ini orang-orang tidak menyebut properti “lagi booming”, tetapi “dalam tahap menuju booming”. “Nah, ini juga yang saya yakini bahwa ini saatnya kita start the new period,” kata Reggy yang memulai usaha benar-benar dari nol. Tidak ada bantuan uang sepersen pun dari orang tua. “Kami benar-benar berjuang dari nol. Bahkan, saya dulu itu selama tujuh bulan tidur di kantor, di lantai tiga sebuah ruko, di Roxy Mas. Karena untuk sewa satu ruko waktu itu belum mampu, hanya bisa sewa satu lantai di lantai tiga itu. Lalu, saya bikin bedeng di atasnya. Saya tinggal di situ sama office boy saya juga,” katanya mengenang.

Setelah 21 tahun berjalan, Reggy mendapat pelajaran bahwa jatuh itu biasa, tersandung itu pasti. Yang penting, tetap fokus agar dapat menangkap peluang. “Peluang ini biasanya muncul di saat kita sudah desperate,” ia menandai. Yang penting, ia menambahkan, jangan menyerah. Ibaratnya, jika terkena badai, ya jangan berhenti di tengah badai, tetaplah jalan terus sampai badai itu reda.

Bahkan, kendati sudah memimpin 180 karyawan di Tetra dan 60 karyawan di Sirius, Reggy tetap akan terus mengulik passion tanpa batas. “Kalau saya sudah merasa mendapat zona nyaman, saya harus mencari zona tidak nyaman berikutnya,” katanya tegas. Baginya, comfort zone tidak bisa diprediksi. Kebetulan hobinya hal-hal yang menantang, seperti diving, terjun payung, dan naik gunung, sehingga keluar dari zona nyaman jelas suatu hal yang disukainya. “Inspiring,” ungkap Reggy yang telah mencapai puncak Everest.

Buat saya, ini sesuatu yang challenging. Hidup itu harus mencari sesuatu yang beda,” ujar penyuka olah raga ini. Dalam seminggu, minimal enam kali Reggi berolah raga, entah gym, berenang, atau tenis. Semua dilakoninya dengan riang gembira. (Reportase: Yosa Maulana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)