Resto Molekuler Gastronomi Kreasi Andrian Ishak

Andrian Ishak Andrian Ishak, pendiri Namaaz Dining

Di tahun 2007, Andrian Ishak bereksperimen untuk meracik kuliner molekuler gastronomi. Perlahan-lahan, ia semakin piawai dalam mengolah kuliner tersebut. Lantas, ia membuka Restoran Namaaz Dining di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, yang menyajikan kuliner Indonesia yang diproses dengan teknik molekuler gastronomi. Kala itu, daya tampung restonya itu sebanyak delapan orang. Andrian bertugas sebagai chef dan hanya dibantu oleh seorang sahabatnya yang bertugas di bagian pelayanan. Roda bisnis Namaaz Dining berjalan mulus karena konsumen yang berkunjung ke resto tersebut bertambah banyak.

Karena itu, pada November 2013 Andrian memindahkan lokasi Namaaz Dining ke kawasan Kebayoran Baru, Jak-Sel, yang daya tampungnya 29 orang. Pegawainya juga bertambah, menjadi 31 orang. “Namaaz artinya doa,” kata Andrian mengenai nama restonya.

Resto ini hanya beroperasi pada Selasa-Sabtu pada pukul 7 malam. Konsumen wajib melakukan reservasi pemesanan meja terlebih dahulu di situs Namaaz Dining. “Stategi pemasaran word of mouth saja. Dan, kami tidak menerima tamu yang langsung datang ke sini, semuanya harus reservasi terlebih dahulu melalui website,” tutur Andrian. Saat SWA berselancar di situs Namaaz Dining pada akhir Maret lalu, ketersediaan meja di pekan pertama di bulan April sudah tidak ada karena telah habis dipesan konsumen. Sementara, ketersediaan meja di pekan kedua hingga keempat masih ada.

Untuk mendapatkan pengalaman unik menyantap kuliner di Namaaz Dining, setiap konsumen harus membayar Rp 1,25 juta. Pengunjung akan mendapat 17 menu yang dibuat dengan teknik molekuler gastronomi. Teknik ini dapat diartikan sebagai transformasi kimiawi dari bahan-bahan pangan pada proses memasak dan fenomena sensori ketika masakan itu dikonsumsi.

Agar memberikan pengalaman yang sensasional, Andrian rutin mengganti menunya enam bulan sekali. ”Kami selalu mengganti tema kuliner di setiap tahunnya, sebelumnya tema street food, supermarket, dan sekarang temanya sinema,” ujar kelahiran 40 tahun silam ini. Ia mengatakan, bahan bakunya seperti masakan reguler serta menggunakan bahan kimia makanan seperti hidrokoloid dan bahan alami. Proses membuat makanan itu bervariasi, yakni 30 menit hingga satu hari untuk satu menu. Adrian juga melakukan riset dan pengembangan menu untuk mengkreasikan makanan atau minuman yang inovatif. Ide-ide segar dieksekusi sedemikian rupa agar pelanggan tidak bosan.

Hasilnya, konsumen memadati Namaaz Dining, khususnya di akhir pekan. Pelanggan yang mendatangi tempat ini berasal dari berbagai latar belakang profesi. “Yang datang ke sini mulai dari public figure, pejabat, hingga menteri,” ucap pria yang hobi bermain gitar dan jalan-jalan ini.

Jika dihitung-hitung, dengan jumlah pengunjung memenuhi daya tampung kursi yang sebanyak 29 orang itu, Andrian berpeluang meraih omset Rp 36,2 juta/hari. Omsetnya dalam sebulan diasumsikan bisa mencapai Rp 725 juta apabila jumlah pengunjung sebanyak 580 orang dalam sebulan. Seandainya jumlah pengunjung dalam setahun memenuhi daya tampung kursi, Andrian berpotensi menggondol omset Rp 8,7 miliar.

Ke depan, ia ingin mengembangkan kreativitas agar menciptakan menu yang inovatif. Ia tidak berencana menambah kapasitas atau membuka cabang. “Restoran akan seperti ini. Saya juga tidak ingin membesarkan restoran ini karena tidak bisa handle. Kami fokus mengembangkan kreativitas,” ia menegaskan. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)