Rukbeni, Tekun Bisnis Kerajinan Renda Bangku | SWA.co.id

Rukbeni, Tekun Bisnis Kerajinan Renda Bangku

Hampir tiga dasawarsa sudah Rukbeni menggeluti bisnis kerajinan tangan asal Minang, renda bangku. Kenapa dinamakan renda bangku? Karena untuk membikinnya dibutuhkan suatu bangku yang berbentuk bulat. Bahannya berupa jarum, benang, dan alat dari kayu. Jika peralatan sudah lengkap, jemari Rukbeni bisa lincah merangkai aneka renda untuk dijadikan taplak meja, taplak cangkir, selendang, songket, selendang, baju, maupun kerahnya.

Untuk membuat renda manual ini Rukbeni mengaku ada hitung-hitungannya. Meski demikian, dirinya tetap semangat menyulam. Tak heran hasilnya sungguh apik dan digemari pasar mancanegara termasuk sering dijadikan oleh-oleh bagi tamu-tamu negara di istana kepresidenan. Lantas bagaimana lika-liku usaha yang digeluti perempuan kelahiran 1953 silam ini? Berikut penuturannya kepada Gustyanita Pratiwi SWA Online :

Rukbeni, foto : Gustyanita P Rukbeni, foto : Gustyanita P

Dari mana asal kerajinan renda bangku sebenarnya?
Kerajinan ini aslinya dari orang Belanda. Dulu di kampung semua membuat kerajinan. Kaum ibu pasti bisa. Dari ibu dan nenek saya. Saya sendiri mulai merenda di usia 15 tahun.

Sejak kapan hasil rendanya kemudian dijadikan bisnis?

Sudah lama. Dulu saya ikut organisasi yang mengurus kerajinan untuk ibu-ibu di Padang. Tahun 1986 saya kemudian pindah ke Pamulang. Di sini kemudian saya terusin, karena ini sudah tradisi daerah saya. Kalau orang sana kan, ini sudah terkenal dengan sulaman Koto Gadang.

Asal Padangnya daerah mana?

Bukit Tinggi. Sebab kalau daerah Bukit Tinggi kan terkenal dengan kerajinan tangannya. Termasuk sulam.

Saat memulai usaha ini ibu sudah menginjak usia berapa?

Saya udah umur 30-an.

Produksinya di mana?

Di rumah. Produksi sendiri. Saya kebanyakan terima pesanan perorangan. Ada sebagian dari orang asing, misal dari Italia, tamu-tamu negara, dll. Dulu Ibu tien soeharto sering beli karena dia menghargai kerajinan seperti ini.

Keunikan produk Anda apa saja?

Karena tidak sempat bikin pola, kadang-kadang saya ambil polanya dari buku. Pola yang lama paling-paling saya ubah-ubah sedikit. Motif bunga-bunga. Karena kebanyakan dipakai untuk acara-acara adat dan pertemuan.

Jenis sulamannya apa?

Sulaman suji cair, kepala peniti, dan renda bangku.

Apa saja yang dibuat?

Baju. Bisa juga dijadikan selendang. Lalu dari benang bisa dijadikan taplak, dan kerah baju. Warnanyanya juga cerah-cerah

Distribusi penjualan?

Kalau ada pameran-pameran. Kalau ada tamu-tamu negara di istana, saya juga diundang demo ke sana.

Tapi ibu sampai saat ini masih terjun langsung untuk memproduksi?

Kalau menyulam ya masih terjun juga, tapi sudah tidak fokus lagi, karena saya sudah fokus di sini. Sebab kalau menyulam itu saya sudah ambil dari kampung. Kalau orang bule yang pesan agak susah. Karena pola atau modelnya dari dia, jadi terpaksa saya yang turun langsung.

Berapa banyak karyawan ibu?

Nggak banyak. Kan yang diajarin itu ibu-ibu yang sudah pensiun. Cuma 4 orang. Tapi kalau kekurangan stok, saya bisa datangkan dari kampung (Padang).

Kisaran harga?

Selendang termahalnya bisa sampai Rp 5 juta. Sebab bikinnya itu kan 3-4 bulan. Bahan selendangnya dari sutera.
Baju-baju biasa lah standar Rp 150-300 ribu. Kalau atasan Rp 150 ribu.

Kalau renda-renda ini kebanyakan yang pesan orang luar semua. Tatakan meja dan kerajinan seperti ini kan yang menghargai kebanyakan orang asing. Kalau renda yang kecil-kecil ini sehari bisa jadi satu potong.

Harga renda-renda berapa?

Paling murah tatakan gelas ada yang Rp 50 ribu. Ada juga yang Rp 2 juta. Tergantung ukuran.

Omzet?

Kalau kerajinan itu tidak bisa dipastikan omzetnya, tergantung mood. Walaupun pesanan ada, kalau moodnya nggak ada ya nggak.

Suka duka ?

Karena usaha ini santai, Alhamdulilah tidak ada tantangan. Kadang-kadang kalau tidak ada undangan pameran, ya saya kan pemasaran susah juga. Makanya musti banyak koneksi. Kemarin saya ikut grup pecinta sulam. Ketuanya Ibu Jero Wacik. Kalau ada acara itu ya semua pecinta sulam diundang. Di sini juga saya ngeles renda. Kalau ada yang ingin belajar, saya ajarin. Kemarin ini cuma ada 10 orang di kelompok yang tua-tua. Terus kemarin masuk lagi kelompok jemari manis, tapi bukan sulam saja. Itu kadang-kadang suka diadakan di SMESCO. Cuma kadang-kadang karena dari Pamulang kan jauh ya. Kalau saya tidak mood ya saya tidak pergi.

Kiat-kiat sukses di usaha kerajinan?

Ya kita musti telaten, betah. Kalau tidak telaten, tenaganya tidak kuat, kan hasilnya tidak seberapa. (EVA)

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)