Salam Rancage: Tangan-tangan Terampil Mengolah Limbah Kertas

Tak ada rotan, koran pun jadi. Begitulah tagline Salam Rancage. Produsen kerajinan dari Bogor ini mendaur ulang limbah kertas berupa koran, tabloid, dan majalah bekas. Setelah melalui berbagai proses, limbah kertas tersebut diubah menjadi kerajinan seperti laundry basket, rak buku, rak sepatu, topi, tikar, tas, keranjang baju, tas laptop, hiasan rumah, kap lampu dan sebagainya. “Dengan metode pilin, lipat dan anyam, koran di-finishing menggunakan cat kayu water base. Hasilnya menyerupai rotan,” ujar Tri Permana Dewi, salah satu pendiri Salam Rancage.

Tri Permana Dewi (kiri). Dengan metode pilin, lipat dan anyam, koran di-finishing menggunakan cat kayu water base. Hasilnya menyerupai rotan Tri Permana Dewi (kiri). Dengan metode pilin, lipat dan anyam, koran di-finishing menggunakan cat kayu water base. Hasilnya menyerupai rotan

Bisnis bernapaskan sosial yang didirikan sejak 2012 ini mampu memproduksi 3.000 item produk tiap bulannya. Harganya dari Rp 2.000-an sampai Rp 750 ribu. Kalau dihitung-hitung omsetnya sekitar Rp 15-20 juta/bulan. Salam Rancage memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dalam proses produksinya. Setidaknya ada 20-an ibu rumah tangga yang terlibat. “Ini kan social business, jadi benar-benar harus melibatkan lingkungan,” tutur Dewi, kelahiran Bali tahun 1969.

Pemasaran dilakukan di melalui galeri sekaligus tempat workshop di Jln. Pangeran Shogiri No. 150, Tanah Baru, Bogor. “Setiap hari Jumat kami berjualan di Cifor (Center for International Forestry Research), ikut pameran-pameran, bazaar, online shop, serta social media (Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya),” Dewi menjelaskan.

Permintaan pasar, antara lain, untuk kebutuhan seperti souvenir pernikahan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Solo, Bandung Surabaya dan beberapa hotel yang banyak memesan keranjang cucian. Pesanan dalam jumlah besar pernah datang dari Kementrian Pekerjaan Umum untuk ajang jambore. Pada suatu ajang pameran, Kementrian PU memesan 3.200 topi dari koran. Jangka waktunya cuma tiga minggu. Yang membanggakan, topi buatan Rancage itu ternyata dikenakan oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Produk kerajinan salam rancage produk daur ulangNama Salam Rancage berasal dari kata Sekolah Alam dan Rancage bahasa Sunda yang berarti terampil. Cikal bakal Salam Rancage memang berasal dari Sekolah Alam, Bogor. Semula Sekolah Alam ini memiliki bank sampah. “Kita memilah dan menabung sampah,” tutur Dewi. Memang, pada 2009 seluruh siswa Sekolah Alam diberikan pemahaman untuk mengumpulkan barang-barang bekas seperti koran, majalah serta bungkus kemasan kopi, mie instan dan sebagainya. Ketika bahan-bahan daur ulang tersebut terkumpul dari murid-murid kemudian muncul ide bagaimana barang-barang tersebut dapat bernilai dan tidak hanya dibuang ketempat sampah atau di bakar.

Baru pada 2012 Salam Rancage resmi berdiri dengan mengembangkan ide kreatif untuk memanfaatkan limbah kertas menjadi aneka barang sovenir yang bernilai ekonomi tinggi, menjadi bahan-bahan perabotan rumah tangga seperti keranjang sampah, vas bunga, tas, keranjang cucian hingga barang-barang kerajinan terkecil seperti tempat tissu, tempat pinsil, dan gelang dan hingga kini sudah mencapai 170-an item produk kerajinan yang di hasilkan.

Tri Permana DewiMeski bahan dasarnya kertas, kualitas produk souvenir dari Salam Rancage tak kalah dengan produk yang berbahan dasar dari kayu. Soalnya, kertas-kertas tadi sebelumnya sudah divernis kayu untuk menjaga ketahanan terhadap air dan cuaca. Salah satunya adalah produk pot bunga, yang disimpan di luar ruangan, kena sengatan panas mentari dan guyuran hujan, ternyata pot bunga itu bisa awet bertahan.

Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif, Kementerian Koordinator Perekonomian, Handito Joewono, menilai positif langkah Salam Rancage. Dengan mengikuti berbagai pameran, punya stan regular merupakan strategi untuk pengembangan pasar. Demikian pula dengan online marketing yang dijalankan.

Meski begitu, Handito menggarisbawahi persoalan yang kerap mengganjal pelaku socioentrepreneur. Seringkali pelakunya terjebak hanya pada aspek sosialnya saja. Padahal, dalam socioentrepreneur prinsipnya adalah entrepreneurship. “Jadi bagaimana menumbuhkan motivasi bisnis. Itu yang perlu dipertahankan agar bisnis sustain,” kata Handito.

Pelaku socioentrepreneur harus terus menerus menggenjot motivasi bisnis masyarakat yang terlibat di dalamnya. Misalnya, dengan membuka pasar-pasar baru, akan mendatangkan keuntungan yang konsisten. “Ending-nya, masyarakat yang terlibat semakin bersemangat sehingga mendatangkan manfaat lebih,” tuturnya.

Sigit A. Nugroho & Didin Abidin Masud/Riset: Dian Solihati

Leave a Reply

1 thought on “Salam Rancage: Tangan-tangan Terampil Mengolah Limbah Kertas”

Bagus sekali produknya. Saya juga mengolah kertas koran tetapi outputnya beda. Kalau di sini mengoah kertas menjadi kerajinan kalau di tempat saya kertas diolah menjadi produk furniture tanpa kayu. Hanya koran saja. Menurut saya kelebihan produk semacam ini adalah padat karya dan jelas berkomitmen terhadap lingkungan. Selain itu bahan dasar sangat mudah diperoleh. Silakan lihat di website furniture koran.
by Harso, 30 Aug 2014, 07:43

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)