Sambil Menyelam, Nanda Dapat Penghasilan

Berawal dari hobi menyelam sejak masa SMA, Nanda Amiruly memutuskan serius menggeluti bisnis alatselam.com. Dari mulai hanya jualan kecil-kecilan lewat website dan Kaskus, gelombang bisnisnya terus membesar. Saat ini, permintaan alat selam rata-rata bisa lebih dari 50 item perbulan. Jumlah itu bisa naik berkali-kali lipat memasuki waktu liburan. Harga satu set produk menyelam lengkap mencapai Rp15 juta. Wuihh....

Lulusan Manajemen Universitas Padjadjaran itu mengaku tak terlalu banyak menggunakan latar belakang keilmuannya saat merintis usaha penjualan alat-alat selam. Semuanya murni berawal dari hobi hingga akhirnya dia memutuskan untuk serius menekuni bisnis penjualan peralatan selam pada tahun 2007 silam. “Sebelum saya terjun di alatselam.com, saya aktif di berbagai kegiatan diving, sempat juga menjadi instruktur, tergabung dalam komunitas diving, dan beberapa kali menyelam di beberapa spot terbaik di Indonesia, seperti Wakatobi, Pulau Weh, dan Raja Ampat,” katanya.

Nanda melihat permintaan peralatan selam terus merangkak naik seiring makin banyaknya orang yang tertarik pada cabang olahraga ini. Mulai dari yang hanya sekadar menyalurkan hobi, hingga kalangan pekerja, misalnya di pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Kebetulan dia punya teman yang berkecimpung sebagai produsen alat selam dari Italia, yakni Cressi dan Seac.

Nanda Amiruly, General Manager alatselam.com Nanda Amiruly, Managing Director alatselam.com

“Ketika ada yang membutuhkan alat selam, saya tinggal menghubungi dia. Dari situ, eh makin lama makin banyak hingga akhirnya saya memutuskan menjadi distributor Cressi dan Seac di Indonesia, tepatnya 8 tahun lalu. Saya serius di bisnis ini karena memang hobi menyelam,” katanya.

Sebagai bagian dari pengembangan bisnis, lanjut dia, toko alat selam pun didirikan pada tahun 2010 lalu di Jakarta. Setelah promosi dan pembelian hanya lewat website, telepon, dan pesan singkat (SMS), kini penyuka selam bisa melihat apa saja alat yang dibutuhkan di showroom. Ibukota negara dipilih seiring tingginya permintaan dari kampungnya Si Doel ini. ”Tapi, dari waktu ke waktu, permintaan dari luar kota melonjak tajam,” katanya.

Segmen pasar alat selam sendiri terbagi dua. Pertama, kalangan pekerja yang biasanya bekerja di pengeboran minyak bawah laut, pengelasan pipa bawah laut, pemasangan kabel bawah laut, serta penanaman terumbu karang. Untuk yang nonpekerja biasanya berasal dari penyelam pemula sampai profesional, termasuk instruktur selam. “Hingga saat ini, perbandingan konsumen antara pekerja dan nonpekerja sekitar 60%: 40%,” katanya.

Untuk yang hanya sekadar hobi, peralatan yang dibutuhkan tidak terlalu rumit. Mulai dari rompi (Buoyancy Compensator Device-BCD) untuk yang fundive hanya ada dua model, yaitu jacket style dan back in flat. “Untuk kalangan pekerja modelnya cenderung universal, artinya tanpa blader tapi dilengkapi dengan pelampung dan pemberat yang disesuaikan. Jadi lebih rumit,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)