Wilson Mengembangkan Scoop Berkonsep 'All You Can Read'

Penyedia layanan buku digital terbesar di Indonesia, Scoop, punya cara unik untuk memanjakan para pembacanya. Sejak bulan Juni tahun 2015, perusahaan yang dinahkodai oleh Willson Cuaca tersebut, meluncurkan fitur Scoop Premium di Android maupun IOS. Lewat Scoop Premium ini, para peselancar di dunia digital bisa membaca dengan konsep 'all you can read' atau bisa membaca sepuasnya.

Hanya dengan berlangganan Rp 49.000 per-bulan, semua majalah favorit seperti SWA, Tempo, Cosmopolitan, Forbes Indonesia, Fhm, Gatra, Hai aatu media  popular lain bisa diakses oleh para penggunanya. Mereka tidak perlu dipusingkan untuk menentukan pilihan majalah mana yang harus dibeli. “Seperti kita tahu minat baca Indonesia kan tidak terlalu tinggi, adanya akses Scoop premium berharga murah ini diharapkan bisa menciptakan ekosistem baru,” CEO Scoop, Willson Cuaca ketika berbincang dengan SWA Online baru baru ini.

Saat ini, ia mengatakan Scoop sendiri punya dua jenis bisnis, pertama free konten dan berbayar melalui Scoop premium. Awalnya ia mengatakan memang sulit untuk mengajak para penerbit untuk bergabung di Scoop Premium, umumnya para penerbit sudah terbiasa menggunakan model bisnis pay-per-download.

CEO Scoop. Willson Cuaca CEO Scoop. Willson Cuaca

Ia mengungkapkan dari 700 majalah yang beredar, saat ini baru 200 majalah yang bergabung diScoop Premium. Penerbit khawatir bila bergabung justru dirugikan secara pendapatan lantaran pembagian keuntungan yang lebih kecil di konsep all you can read dibanding pay-per-download. “Padahal sebenarnya tidak seperti itu, Scopp Premium justru bisa meningkatkan nilai tambah,” ujarnya.

Dengan metode all you can read penerbit bisa punya potensi peningkatan penjualan secara digital. Musababnya Scoop membagikan pendapatannya berdasarkan lamanya user membaca sebuah konten. “Misal harga majalah pay per download itu Rp 30 ribu per majalah. Nah si user ini paling cuma bisa beli dua majalah, Namun dengan metode all you can read ini, pasarnya bisa lebih besar karena harga yang ditawarkan terjangkau hanya Rp 49.000 ribu, publisher bisa dapat pendapatan lebih banyak ketika banyak user yang membaca kontennya,” ujarnya.

Penerbit baru ia katakan bisa memperoleh exposure yang lebih baik ketika bergabung di Scoop Premium. Hal tersebut lantaran, dengan motede membaca sepuasnya, Majalah yang tadinya tidak dilirik untuk dibeli, kemudian bisa dibaca. “Mereka mengaku penjualan digitalnya makin meningkat,” ujarnya.

Scoop Gambaran Rumusan Pendapatan yang Diterima Penerbit

Akan tetapi satu hal yang perlu digarisbawahi dengan model bisnis all you can read adalah pengguna tidak memiliki konten yang telah mereka beli. Melainkan hanya meminjam sementara dan tidak bisa dinikmati lagi setelah mereka berhenti berlangganan. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem pay-per-download pada umumnya, yang membuat pengguna mempunyai hak milik atas konten yang telah mereka bayar.

Sampai saat ini, Wilson mengaku, respon masyarakat atas layanan premium ini cukup bagus. Dalam tiga hari sejak diluncurkan pada Juni lalu, total pelanggannya mencapai angka 1.000. Di tengah daya beli masyarakat Indonesia yang kian meningkat, Scoop berharap dapat terus melanjutkan visinya untuk membiasakan masyarakat membaca konten digital. “Nanti setelah ini kami juga akan mulai ke buku, koran. Jadi tidak hanya majalah,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)