Sekolah Seniman Pangan, Investasi Javara dalam Food Entrepreneurship

Siapa yang tidak kenal Javara? Bisnis yang bergerak di pengolahan produk pangan berbasis warisan budaya Nusantara ini telah menjadi pemain global dengan total 900 produk yang merupakan hasil pemberdayaan kurang lebih 50 ribu petani, perimba, dan nelayan di seluruh Indonesia.

Namun Helianti Hilman, Founder Javara yang kini telah menjadi Executive Chairperson untuk Creative Branding dan New Initiatives merasa kiprah Javara lantas tidak hanya di ritel domestik dan ekspor saja. Passion-nya dalam mengangkat warisan pangan lokal dan memberdayakan rural community memotivasinya untk mendirikan Sekolah Seniman Pangan

“Melalui Sekolah Seniman Pangan, kami membangun capacity building di hulu dengan tujuan munculnya insan berjiwa entrepreneur. Kami mendorong entrepreneurship di rural area dengan mengajari mereka untuk mengangkat pangan lokal yang memiliki added value,” ujar Helianti.

Helianti menyayangkan kurang adanya investasi di human capital bidang pangan. Sehingga wanita yang pernah bekerja di World Bank tersebut memimpikan Sekolah Seniman Pangan (SSP) dapat mencetak food entrepreneur, bukan hanya petani.

Di SSP, para pengajar memberikan pelatihan tentang creative farming, food processing training, rural f&b business, dan eco-cultural food travel business. Keluarannya adalah para peserta dapat mengangkat potensi pangan daerah agar memiliki kualitas dan nilai jual berstandar global. Untuk produk yang skalanya kecil, tidak perlu didistribusikan ke kota-kota besar atau menjadi produk ekspor. Helianti menyebut, KPI SSP adalah melatih para peserta untuk menggarap pasar lokal.

“Resort-resort di daerah wisata seperti di Labuan Bajo atau Flores, 90% grocery-nya dari luar. Kami melihat ada ruang yang bisa disubstitusi oleh produk keluaran SSP. Sehingga added value terdistribusikan secara local level sekaligus mengangkat impact of origin. Dengan demikian, akses pemasaran mereka lebih pendek namun kualitas produk setara dengan milik Javara,” ujar Helianti.

Ia juga menyebutkan para board di SSP tentu saja harus memiliki bisnis dan passionate untuk mengajar. Para board berasal dari ragam latar belakang, contohnya food tech, pelaku bisnis natural textile, pemilik lembaga bimbingan belajar, pemilik EO, dan lain-lain.

Dari tahun 2017 hingga sekarang, SSP tercatat telah menelurkan 1.000 alumni. Peserta yang terpilih, menurut Helianti, adalah orang-orang yang bisa menghasilkan multiplier effect. Contohnya alumni SSP di Flores yang telah mentraining 4.500 orang di seluruh NTT.  

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)