Sour Sally, Ide Bisnis Dari Mama

Yogurt beku atau populer disebut "froyo" dipandang sebagai penciptaan bentuk terbaik dari yoghurt, susu, dan es krim formulasi. Ini adalah sebuah  terobosan dessert es krim beku. Adalah Ie Donny Pramono, yang sukses menularkan popularitas froyo dari manca negara ke Indonesia melalui Sour Sally.

Donny Pramono dan sang ibu, Elien Limuwa Donny Pramono dan sang ibu, Elien Limuwa

Dengan modal awal kurang dari Rp 200 juta, Donny membangun Sour Sally. Kini, ia memiliki 28 outlet yang tersebar di Indonesia dan dua outlet di Singapura. Ia juga sedang menyiapkan setidaknya 16 outlet baru dan menawarkan peluang franchise.

“Untuk mini booth investasinya sekitar Rp 150 juta, sedangkan untuk outlet Rp 700-800 juta. Meski kami bukan satu-satunya yang bermain di bisnis ini, namun saya melihat peluang Sour sally masih sangat luas,” ujar Donny.

Di mata alumni Penn State University dan University of La Verne, posisi Sour Sally yang merupakan pelopor di bisnis froyo jelas sangat menguntungkan. Saat ini ketika konsumen bicara soal froyo, yang ada di benak pastilah Sour Sally. Ingat froyo, pasti ingat Sour Sally.

Apalagi, sebagai Founder&Director Sour Sally, Donny terbukti sukses membangun bisnisnya melalui strategi branding menggunakan karakterisasi Sally. Melalui karakter gadis berkepang dua dengan dress mini berwarna hitam, Donny membangun citra yang kuat dari produk froyo. Karakter Sally yang fun, ceria , cerewet, lucu, cerdas, ramah, loveable, kekanak-kanakan  dan unik telah diterima secara luas oleh konsumen (target segmen remaja perempuan & dewasa muda). Sour Sally telah menjadi fenomena baru (trendsetter) dalam gaya hidup sehat dan dicintai oleh konsumen, dengan demikian, menciptakan kuat emosional ikatan dengan karakter Sally.

“Segala kesuksesan Sour Sally sebenarnya tak lepas dari peran mama saya. Yang pertama kali mengungkapkan ide berbisnis froyo ya mama saya. Jadi Sour Sally ini sebenarnya ide bisnis mama,” kata anak dari pasangan Suwitno Pramono dan Elien Limuwa ini.

Ketika kuliah di Los Angeles, ia mengajak ibundanya mengunjungi  gerai froyo. Tempat itu kerap dijadikan tempat berkumpul anak-anak muda. “Kemudian mama saya berandai-andai jika membangun gerai seperti itu di Indonesia pasti peluangnya sangat bagus. Saya kemudian jadi tertantang,” kenangnya.

Saking tertantang untuk membuat usaha froyo, lulusan Akutansi dan Marketing ini justru memilih bekerja di perusahaan yogurt. “Di situ saya belajar, mengisi pengetahuan saya tentang yogurt. Setelah semuanya siap, saya lalu membuka gerai pertama di Senayan City, pada 15 Mei 2008. Di luar dugaan, antreannya bahkan pernah meluber hingga ke luar gerai. Hingga saat ini pada hari biasa, pengunjung bisa ratusan. Kalau akhir pekan, beberapa outlet bisa dikunjungi ribuan pembeli,” urai pria kelahiran 30 September 1982 ini.

Kini Donny tinggal memetik buah kesuksesannya. Sebagai usahawan sukses, penggemar futsal ini sedikit berbagi tips berwirausaha. “Kuncinya tiga: ide, believe (percaya), passion (semangat).”

Namun ia sadar, tidak semua orang mendapat dukungan orang tua, seperti yang ia dapat. Bagaimana meyakinkan orang tua untuk mendukung usaha, ia juga berbagi tips. “Kalau saya, kebetulan ide justru datang dari orang tua, tapi saya pikir kunci untuk mendapatkan dukungan secara keuangan dari orang tua adalah seeing is believing. Bawa orang tua Anda melihat peluang dari ide bisnis Anda.” (Lila Intana)

Leave a Reply

1 thought on “Sour Sally, Ide Bisnis Dari Mama”

Halo mba dan mas redaksi SWA .. sy tasya mahasisi s2 UI jurusan broadcast. kebetulan sy mengangkat sosok donny pramono sebagai entrepreneur yg suskes di balik sour & sally,kebetulan sy sgt menyukai youghurt ini jg. jd sy ingin mewawancarai beliau guna melengkapi thesis saya. bolehkah sy minta contact person phone atau email dr pak donny? terimakasih :)
by natasya, 11 Dec 2012, 13:45

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)