Sukses Henry Chandra Membesarkan Cat Futanlux

Pengalaman bertahun-tahun menjadi pegawai pabrik cat logam membuat Henry Chandra berani membesut bisnis cat sendiri dengan merek Futanlux 26 tahun silam.

Selanjutnya, dengan bantuan istri dan anak-anaknya, dirinya pun berhasil mengembangkan Futanlux menjadi salah satu merek cat logam yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Kepada SWA Online yang menemuinya di pabrik PT Futanlux Chemitraco di Jalan Industri III Blok AC No.5A Kawasan Industri Jatake, Tangerang Henry pun memaparkan perjalanan bisninsya.

Futanlux Henry Chandra (kedua dari kiri), beserta istri dan anak-anaknya

Henry mendirikan bisnisnya tersebut setelah menjadi karyawan sebuah pabrik cat metal selama beberapa tahun. “Setelah jadi karyawan saya buka toko cat di Jakarta Barat. Istri saya, Selviana Lioe, yang kelola toko cat. Lalu saya mulai beranikan diri membuka pabrik cat sendiri dengan 20 karyawan,” jelasnya seraya menyebut pabrik pertamanya berada di sebuah Ruko 3 lantai di kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat.

Bekal pengetahuannya di pabrik cat sebelumnya terbukti ampuh. Bisnis baru yang didirikan dengan modal Rp 200 juta hasil tabungan gaji dan keuntungan penjualan toko catnya itu pun langsung berlari kencang. Dirinya tidak mengalami kesulitan memasarkan langsung ke berbagai toko cat yang sebelumnya telah dikenalnya. Bahkan, tak pakai lama penjualannya sudah mencapai Jakarta, Bandung, Lampung, dan Medan. “Karena sebelumnya kami sudah punya jejak pemasarannya,” ujar Henry.

Namun sayang, berjalan beberapa tahun, Henry terpaksa mengganti merek yang dipakainya, dari Titanlux menjadi Futanlux. Pasalnya, perusahaan asal Malaysia mengklaim merek yang dipakainya. “Merek saya dianggap mirip. Ya sudah saya ganti saja jadi Futanlux,” jelas Henry yang hingga kini menjabat sebagai CEO Futanlux.

“Tapi nama baru yang dipakai justru lebih bagus maknanya. Fu itu hoki atau beruntung, Ta artinya besar dan Lu artinya jalan, jadi Futanlux itu bisa dianggap keberuntungan besar sepanjang jalan,” imbuh Jeffry Chandra Tjorawinata (29 tahun) putra sulung Henry sekaligus Direktur Penjualan dan Pemasaran Futanlux, yang turut serta dalam wawancara.

Entah kebetulan atau tidak, namun yang pasti bisnis cat metal yang dibesut Henry memang terus membesar. Buktinya di tahun 1992 dirinya memindahkan pusat produksinya dari sebuah ruko ke pabrik seluas dua ribu meter persegi di daerah Kadujaya, Tangerang. Dan pada tahun 2002 berpindah lagi ke lokasinya saat ini, di Jatake di atas lahan seluas 1,7 hektar dengan pabrik seluas 9 ribu meter persegi.

Henry memaparkan, kunci suksesnya dalam berbisnis cat sebenarnya sederhana saja. Dirinya selalu mengikuti perkembangan cat terkini. Berhubung dirinya berfokus di cat metal untuk logam dan kayu, maka dirinya selalu mendengarkan informasi dari para pedagang cat motor dan mobil aftermarket yang kerap disambangi pemilik kendaraan roda dua dan empat.

Dirinya juga selalu memperhatikan varian mobil terbaru yang dirilis pabrikan besar. Pasalnya, dari tahun ke tahun pabrikan mobil selalu mengubah jenis cat yang digunakannya. Selain itu, Henry pun kerap berinovasi merilis berbagai produk terbaru ke pasar. Salah satunya di tahun 1990-an, Henry memaparkan, Futanlux adalah merek cat pertama yang mengeluarkan inovasi cat warna besi tempa. Inovasi tersebut pun laris manis di pasar seiring bertumbuhnya perumahan dengan model mediteranian kala itu.

Dari waktu ke waktu Futanlux pun terus berkembang. Uniknya, Futanlux sempat mengalami ‘anomali’ pertumbuhan. Henry masih ingat, kala krisis ekonomi besar melanda di tahun 1997, pabrikan cat besar banyak yang mengerem laju bisnisnya. Namun tanpa ragu dirinya menggelontorkan cat Futanlux ke pasar sebanyak mungkin. Hasilnya penjualan Futanlux melejit berkali-kali lipat. “Makanya distributor bilang ini cat krismon (krisis moneter-red), karena pas krismon cuma cat kita yang ada, pabrik lain tidak mau keluarkan barang, hahaha,” papar Henry seraya tertawa lepas.

Pada akhirnya, Futanlux terbukti berhasil mengatasi salah satu krisis terbesar dalam sejarah Indonesia modern itu. Hingga kini pabriknya terus beroperasi dengan kapasitas mencapai seribu ton per bulan. Inovasi pun terus bergulir di perusahaan yang beroperasi dengan 70 karyawan itu.

Bahkan di tahun 2014 silam, Futanlux pun merambah bisnis cat tembok untuk interior dan eksterior bangunan. Tak tanggung-tanggung, tiga segmen disasar sekaligus, kelas bawah dengan merek Tsunami, menengah dengan merek Sam Hwa dan atas dengan Zinctium.

Jeffry, sebagai Direktur Penjualan dan Pemasaran Futanlux menguraikan, inovasi anyar ini dilakukan demi menggenjot pertumbuhan perusahaannya. Pasalnya, pasar cat tembok terus bertumbuh dengan pesat. ”Banyak pabrik besar lain yang semula hanya memproduksi cat metal kini turut memproduksi cat tembok. Pasarnya sendiri sangat luas. Data backlog perumahan adalah salah satu bukti bahwa pasar cat tembok masih besar peluang pertumbuhannya,” papar Jeffry optimistis.

Sama seperti membesarkan cat metal, cat tembok Futanlux pun dengan cepat diterima pasar. Jeffry memang menggenjot pemasaran Futanlux melalui berbagai lini, baik bawah maupun atas. Salah satunya dengan menggencarkan pameran di mal dan iklan televisi. “Pameran itu sangat efektif karena langsung terjadi pembelian besar. Selain itu lewat iklan tv di RTV dengan program Futanlux Etalase kami bisa menunjukkan keunggulan produk kami,” terang Jeffry.

Futanlux pun kerap menyeponsori acara turnamen golf yang diikuti para pengembang dan kontraktor. Hasilnya efektif. Para pengembang mulai menggunakan Futanlux di proyek property mereka seperti di klaster Aluvia di Bintaro yang dibangun Jaya Property yang menggunakan Zinctium Pro Plus dan Zinctium Pro Shield. Ada pula pengembang MAS Group yang proyeknya bertebaran di Bogor yang menurut Jeffry kerap mempercayai Futanlux untuk mempercantik properti mereka.

Dengan berbagai langkah inovasi yang digelarnya, Henry dan Jeffry meyakini Futanlux akan terus berkembang pesat. Jeffry, sebagai generasi kedua pun telah melihat hasil nyata dari sikap positif yang secara konsisten ditunjukkan orang tuanya dalam mengembangkan perusahaan. “Kita melangkah ke depan harus firm, positif. Buktinya kalau saat krismon dulu kami tidak positif memandang pasar, tentu hasilnya tidak akan bisa seperti ini. Jadi kita harus memandang positif segala sesuatunya, selebihnya Tuhan pasti akan membantu,” Jeffry menegaskan.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)