Taktik Ryan Kartawidjaja Melambungkan Pegipegi

Ryan Kartawidjaja Deputi CEO Pegipegi, Ryan Kartawidjaja

Pengguna internet dari peranti bergerak, mengacu data Kementerian Komunikasi dan Informatika, tumbuh 164% dari tahun 2014 hingga 2015. Sementara, pengguna personal computer (PC) hanya tumbuh 34%. Hal ini diyakini akan mengerek pertumbuhan populasi pengguna telepon cerdas tahun ini. Jumlahnya pada 2017 diprediksi bakal mencapai 74,9 juta unit dari 65,2 juta unit di tahun 2016, berdasarkan data yang dicuplik dari lembaga eMarketer.

Merujuk gejala itu, PT Go Online Destinations (Gold), perusahaan online travel agent (OTA) Pegipegi.com, berinovasi dengan menyediakan platform mobile di awal tahun lalu. “Kami selalu mengembangkan fitur-fitur yang semakin user friendly, agar pelanggan yang baru pertama membuka Pegipegi mudah melakukan pemesanan dan pembayaran,” ujar Deputi CEO Pegipegi, Ryan Kartawidjaja, mengenai kiatnya menggenjot laju bisnis Pegipegi. Pegipegi mengubah tampilan aplikasi dan mobile web-nya agar lebih interaktif, ringan, dan nyaman bagi pengguna. Tampilan tersebut biasa disebut user interface dan user experience (UI/UX).

Pegipegi pun melakukan terobosan bisnis, antara lain menambah layanan tiket kereta api dan bemitra dengan puluhan hingga ribuan penyedia layanan hotel. Langkah penambahan produk ini, menurut Ryan, telah mendongkrak pertumbuhan nilai transaksi di Januari-November tahun ini. “Dibandingkan tahun 2016, saat ini pertumbuhan nilai transaksi di Pegipegi lebih dari 200%,” ungkapnya. Peningkatan nilai transaksi, merujuk data internal Pegipegi, dikontribusikan oleh transaksi pengguna di aplikasi dan mobile web yang jumlahnya 70%-80% dari nilai total transaksi. Angka itu melonjak dua kali lipat dari tahun lalu yang hanya mencapai 40%. ”Pengguna aplikasi Pegipegi juga terus bertambah, yang jumlahnya sudah lebih dari 500 ribu,” katanya.

Pegipegi memberikan layanan sewa kamar hotel dan beli tiket pesawat/kereta api. “Saat ini Pegipegi sudah bekerjasama dengan lebih dari 7 ribu hotel di seluruh Indonesia, 20 ribu rute penerbangan, dan 1.600 rute kereta api. Untuk target, saat ini kami terus menambah inventori hotel dan rute penerbangan. Tidak hanya di domestik, tapi juga mancanegara,” Ryan menerangkan.

Jumlah hotel yang bermitra dengan Pegipegi di tahun ini lebih banyak dari tahun 2015 yang sejumlah 4 ribu hotel. Ini menunjukkan perkembangan bisnis yang menggembirakan bagi manajemen Pegipegi.Pegipegi.com yang didirikan pada Mei 2012 oleh perusahaan Indonesia dan Jepang yang membentuk perusahaan patungan. Recruit Holding, perusahaan asal Jepang yang memiliki online travel agent terbesar di Jepang bernama Jalan.net, bersama Alternative Media Group dan Altavindo dari Indonesia, kala itu mendirikan Pegipegi. Saat ini, kata Ryan, Recruit Holding adalah pemegang saham yang mendukung sepenuhnya Pegipegi.

Beragam pengembangan bisnis telah dilakukan manajemen selama lima tahun terakhir ini agar bersaing dengan perusahaan online travel agent lainnya, seperti Traveloka.com dan Tiket.com. Pegipegi gencar melakukan aktivitas pemasaran konvensional dan digital untuk memperkuat citra merek di luar daerah Jabodetabek, yakni Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Strategi ini diharapkan dapat membantu perusahaan merangkul lebih banyak user, terutama yang berdomisili di daerah.

Dari segi produk layanan, Pegipegi menggandeng maskapai penerbangan, seperti Citilink, Garuda Indonesia, Air Asia, Lion Air, dan Sriwijaya Air, untuk menghadirkan lebih dari 20 ribu rute penerbangan domestik dan internasional. Tidak hanya itu, Pegipegi menggandeng bank, e-commerce, dan perusahaan lainnya yang turut menyediakan berbagai macam promosi menarik. Dibandingkan dengan kompetitor lainnya, Ryan mengklaim, Pegipegi tidak hanya menyediakan layanan pemesanan kamar hotel, tiket pesawat, dan kereta api dalam satu aplikasi, tetapi, “Kami juga memberikan tip traveling dan review yang dapat membantu customer dalam memberikan referensi traveling. serta didukung oleh banyaknya promosi dan layanan customer service di Line, Facebook, Twitter, Instagram, website, dan via telepon,” lanjutnya.

Mengamati agresivitas pemasaran Pegipegi, Sumardy, pengamat pemasaran, berpendapat, layanan yang disodorkan penyedia jasa OTA di Indonesia satu dengan yang lain tidak jauh berbeda. Guna memenangi persaingan, penyedia jasa OTA berkompetisi dari sisi harga (price war) atau memberikan insentif kepada konsumen. “Untuk memenangi persaingan, selain dengan price war, juga dengan advertising war agar menjadi top of mind di benak konsumen,” demikian analisisnya.

Sumardy memperkirakan tren di masa mendatang, perusahaan OTA berekspansi menggarap bisnis gaya hidup dan leisure. “Mereka pun mulai masuk ke kategori tiket lainnya, seperti pertunjukan dan wahana permainan, sehingga bisa menjadi one stop leisure solution dari tiket hotel, penerbangan, tempat wisata. Mungkin mulai bisa juga dipikirkan untuk diintegrasikan juga dengan layanan transportasi dan sejenisnya, sehingga seorang pelanggan bisa mendapatkan A to Z untuk kebutuhan liburan dan hiburannya,” ujar Sumardy. (*)

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati/Riset: Elsi Anismar

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)