Tiga Bersaudara Melejitkan Produk Personal Ware

Terlahir dari keluarga pengusaha plastik, Sjamsoe bersaudara –Sjamsoe Bahar Indra, Sjamsoe Fadjar Indra dan Sjamsoe Tahar Indra– sukses di bisnis serupa lewat PT Trisinar Indopratama. Kini, perusahaan yang memproduksi peralatan makan dan minum berbahan plastik dengan merek Technoplast ini berhasil mencetak omset ratusan miliar rupiah per tahun.

Technoplast

Samsoe Fadjar Indra, CEO PT Trisinar Indopratama (Technoplast)

Keberadaan Trisinar diawali pada 1995 ketika Sjamsoe Fadjar Indra –yang akrab disapa Fadjar– baru saja merampungkan studi Master Pemasaran Internasional di University of Japan setelah selesai kuliah S-1 Sistem Informasi Manajemen di University of Texas, Austin, Amerika Serikat. Fadjar, yang kini menjabat CEO Trisinar, mengungkapkan, awalnya dia berbisnis ekspor peralatan pecah-belah berbahan gelas dan keramik. “Saat itu saya dan adik saya, Sjamsoe Tahar, membentuk Trisinar. Kantornya masih di ruang tamu rumah orang tua di Kebon Jeruk,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara itu kepada SWA di Wisma Technoplast, Jalan Kebon Jeruk Raya, Jakarta Barat.

Sebagai pengusaha muda, mereka berjibaku menjemput klien hingga mancanegara dengan mengikuti berbagai pameran yang digelar Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). “Selain menggunakan channel yang ada dari orang tua, kami juga sangat terbantu oleh BPEN. Saya masih ingat orang yang membantu kami dulu dari BPEN, Bapak Lumban Gaol,” kata Fadjar. Kala itu pasar utamanya adalah Timur Tengah dan Amerika Selatan. Bahkan, hingga kini, kedua kawasan itu menjadi tujuan ekspor favorit Trisinar. Penyebabnya, negara-negara berkembang belum memiliki sistem air bersih yang baik. Tidak seperti negara maju yang di hampir setiap fasilitas publiknya memiliki keran air bersih siap minum. “Karena itu, pasar botol air di Amerika kecil. Itu biaya belajarnya mahal tuh, kami pahamnya setelah ikut pameran berkali-kali, hehehe,” ujar kelahiran Jakarta 21 November 1968 itu.

Rezeki nomplok datang tiga tahun setelah mereka mulai berbisnis. Tahun 1998 Indonesia dilanda krisis ekonomi yang diawali dengan kehancuran nilai tukar rupiah. Trisinar yang membeli produk dengan rupiah di dalam negeri dan menjual dalam dolar AS terang saja bak mendapat durian runtuh. Saat itu mereka melihat peluang baru. Tahun itu juga ada sebuah pabrik elektronik merek Aiwa di Sukabumi yang bangkrut. Mesin-mesinnya ditawarkan dengan harga sangat murah, hanya ratusan juta rupiah untuk tujuh mesin yang bisa digunakan untuk membuat peralatan plastik. Padahal, harga aslinya mencapai miliaran rupiah. Bermodalkan mesin-mesin ini, pada1998 merek Technoplast, yang bermakna teknologi plastik yang lebih baik, pun lahir. Produk pertamanya: botol air minum anak-anak. Tujuan ekspornya tetap negara-negara di kawasan Timur Tengah, yakni Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Lebanon.

Bertahun-tahun menekuni bisnis peralatan makan dan minum plastik, Technoplast yang kala itu punya pabrik di Dadap, Tangerang, ternyata sulit menembus pasar modern. Hingga, ada mitra bisnis yang menyarankan agar Technoplast mengambil lisensi karakter animasi demi memperluas pasar sekaligus menembus pasar modern. Saran ini dipatuhi dan pada 2004 Technoplast mulai mengambil lisensi kartun Looney Toons dari Warner Brothers, AS, dan Hello Kitty dari Sanrio, Jepang. Jajaran produknya: botol air minum anak dan kotak makan. Memang, biaya lisensi tak murah; nilainya bisa mencapai Rp 300 juta-400 juta per lisensi untuk satu SKU (stock keeping unit), yakni satu seri botol air minum atau kotak makan. Plus, 15% dari penjualan item tersebut harus masuk ke saku pelisensi.

Sejak itu, penjualan Technoplast memang melesat. Berbagai peritel besar pun membuka diri untuk beragam produk Technoplast, khususnya yang bergambar karakter kartun. Pada 2008 produksi Technoplast melonjak sampai empat kali lipat dari sebelumnya, 7 ribu pieces per hari pada 2004. “Saat ini, bisa dibilang di seluruh ritel modern, seperti Indomaret dan Carrefour, ada produk kami,” kata Fadjar. Selain dipasarkan melalui kanal modern, kontributor penjualan utama lainnya datang melalui saluran tradisional.

Untuk promosi, Technoplast lebih mengandalkan promosi di below the line. Namun, saat tahun ajaran baru, Trisinar kerap beriklan di media massa. Demi merangkul tren digitalisasi pemasaran, 3-4 tahun terakhir promosi Technoplast lebih diarahkan ke digital melalui media sosial, seperti Instagram dan Facebook. Pasar yang dibidik, selain ritel dan ekspor, juga pasar korporasi yang memesan perangkat minum, kotak makan, mug, dan sebagainya untuk kebutuhan branding perusahaan. Contohnya, Nestle, Afra Kids, Forisa dan BCA.

Menghadapi kian ketatnya persaingan di bisnis personal ware, Trisinar terus menggulirkan inovasi produk. Dalam setahun,15-20 produk baru diluncurkan ke pasar. Yang teranyar, Oktober 2016, Technoplast meluncurkan Puzzle Lunch Set, seperangkat peralatan makan dan minum berbentuk puzzle dengan gambar animasi binatang seperti sapi, kepik, lebah dan kucing. “Inovasi ini yang pertama di dunia lho. Idenya dari pemenang Technoplast Product Design Competition 2015,” ungkap Fadjar.Technoplast

Kualitas manajemen pabrik pun terus ditingkatkan. Pabrik Trisinar, misalnya, tengah mengikuti sertifikasi manajemen mutu ISO 9001. Pabrik juga telah mengalami perluasan dan penambahan. Pabrik di Dadap kini didukung 30 mesin. Pabrik barunya di Kawasan Industri Kencana Alam, Cikupa, Banten, juga memiliki 30 mesin. Total kapasitas produksi Trisinar kini mencapai 70 ribu perangkat plastik per hari atau 10 kali lipat dibanding 2004.

Dengan jumlah karyawan mencapai sekitar seribu orang, Trisinar pun membenahi lini SDM. Antara lain, merestrukturisasi gaji karyawan dan memperbaiki jenjang karier. “Langkah pertama adalah pembenahan organisasi, job analysis, workscope analysis, dan sesudahnya baru bisa melakukan performance appraisal dan reward system,” kata Fadjar. Target Trisinar pada 2018, imbuh dia, adalah meraih sertifikat ISO 9001. Target selanjutnya, pada 2020 merampungkan program pembenahan organisasi dan manajemen SDM.

Saat ini, Technoplast menggarap sekitar 20 kategori produk plastik dengan 3 ribu SKU. Kategorinya antara lain botol minum, kotak makan siang, kotak penyimpan makanan, school box, baki plastik dan mug plastik yang dibanderol Rp 15 ribu-150 ribu per unit. Jumlah lisensi karakter yang digenggamnya pun bertambah menjadi 75, antara lain Hello Kitty, Ironman, Spiderman, Starwars, Ben 10 dan Frozen. Pasar ekspornya yang mencakup 25% dari total penjualan kini menembus 54 negara tujuan, mayoritas berada di Amerika Selatan dan Timur Tengah. Negara tujuan ekspornya antara lain Cile, Ekuador, Argentina, UAE, Arab Saudi, Lebanon, Bangladesh, Pakistan dan Filipina.

Kinerja Trisinar pun semakin benderang dari waktu ke waktu. Dari data Euro Monitor yang disuguhkan Trisinar, pada 2015 pangsa pasar Trisinar baru 2,7% atau sekitar Rp 200 miliar dari pasar personal ware (botol minum, kotak penyimpan makanan dan kotak bekal makan) nasional yang sebesar Rp 7,4 triliun. Setahun kemudian, penjualannya meningkat 50% menjadi Rp 300 miliar dengan pangsa pasar mencapai 3,6% dari total pasar sebesar Rp 8,2 triliun.

Dengan peluncuran Puzzle Lunch Set, pada 2017 pangsa pasar Trisinar ditargetkan 5,2% dengan penjualan Rp 480 miliar dari total pasar nasional Rp 9,2 triliun. Selanjutnya, pada 2018 Trisinar menargetkan penjualan Rp 816 miliar dengan pangsa pasar 7,9% dari total perkiraan pasar personal ware nasional sebesar Rp 10,2 triliun. “Saat ini, pangsa pasar kami memang masih di bawah 10%. Tetapi, khusus untuk kategori personal ware anak-anak berkarakter animasi, kami menguasai 75% pangsa pasar. Produk celengan aluminium Technoplast yang bergambar kartun juga menguasai mayoritas pasar, itu produksinya 10 ribu pieces per hari,” ungkap Fadjar.

Belakangan, Sjamsoe bersaudara merambah sejumlah bisnis baru di bawah perusahaan yang berbeda. Antara lain, bisnis peralatan rumah tangga premium, Homeco Living, di bawah bendera PT Homeco Victoria Makmur. Perusahaan ini mengimpor berbagai peralatan rumah tangga seperti pisau, sendok, garpu, centong sayur, talenan, wajan serta dandang. Sejak setahun lalu, bisnis minuman siap minum juga dimasuki di bawah PT Kieran Bahari Aksara dengan produk Nafoura Kurma Water. Produk air kurma berharga Rp 7.000 per botol kemasan 500 ml itu diluncurkan menjelang Ramadan tahun lalu. Penjualan Nafoura yang banyak dipasarkan melalui saluran modern di Pulau Jawa itu sukses menembus 250 ribu botol per bulan.

Sekilas, bisnis barunya itu terlihat tidak terkait dengan bisnis intinya di bidang plastik. Namun, menurut Fadjar, produk batu tersebut sama-sama berada di sektor fast moving consumer goods (FMCG) sehingga mudah saja menanganinya. Ia lantas memaparkan prinsip bisnisnya yang membuat dia berani meluncurkan berbagai bisnis baru, termasuk Nafoura. Pertama, ia selalu mencari produk yang berpeluang menjadi pemimpin pasar. Nafoura, misalnya, bisa dibilang merupakan produk air kurma pertama di pasar Indonesia.

Kedua, mencari mitra bisnis yang tepat. Ini mencakup kesamaan visi dan misi serta kemauan bekerja keras bersama-sama. “Ini yang sulit. Karena itu, harus dicari dulu mitra yang tepat, baru bisnis berjalan,” tutur Fadjar sambil menambahkan bahwa di Trisinar, adiknya, Sjamsoe Tahar, menjabat direktur produksi dan kakaknya, Sjamsoe Bahar, menjabat direktur keuangan.

Terkait Technoplast, Fadjar berencana memperbesar bisnis kemasan untuk korporasi yang dinilainya akan stabil. Saat ini, Trisinar telah memproduksi kemasan plastik untuk sejumlah merek kosmetik. “Kami juga telah bersiap melakukan penawaran saham perdana beberapa tahun lagi. Kami yakin akan mencapainya,” kata Fadjar optimistis.

Editor : Harmanto Edy Djatmiko

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
USANA Gandeng Atlet Berpretasi Indonesia Perluas Ekspansi

USANA Health Science, perusahaan global yang bergerak di bidang nutrisi dan produk suplemen ini kembali menambah market ekspansi dengan menambah...

Close