Tiga Cerita Anak Muda Melenggang di Bisnis Clothing

Anak muda dan kreativitas. Dua kata tersebut cocok untuk menggambarkan Bandung. Pasalnya, bisnis kreatif yang dilakoni anak muda tumbuh subur di kota ini.

Industri kreatif khas Kota Parahyangan telah melahirkan inovasi pada beragam sektor, mulai dari kuliner hingga fashion. Sepak terjangnya sendiri telah dimulai dari beberapa generasi pemuda ke belakang.

Pada 20 tahun lalu, sekumpulan anak muda Bandung membentuk komunitas skateboard. Mereka tidak hanya memandang skateboard sebagai cabang olahraga, namun juga budaya. Gaya musik dan fashion menjadi bahasan alternatif di dalam komunitas ini. Tahun 1997, para remaja sulit untuk mendapatkan produk fashion impor ala skater. Harganya melonjak akibat krisis moneter. Sementara itu, belum ada pengusaha lokal yang menyediakan produk sejenis.

Rizki Yanuar, salah satu anggota komunitas skateboard, melihat masalah ini sebagai peluang. Ia mulai membuat produk ala skaters berupa tas, jaket, dan celana. Ternyata, produknya disukai para skaters.

Melihat respons pasar yang positif, Rizki bersama Arief Maskom dan Firman Firdaus membangun brand yang berlabel uval Research.  “Kami membuat clothing line yang bisa mewakili komunitas skateboard dengan nama Ouval Research. Dulu kami hanya menjual di internal komunitas,” ujar Rizki. Brand ini mengunggulkan seni tipografi untuk desain kaos dan tas. Pada beberapa produk seperti jaket, pola produk lebih ditonjolkan.

Bisnis Ouval Research semakin berkembang dengan dibukanya gerai di Jalan Sultan Agung , Bandung tahun 2000. Saat ini, gerainya tersebar di 9 kota besar di Indonesia. Ouval Research juga turut membuka lapak online dalam rangka menghadapi perubahan tren masyarakat.

Menurut Rizki, persaingan dalam bisnis itu penting. Keberadaannya bisa memotivasi diri untuk menjadi lebih baik lagi. Dia berharap, Ouval Research bisa terus menginspirasi dan memotivasi para pemuda. “Kami juga berharap perusahaan ini bisa go international,” ungkapnya.

Screamous, kompetitor Ouval Research, juga punya ceritanya sendiri. Nino Norman yang merupakan pemilik perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa Screamous bermula sebagai distro. Maksudnya, selain menjual produk sendiri, Screamous turut menjual produk titipan pengrajin kaos lain. Pada 2004, ia membangun gerai di Jalan Cipaganti.

Tahun 2008, gerai Screamous pindah ke Jalan Trunojoyo dan mulai dipenuhi produk sendiri.  Saat ini, Screamous memiliki tiga cabang di Bandung dan cabang di lima kota lain, di antaranya Malang, Garut, Tasikmalaya, Belitung, dan Jambi.

Berawal dari produksi kaos, Screamous akhirnya memperluas ragam produksi ke sweater, kemeja, celana, hingga topi. “Pada 2008 hingga 2009, kami mulai membuka pasar di luar Bandung melalui jual putus. 50% dari produk kami dijual lewat jual putus, 50% lainnya kami pasarkan melalui marketplace online, toko online, hingga pameran,” ungkap Nino. Reseller Scremous mencapai 150 hingga 200 orang.

Produk yang ditawarkan Screamous punya keunggulan di kualitas dan desain. Quality Control dilakukan secara detail. Desain yang dipakai relatif simpel mengingat target pasar yang disasar adalah pemuda SMA hingga kuliah.

Dalam bersaing di pasar, Nino mengaku telah mempersiapkan diri untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Screamous kini gencar melakukan pemasaran via online. “Kami banyak mengubah cara-cara promosi, harus cepat adaptasi dengan perubahan. Kita punya website sendiri. Kita juga punya social asset, contohnya pengikut Instagram, Facebook, dan Twitter,” ujarnya.

Nino berharap, ke depannya Screamous akan dikenal sebagai label dengan karakter yang kuat. Ia juga berniat untuk lebih luas berkecimpung di pasar internasional.

Bila Research dan Screamous identik dengan produk untuk pria, Flashy membangun branding fashion wanita. Usia yang disasar cukup luas, mulai dari siswa sekolah dasar sampai wanita dewasa.

Flashy yang berusia 18 tahun telah menggaet banyak konsumen loyal. Kepuasan konsumen adalah yang utama bagi Flashy. Pasalnya, Flashy identik dengan kualitas jahitan rapi. Selain itu, label ini menawarkan fasilitas reparasi tas seumur hidup dengan kriteria tertentu. “Meskipun tidak banyak yang kembali untuk reparasi, tawaran ini cukup menarik perhatian pembeli,” tutur Asri Melati, Public Relation Flashy.

Cikal bakal Flashy adalah hobi Windy Wulandry untuk berjualan tas saat kuliah di tahun 1998. Setelah menikah dengan Ade Andriansyah, keduanya membentuk tim yang solid. Sementara Windy fokus pada pengerjaan dan pengembangan produk, Ade bergerak di bidang pemasaran.

Tahun 2000, Flashy membuka gerai di Jalan Dipatiukur dan Sultan Tirtayasa. Produk mulai berkembang menjadi tas, baju, dan dompet. Semua produk tersebut diproduksi secara terbatas, karenanya eksklusivitas menjadi nilai lebih bagi produk Flashy.

Flashy dipasarkan melalui dua jalur: offline dan online. Untuk offline, Flashy telah membuka gerai di enam kota. Untuk online, Flashy memiliki website, media sosial, hingga aplikasi untuk smartphone. Pasar online sendiri telah berkontribusi terhadap 40% penjualan.

Untuk menghadapi persaingan di pasar, Flashy punya trik sendiri. Ia menawarkan kartu anggota dengan keuntungan-keuntungan tertentu. Selain itu, dilakukan juga promosi lewat radio dan online. Flashy juga sering memberikan diskon untuk tanggal tertentu.

Flashy bercita-cita agar ke depannya konsumen fashion Indonesia lebih mendukung produk dalam negeri. Dengan berkomitmen untuk terus menjaga kualitasnya, Flashy berharap masyarakat menyadari bahwa kualitas produk lokal tidak kalah bagusnya dengan produk impor.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!