Wawan Lukminto Belajar Bisnis Sedari Kecil

Usaha di bidang pertekstilan yang dibangun oleh HM Lukminto di bawah bendera PT Sri Rejeki Isman (Sritex) kini telah dikendalikan oleh anak-anaknya. Anak keempatnya,  Iwan Kurniawan Lukminto, atau kerap dipanggil Wawan, memegang jabatan sebagai Direktur Garmen.

Sebelum menduduki jabatan tersebut, Wawan mengaku telah dipersiapkan sang ayah sejak lama. “Saya sudah sekitar 8 tahun di sana (perusahaan), sejak lulus sekolah dulu di jurusan keuangan dan marketing (di Boston, Amerika Serikat). Sekarang saya direktur di garmen. Jadi, tanggung jawab untuk produksi, marketing, semuanya,” terang Wawan kepada SWA Online, di sela-sela acara peluncuran buku biografi ayahnya “Bakti Untuk Indonesia: HM Lukminto, Pendiri Sritex,” di Jakarta.

Iwan Kurniawan Lukminto atau Wawan

Ia mengaku kesulitan ketika memulai pekerjaan di perusahaan keluarganya pasti ada. Tetapi, kesulitan bisa teratasi dengan didikan yang didapat dari ayahnya. Bagaimana sang ayah mempersiapkan anak-anaknya untuk terjun ke perusahaan tergambar jelas di buku setebal 580 halaman tersebut.

Ada bab khusus mengenai generasi penerus Sritex.  Di bab tersebut ada tertulis bahwa proses regenerasi pemimpin bisnis sudah disiapkan sejak anak-anak HM Lukminto berusia tiga tahun. Anak-anaknya berusaha diperkenalkan dengan orang-orang di perusahaan, mesin-mesin, hingga prosesnya.

“Salah satunya itu, saya terus dibimbing mulai dari kecil, apabila sekolah libur pun saya diajak ke kantor. Walaupun cuma diajak untuk ikut meeting, duduk saja, tapi secara tidak langsung itu membiasakan saya terhadap pekerjaan ini. Dan pada saat saya memulai pekerjaan ini, saya lebih gampang beradaptasinya,” terang Wawan, di mana apa yang dialami ini juga dirasakan oleh cucu-cucu HM Lukminto. Di buku, memang ada bab khusus bagaimana generasi ketiga sudah disiapkan.

Pria yang telah menjadi ayah ini pun mengaku, ajakan bapaknya untuk mengikuti sejumlah aktivitas di perusahaan telah dimulai dari bangku SMP.  “Dari SMP itu sudah dibiasakan untuk familiar dengan keadaan pekerjaan yang ada,” imbuhnya.

Dengan didikan yang diterima dari ayahnya, Wawan menegaskan, “Kesulitan ada, tapi dengan pengalaman yang sudah saya terima selama itu, jadi memudahkan saya.”

Lantas seperti apa harapan dari seorang Wawan terhadap Sritex ke depannya? Ia menuturkan, penjualan produk seragam militernya yang kini sudah merambah ke 30 negara diharapkan bisa bertambah. “Harapannya, kita bisa dibilang 30 negara yang sudah bisa kita capai ini masih bisa kita kembangkan lagi. Masih banyak negara-negara yang belum kita jamah. Itu merupakan tantangan bagi kita untuk lebih bisa memasarkan produk-produk kita. Jadi, itu mungkin sasaran kita selanjutnya untuk penetrasi market yang belum kita jamah,” paparnya.

Ketika ditanya apakah China merupakan kompetitor yang ketat di pasar internasional, Wawan menuturkan situasi negara tirai bambu tersebut tidak lagi seperti 10-15 tahun yang lalu. Sekarang ini, ia berpandangan bahwa China sudah berkurang di industri tekstil. “Karena dari segi tenaga kerja juga kurang, dan dari segi upah minimum juga sudah naik (di China). Mereka sekarang banyak berkonsentrasi untuk industri seperti elektronik yang mempunyai skill yang lebih tingggi. Dan ini merupakan salah satu kesempatan Indonesia untuk bisa mengembangkan industri tekstil ini. Kita posisi di Solo juga bisa dibilang we are at the right time, at the right place. Dari segi upah masih terjangkau, dan waktu sekarang ini tepat untuk pengembangan industri tekstil di daerah Solo,” tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)