Wignyo Rahadi Menenun Nasib di Tenun Sutra

Wignyo Rahardi Wignyo Rahadi, Pendiri Tenun Gaya

Saya percaya bahwa hidup itu sudah ada yang mengarahkan,” ucap Wignyo Rahadi. Keyakinan itulah rupanya yang memantapkan langkah lelaki kelahiran Solo, 18 Mei 1960, ini pindah kuadran menjadi pengusaha. Keputusannya tepat. Mengibarkan Tenun Gaya pada tahun 2000, kini namanya bersinar di bisnis tenun sutra di Tanah Air. Wignyo antara lain dikenal sebagai pelopor “kemeja tenun SBY” karena busana rancangannya sering dikenakan mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan keluarga besarnya, termasuk ketika merayakan Idul Fitri.

Presiden RI sekarang pun menyukai karyanya. “Alhamdulillah, Pak Jokowi juga suka pesan ke saya. Terutama tenun Tanimbar, itu menjadi kebanggaan saya karena tenun daerah bisa digunakan oleh RI-1. Bayangkan, tenun Tanimbar itu hampir tidak ada yang kenal, di ujung sekali perbatasan dengan Australia,” ungkap Wignyo kepada SWA dengan bangga sekaligus penuh rasa syukur.

Untuk menghasilkan tenun Tanimbar yang dikenakan Jokowi, Wignyo turun tangan langsung. “Saya melatih mereka (para penenun), supaya bisa memberikan variasi pada tenunnya. Yang tadinya warnanya itu-itu saja, jadi bisa lebih menarik dan lebih nyaman dipakai. Penggunaan benangnya saya ganti. Teknik pewarnaannya saya arahkan. Intinya, supaya produksi mereka lebih bagus, dan bisa lebih diterima pasar luas,” tuturnya.

Perkenalan Wignyo dengan dunia tenun sutra berawal ketika ia bekerja di perusahaan yang bergerak di industri benang sutra pada 1990-an. Sebagai Manajer Pemasaran, ia wajib mempelajari seluk-beluk pembuatan benang sutra dan desain tenun yang baik. Ia juga harus melakukan sosialisasi tentang cara menggunakan benang sutra dengan baik dan benar kepada para pembatik dan penenun. Sejak itulah, ia akrab dengan jagat batik dan tenun, juga bersinggungan langsung dengan pembatik dan penenun.

Jabatannya saat itu memang mengharuskannya mempelajari semua proses secara detail. Mulai dari menanam pohon murbei, memelihara ulat sutra, memanen, hingga memintalnya menjadi benang. “Ketika diminta belajar ini, saya merasa senang sekali, mengalir saja,” ujarnya. Padahal, saat itu ia juga sedang merancang kantor akuntan publik bersama teman-temannya. “Tetapi tidak jadi, karena saya merasa menemukan pekerjaan yang lebih asyik dan menyenangkan. Sejak mendapati lingkungan seperti ini, kok saya enjoy sekali. Saya merasa menemukan diri saya di sini, lingkungan saya seharusnya begini.”

Sembari menjadi profesional, sejak 1997 sebetulnya ia sudah merintis bisnis pribadi. Bersama tujuh temannya, ia melakukan uji coba alat tenun. Ternyata, teman-teman pembatik, penenun, dan desainer kenalannya rata-rata berkomentar positif dan berminat terhadap hasil tenun yang dibuatnya. Terpikirlah ia untuk menyeriusi bisnis ini. “Saya memang senang pada hasil kerajinan saya sendiri, tetapi tidak senang jualannya, masih ada rasa malu,” katanya mengenang. Termasuk, kalau ada yang mau mengikutkan dia di pameran, Wignyo tidak pernah datang karena masih malu-malu.

Transisi dari profesional menjadi pengrajin, menurut Wignyo, berlangsung cukup lama, sekitar setahun. “Membangun rasa percaya diri saya, ini yang lama, mengubah gaya hidup yang tadinya profesional menjadi pengrajin. Di sini cukup ada beban, begitu juga dari keluarga saya. Usia saya waktu memulai tenun ini 40 tahun. Saya harus meninggalkan kehidupan saya sebagai manajer kala itu yang sudah bisa memenuhi seluruh aspek hidup saya. Jujur, saya juga khawatir saat itu,” ungkapnya.

Namun, setelah pengetahuan dan pengalamannya dirasa cukup, pada 2000 ia memutuskan total menekuni bisnis tenun sutra handmade alias alat tenun bukan mesin (ATBM). Padahal, ketika itu, posisinya di perusahaan sudah mapan. “Saat itu posisi saya sebagai manajer senior, sudah nyaman. Kendaraan dan segala macam dapat. Gaji di atas rata-rata,” cerita sulung dari tujuh bersaudara ini. “Luar biasa memang... Investasi hanya dari tabungan yang saya kumpulkan dari gaji saya. Pinjam bank juga tidak, karena awalnya memang tidak terpikirkan untuk bisnis serius.”

Mengibarkan brand Tenun Gaya, ia mendirikan pabrik di atas lahan seluas 2.500 m2 di Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat. Dipilihnya Sukabumi lantaran daerah ini dekat dengan pusat bahan baku.

Memang, lima tahun terakhir, peminat kain sutra tenun tangan atau ATBM terus meningkat. Tak ayal, banyak pengusaha mulai melirik dan terjun di bisnis ini. Namun, menurut Wignyo, tenun sutra hasil karyanya berbeda dari produk tenun sutra yang banyak beredar di pasar. Di samping kaya warna dan detail, desain Tenun Gaya punya keunikan. Ini tak lepas dari karya-karya Wignyo yang merupakan hasil eksplorasinya ke sejumlah wilayah penghasil tenun di berbagai pelosok Nusantara seperti Padang, Yogyakarta, Pekalongan, Majalaya, serta Garut. Dengan kreasinya, ia mampu memodifikasi motif tenun tradisional menjadi modern.Tenun Gaya

Produk Tenun Gaya, yang kini mempekerjakan ratusan orang, menyasar segmen kelas menengah- atas. Produknya bahkan mulai merambah luar negeri, terutama Singapura. Harga jual kain Tenun Gaya sangat beragam, dari Rp 19.000 per meter hingga sekitar Rp 800.000 per meter. Untuk produk busana siap pakai (ready to wear), harganya Rp 500 ribu hingga Rp 3,5 juta. Untuk karya-karya eksklusifnya, misalnya seperti yang dikenakan Presiden atau para pejabat, harganya tentu saja jauh lebih mahal, rata-rata di atas Rp 5 juta per busana.

Wignyo mengakui, sampai saat ini, semua ide produk masih dari dirinya. “Asisten yang mendesain secara teknisnya,” ujar dia. Misalnya, ia punya ide untuk menggabungkan sejumlah warna, karyawanlah yang menerjemahkannya. Hasilnya kemudian diperlihatkan kepadanya. “Kalau ada yang kurang, ya dibikin lagi,” cerita Wignyo yang aktif di Indonesia Fashion Chamber.

Uniknya, Wignyo tidak pernah mempermasalahkan kalau produknya diikuti para pesaing. “Itu kan artinya apa yang saya lakukan bisa menambah rezeki buat mereka. Saya tidak pernah merasa rezeki saya direbut orang. Justru saya merasa sedih kalau produk saya tidak dicontek orang, kan artinya produk saya jelek.” ucapnya seraya tersenyum.

Soal produksi, ia bilang sangat tergantung, karena cara produksi di industri tenun berbeda dari (misalnya) produk garmen. Ia mencontohkan, ada satu kain yang satu hari hanya bisa dikerjakan 5 cm, tetapi ada juga yang satu hari bisa 1 meter. “Sementara, administrasi saya masih sangat sederhana. Rata-rata saya merekrut anak-anak putus sekolah. Sangat beragam dan selalu berganti, jadi tidak bisa diukur secara tetap,” ungkapnya.Tenun Gaya

Demikian juga perihal omset, ia mengaku tak tahu persis karena soal itu urusan bagian keuangan. “Saya sekarang konsentrasi pada pelatihan-pelatihan di daerah,” kata Wignyo yang November tahun lalu ke Papua. Ia mengaku prihatin melihat para penenun di berbagai daerah yang hidup sangat sederhana, padahal potensi kain tenun di negeri ini sangat luar biasa. “Sebagai rasa syukur, saya mengadakan pelatihan agar para pengrajin tenun bisa naik kelas menjadi pengusaha tenun,” katanya. Ia melatih mereka, mulai dari cara menenun, berpromosi, hingga menjual produk jadi.

Atas kegigihannya mengembangkan kain tradisional motif Nusantara, karya-karya Wignyo mendapatkan penghargaan dari sejumlah institusi bergengsi. Antara lain, UNESCO Award of Excellence for Handicrafts in South East Asia and South Asia 2012 dan World Craft Council Award of Excellence for Handicraft in South East Asia and South Asia 2014. Kemudian, atas jasanya menggandeng yayasan pencinta kain dan pemda setempat untuk melatih pengrajin tenun di berbagai daerah, ia mendapat penghargaan Upakarti Kategori Jasa Pengabdian pada 2014 dan One Village One Product Bintang 4 dari Kementerian Perindustrian RI pada 2015.

Ke depan, Tenun Gaya akan menggencarkan penggunaan media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk menggaet pelanggan baru. Menurut Wignyo, ini penting untuk meraih calon pelanggan dari luar kota. Misalnya, banyak bupati dari berbagai daerah di Indonesia yang tertarik memesan produknya. “Selama ini, mereka mungkin baru dengar-dengar saja. Nah, melalui cara online ini, mereka bisa langsung melihat karya-karya kami,” katanya.

Wignyo tampaknya tak terlalu cemas menatap ke depan. Anak sulungnya, lulusan jurusan fashion marketing di Singapura, sudah setahun lebih membantu sang ayah di Tenun Gaya. Sementara, anak kedua, lulusan fashion design, juga dari Singapura, pun telah merapat ke perusahaan keluarga. (Reportase: Yosa Maulana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)