Yoha Bisnis Fashion Bermula dari Hobi Menggambar

Memulai bisnis dari hal yang dicintai memang sangat menyenangkan. Hal itulah yang dirasakan oleh Yoha Friska Mei Fanny. Wanita kelahiran Mei 1988 ini telah menyadari ketertarikannya dengan dunia fashion sejak umur 4 tahun. Ketika masih di umur 4 tahun, Yoha kecil lebih memilih berkunjung ke toko baju ketimbang berkunjung ke toko mainan. Hal ini juga arahan dari sang bunda yang memang lebih suka mengajaknya ke toko baju. Dari sana, ia pun mulai menunjukan bakatnya dalam menggambar.

IMG-20160808-WA0001

“Mami mulai melihat saya suka menggambar sejak kecil, dan yang saya gambar adalah gambar baju. Bahkan ketika SMP saat kenaikan kelas, wali kelas saya selalu melaporkan kepada mami kalau saya selalu mencoret-coret buku catatan bahkan sampai LKS,” kenangnya. Melihat hal tersebut, sang bunda tidak menganggapnya sebagai masalah dan memarahi anaknya. Justru mencarikan solusi ayang tepat bagi sang buah hati.

Hingga akhirnya Yoha melanjutkan pendidikannya setamat SMP ke SMK dengan jurusan Tata Busana. “Sejak SMP juga saya sudah suka membuat desain dan datang ke tukang jahit langganan mami dan dibuatkan baju dengan desain saya sendiri. Menurut mereka (tukang jahit) desainku sudah detail dan bisa dibaca,” ceritanya.

Kecintaannya terhadap fashion terus ia kembangkan dengan mengikuti lomba desain. Meski di lomba pertamanya itu  belum bisa naik panggung, tapi ia mengaku sudah cukup puas, karena memang pesertanya yang beragam mulai dari usia 15 sampai 40 tahun. Di situ ia tidak berkecil hati tapi justru lebih bersemangat untuk terus belajar dan berlatih. Masih teringat jelas olehnya komentar para juri yang menyatakan bahwa desain yang ia buat secara keseluruhan disukai oleh para juri. Akan tetapi, kala  itu ia belum menjahitnya sendiri, sedangkan kompetitor lainya yang sudah lebih matang sudah dapat menjahit dengan rapi.

Setelah lulus SMK, Yoha begitu menginginkan melanjutkan pendidikanya di sekolah fashion Esmod. Namun keinginannya kali ini mendapat sanggahan dari sang Bunda. Bukan karena sang Bunda melarangnya meneruskan cita-citanya, tapi karena saat lulus SMA Yoha masih berusia 17 tahun dan itu masih dianggap terlalu kecil oleh keluarganya untuk merantau dari Padang ke Jakarta. Ia pun berdiskusi dengan keluarganya hingga diputuskan bahwa ia akan mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Padang.

“Kata Mami saat itu usia saya masih terlalu kecil kalau merantau ke Jakarta sendirian. Makanya kenapa saya tidak melanjutkan pendidikan S1 dulu di Padang. Saya memutuskan mengambil jurusan Hukum, pertimbangannya adalah ketika saya nantinya sudah menjadi desainer besar dan bermasalah dalam hal hak paten dan hak cipta setidaknya saya sudah paham hal apa yang harus saya lakukan,” ungkapnya.

Empat tahun ia berhasil meyelesaikan gelar S1. Tanpa pikir panjang, di tahun 2010 Yoha segera merantau ke Jakarta dan mendaftar di Esmod. Kesempatan ini benar-benar dimanfaatkannya dengan maksimal. Hingga akhirnya desain yang ia buat ketika di Esmod berhasil terpilih untuk dipresentasikan oleh Esmod di Paris.

“Di Esmod saya benar-benar digali. Dan tidak sedikit yang gugur di sini. Misalnya saat awal masuk ada 22 orang dalam satu kelas dan yang bisa bertahan hingga akhir hanya tersisa 11 orang. Belum lagi banyak tugas. Setiap 2 minggu kami harus menghasilkan 100 koleksi. Tapi Alhamdulillah saya bisa masuk menjadi the best student. Kuncinya adalah passion, karena kalau kita bekerja dengan hobi dan hal yang kita sukai maka kita tidak akan terpaksa,” tuturnya.

Karena kesungguhannya untuk menjadi desainer. Yoha tidak mau sembarang mengambil langkah. Selesai mengenyam bangku pendidikan di Esmod selama 1 tahun, Yoha sempat bekerja dengan beberapa desainer. Tujuannya adalah agar ia bisa mengetahui betul bisnis fashion secara keseluruhan. Karena menurutnya, tantangan sebenarnya di bisnis fashion ini adalah ketika sudah tercebur di dalam industri jual belinya. Ia pun sempat mengikuti perlombaan desain stelah lulus di Esmod dan memperoleh juara 1.

Hingga akhirnya di tahun 2013 ia mulai membuat bisnis fashionnya sendiri dengan brand dari namanya “Yoha”. “Awalnya saya bicara dengan orang tua kalau saya ingin serius dengan bisnis ini. Saya coba untuk membuat beberapa koleksi dan melihat reaksi pasar dan ternyata responnya bagus,” tuturnya. Meskipun terbilang pemain baru, dan belum dikenal banyak oleh orang, tapi Yoha tetap optimis dan tidak terpengaruh oleh trend pasar.

Bagi Yoha, menjadi desainer yang pure desainer adalah pilihan karirnya. Dalam berbisnis ini menurutnya yang terpenting adalah memahami betul bisnis ini and harus memiliki idealis. “Kalau kita tidak memilikiidealis, nanti customer bingung. Kita boleh saja mengikuti trend pasar, tapi harus tetap dengan identitas kita. Dan yang penting juga, meskipun kita idealis jangan sampai kita juga menjadi kuno,” ceritanya berbagi tips menjadi desainer.

Untuk memasarkan produknya, Yoha tidak melakuka strategi marketing khusus. Yang ia lakukan adalah membatasi desain buatannya agar eksklusivitas produknya tetap terjaga. Dalam satu koleksi atau model biasanya Yoha hanya membuat 20 pieces saja. Setelah koleksi ini habis, maka Yoha tidak akan emmbuat koleksi dengan desain yang sama. “Kenapa? Karena dari segi material, saya tidak akan menemukan yang benar-benar sama persis karena bahan yang saya gunakan jumlahnya tidak banyak yang jual,” lanjutnya. Strategi ini ia gunakan dengan tujuan agar desain yang ia hasilkan terus terasa fresh bagi para costumer.

Dari segi harga, koleksi yang ditawarkan Yoha mulai dari Rp 350.000 dan yang paling mahal mencapai Rp 2.500.000. Selama Edisi Ramadhan 2016 lalu, Yoha berhasil mengantongi omset sekitar Rp 100 juta lebih. Ke depannya Yoha berharap agar desainnya dapat lebih dicintai oleh masyarakat Indonesia dengan cara terus membuat hal yang kreatif. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)