Erick Herlangga, Mantan Housekeeper Jadi Pemilik Hotel dan Klub Olahraga

Erick Herlangga, Presiden PT Golden Tulip Hospitality Management Indonesia (Golden Tulip Indonesia)
Erick Herlangga, Presiden PT Golden Tulip Hospitality Management Indonesia (Golden Tulip Indonesia)

Jika ingin sukses, harus usaha sendiri,” itulah petuah pengusaha Chairul Tanjung yang memotivasi Erick Herlangga menjadi pengusaha. Kala itu, Erick masih bekerja di Trans Hotel di Bandung (CT Corps) dan ikut andil membuka hotel tersebut dari awal.Saya terinspirasi dengan kata-kata tersebut. Setiap minggu saya selalu mengikuti meeting dengan Pak Chairul Tanjung. Saya memiliki kesempatan untuk mendengarkan apa yang dia bicarakan. Setiap minggu, dia selalu membicarakan entrepreneur,” kata Erick mengenang.

Keinginan menjadi pengusaha pun semakin menggebu. Ia yang pernah berkerja sebagai bellman dan housekeeper (2002-2003) di Hotel Golden Tulip Belanda memberanikan diri mengontak bos Golden Tulip untuk membuka waralabanya di Indonesia. Gayung pun bersambut. “Saya bilang ke bos Golden Tulip untuk membawa franchise-nya ke Indonesia. Namun, mereka bilang tidak memiliki uang untuk saya. Pihak Golden Tulip hanya bisa memberikan saya gaji pertama jika saya bisa mendapatkan dua kontrak proyek hotel. Akhirnya, saya mundur dari CT Corps dan mulai bekerja di Golden Tulip dengan jabatan Direktur Operation and Development. Tetapi, tidak digaji,” kata Erick.

Saat itu, untuk mencari dua kontrak proyek hotel, ia rajin mendatangi setiap proyek properti yang sedang dibangun dan menanyakan siapa pemilik proyek tersebut. Ia pun memburu proyek-proyek tersebut dengan menggunakan sepeda motor. “Tantangannya ada di dua bulan pertama dan pada bulan ketiga saya sudah mendapatkan tanda tangan tiga proyek hotel. Akhirnya, saya mendapatkan gaji dan menjadi Vice President Golden Tulip di Asia Tenggara karena saya berhasil mengembangkan Golden Tulip di Indonesia,” ungkapnya.

Saat ini, posisi Erick adalah Presiden PT Golden Tulip Hospitality Management Indonesia (Golden Tulip Indonesia). “Posisi saya sebagai partner Golden Tulip dan pemilik hotel. Saya memulai karier dari bawah dengan menjadi housekeeper dan sekarang telah memiliki hotel sendiri serta mengelola banyak hotel Golden Tulip,” katanya bangga.

Memang, keberhasilan Erick saat ini bukanlah diraih dalam sekejap. Ia bercerita, setelah lulus kuliah dari Jurusan Perhotelan NHI Bandung (sekarang bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) pada 1999, ia mendapatkan kesempatan bekerja di Golden Tulip di Belanda. “Saat itu, saya bekerja sebagai bellman dan housekeeper yang bersih-bersih toilet. Kerja saya tidak berhenti, setiap hari harus membersihkan 20 kamar, toilet, dan kitchen,” katanya mengingat masa lalunya.

Kemudian, ia pulang ke Indonesia dan diterima bekerja di salah satu hotel di Jakarta. Waktu itu, ia melamar sebagai supervisior. Namun, setelah bertemu dengan general manager hotel tersebut, Erick ditawari posisi asisten manajer dan mendapatkan promosi ke China selama lima tahun. Setelah itu, ia kembali lagi ke negeri ini dan ikut andil dalam membuka Hotel Hilton di Bandung. Kemudian, ia bekerja di Trans Hotel Bandung hingga akhirnya membawa waralaba Golden Tulip dan mengembangkannya di Indonesia.

Saat ini, kami memiliki 30 hotel dan 40 proyek. Target kami, dalam lima tahun ke depan akan membuka 100 hotel Golden Tulip,” ungkap Erick mengungkap rencana bisnisnya. Untuk mencapai target tersebut, ia memliki tiga strategi bisnis, yaitu mengakuisisi atau membeli hotel, menyewa, dan menjadi operator hotelnya saja. Dari target menjadi 100 hotel itu, pihaknya akan lebih banyak bermain di middle class customer hotel bintang 3. “Saya tidak terlalu menyukai hotel hign end, karena sedikit sekali pasarnya. Saya lebih suka di middle class, karena penetrasi pasarnya lebih banyak di sana,” katanya memberi alasan.

Untuk menjalankan bisnis hotelnya di Indonesia, ia mempekerjakan orang asing pada posisi senior vice president untuk menangani operasional hotel yang telah beroperasi. Selain itu, ia juga merekrut project director yang menangani semua proyek hotel yang belum beroperasi. “Tugas saya saat ini adalah fokus untuk meningkatkan valuasinya. Saya merupakan satu-satunya presiden hotel asing yang orang Indonesia. Karena, mereka sangat percaya dan berkomitmen terhadap orang Indonesia.,” ungkap Erick.

Saat ini, di Jakarta, pihaknya sudah memiliki satu hotel di bandara dan satu hotel lagi sedang dalam tahap pembangunan. Lalu, ada dua hotel lagi yang masih dalam proses akuisisi. Wilayah lain yang sedang dibidiknya adalah Banjarmasin. “Saya merupakan pemain yang terlambat masuk dan memulainya dari wilayah Kalimantan. Saya ingin semua daerah terkoneksi terlebih dahulu. Makanya untuk wilayah barat, saya juga membuka hotel di wilayah Aceh untuk menghubungkan semua wilayah,” katanya.

Apa diferensiasi hotelnya? “Perbedaan kami ada pada lobi, di mana kami menyatukan bar dan lounge. Hal ini karena anak-anak zaman sekarang tidak seperti anak-anak zaman dahulu. Anak-anak sekarang suka bekerja sambil makan dan minum-minum ringan,” ungkapnya. Konsep penyatuan bar dan lounge ini membuat lobi jadi lebih ramai dan hangat, termasuk oleh anak-anak muda yang bekerja di hotel sambil kongko-kongko. Sedangkan zaman dulu, letak bar dan restoran terpisah jauh sehingga lobi menjadi sepi. “Inilah salah satu perbedaan kami dengan hotel lain,” ujarnya.

Perbedaan kedua, Golden Tulip sebagai brand memberikan kebebasan dalam hal desain. Asalkan konsep lobinya harus sama seperti yang sudah ditetapkan. Misalnya, saat ini di Surabaya, pihaknya sedang membuat hotel e-sport. Pihaknya merenovasi dua lantai untuk dijadikan tema e-sport. Nantinya, setiap kamar akan tersedia komputer untuk bermain game. Saat ini, hotel di Surabaya ini sedang dalam masa percobaan dan sudah tahap desain interior.

Jika tidak laku, akan kami ganti lagi. Saya tidak tahu, saya hanya mencoba,” ungkap Erick. Untuk merenovasi dua lantai hotel tersebut, pihaknya bisa menghabiskan Rp 3 miliar-5 miliar. “Biayanya memang mahal, tapi kami ingin menjadi yang pertama,” ujarnya sambil mengungkap, biaya investasi untuk membangun satu hotel berkisar dari yang paling murah Rp 60 miliar hingga paling mahal Rp 700 miliar.

Sejak kapan Erick berkecimpung di dunia e-sport? “Sejak 2017. Awalnya, saya suka bermain game Mobile Legend. Namun, saya kesal karena kalah terus. Akhirnya, saya mencoba meng-hire orang untuk mengajari saya bermain. Namun, ternyata tim yang saya gaji tersebut selalu menang. Akhirnya, saya jadikan mereka tim profesional. Apa yang saya lakukan semuanya akibat dari ketidaksengajaan. Semuanya tidak pernah saya rencanakan. Karena, apa yang saya rencanakan selalu gagal,” katanya panjang lebar.

Ia menceritakan cita-citanya dulu: ingin menjadi pilot gagal, menjadi dokter gagal, kerja di konsulat juga gagal. Awalnya, ia juga ingin kuliah di jurusan hukum dan komunikasi, tetapi tidak suka. Akhirnya, ia mencoba kuliah di NHI Bandung. “Semua yang saya dapatkan hari ini adalah hal yang tidak saya rencanakan,” katanya.

Di dunia e-sport, Erick dipercaya sebagai Ketua Badan Tim Nasional Indonesia untuk e-sport SEA Games 2019. Ia juga memimpin delegasi e-sport Indonesia untuk SEA Games 2019. “Itu tidak pernah terpikirkan oleh saya. Bahkan, saat ini saya sudah memiliki klub/tim basket,” ungkapnya.

Memiliki klub basket pun akibat ketidaksengajaan. Ceritanya, waktu itu ia melihat Daniel Wenas (pemain basket) curhat di YouTube bahwa dia memiliki masalah gaji di klub basket Siliwangi. “Kemudian, saya kontak dia dan akhirnya saya membeli klub basket Siliwangi itu, sampai akhirnya menjadi tim profesional. Jadi, saya membeli semua pemain Siliwangi, karena Siliwangi secara PT atau perusahaannya sudah tidak ada sehingga saya mendirikan perusahaan baru (klub baru bernama Louvre),” katanya. Klub Louvre akan melakukan debutnya pada 2020 setelah dinyatakan resmi bergabung dengan Indonesia Basketball League (IBL) musim tahun 2020 bersama 19 tim basket lainnya.

Kemudian, Erick juga mendirikan e-sport Louvre. “Tim ini merupakan tim e-sport satu-satunya yang tempat tinggalnya di hotel bintang 5. Semuanya tinggal di Hotel Golden Tulip Surabaya,” katanya. Seperti halnya cabang olahraga lain, e-sport juga ada pelatihnya dan ada aturannya berapa lama orang boleh main game. “Kalau tim saya ada yang mengatur, atlet juga diwajibkan untuk olahraga, termasuk berenang,” katanya menerangkan.

E-sport Louvre pun pernah meraih prestasi dengan menjadi Runner-up di Piala Presiden Esports 2019, MPL Season 3, dan menang di ajang Mobile Legends Southeast Cup 2019 di Filipina. “Saat ini, saya memiliki 5-6 tim, bahkan sekarang saya membeli tim e-sport dari Amerika untuk bisa main di Piala Dunia,” ungkapnya bangga.

Apa kaitan bisnis Erick dengan tim e-sport dan IBL? “Saya tidak mungkin melakukan sesuatu jika tidak ada hitungannya,” cetusnya. Ia mencontohkan, per tahun ia bisa menghabiskan uang untuk pemasaran hotelnya sebesar Rp 2 miliar-3 miliar. Sekarang, uang pemasaran itu ia alihkan ke tim basket. Sebelumnya, ia harus beriklan di berbagai macam platform; sekarang bisa langsung di kaus para pemain National Basketball League (NBL) Louvre serta melakukan pemasaran di majalah dan media sosial. “Saya ingin spend uang marketing 60-70% ke tim basket ini,” ujarnya.

Erick menargetkan bisa mensponsori tim basket Louvre sekitar Rp 5 miliar dan untuk e-sport Rp 5 miliar. “Lalu, bagaimana caranya saya mencari uang itu? Untung, saya memiliki hotel. Jadi, ketika saya meminta sponsor ke bank, saya menjanjikan payroll karyawan saya di bank tersebut. Tapi in return, bank mensponsori saya,” katanya menjelaskan. (*)

Dede Suryadi dan Anastasia A.S.; Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)