Profil Profesional zkumparan

Kisah “Godfather” Ponsel China

Kisah “Godfather” Ponsel China

Tak banyak yang mengenalnya di jagat bisnis teknologi. Padahal, dia menguasai 25% pasar telepon seluler (ponsel) dunia. Agresivitasnya dalam pemasaran dan promosi memegang peran bagi kesuksesan produknya.

Juli 2021. Firma riset pasar terkenal, Counterpoint Research, merilis laporan terbaru. Isinya memaparkan lima besar pabrikan ponsel dunia pada kuartal II/2021. Di peringkat wahid masih berdiri Samsung dengan angka pengiriman smartphone mencapai 58 juta unit dan pangsa pasar 17,6%. Berikutnya, Xiaomi (53 juta unit, dengan pangsa pasar 16,1%). Ia menggusur Apple ke posisi ketiga (49 juta unit, 14,8%). Selanjutnya, OPPO ada di posisi keempat (34 juta unit, 10,3%). Adapun Vivo di urutan kelima (33 juta unit, 10%). Di luar mereka, sejumlah merek seperti OnePlus, Realme, dan Lenovo dimasukkan dalam kategori “Others” (103 juta unit, 31,3%).

Apa yang istimewa dari laporan ini?

Sepintas hanya berita tentang posisi Xiaomi yang menjadi runner-up, menyalip Apple. Xiaomi bahkan diprediksi tak akan lama lagi menjungkalkan Samsung di peringkat pertama. Selanjutnya, kita akan melihat posisi 4 dan 5 hanyalah ponsel China biasa, yakni OPPO dan Vivo. Begitu pun dengan ponsel lainnya seperti OnePlus, Realme, Lenovo, dan iQOO. Semuanya dari Negeri Panda.

Namun, tunggu dulu… Bagi yang belum familier, ada fakta menarik: tahukah Anda bahwa OPPO, Vivo, OnePlus, Realme, dan iQOO keluar dari satu “kandang” yang sama bernama BBK Electronics? Apa? Satu pabrik yang sama?

Yes, betul, mereka dari satu “rahim” yang sama, dan otomatis muncul dari pemilik yang sama.

Fakta ini cukup menarik lantaran terbilang langka. Biasanya, perusahaan hanya mengeluarkan satu merek ponsel andalan untuk mengarungi panggung bisnis. Samsung bahkan menggunakan satu merek untuk beragam kategori produknya: dari kulkas, mesin cuci, AC, televisi, sampai ponsel. Apple pun demikian. Begitu juga dengan Xiaomi yang kini masuk ke pasar laptop bermerek sama dengan ponselnya. Jarang satu pabrik meluncurkan lima merek sekaligus, apalagi kemudian mampu bicara di level global.

Namun, itulah yang dipilih Duan Yongping, sosok berada di balik lima ponsel tersebut (OPPO, Vivo, OnePlus, Realme, dan IQOO). Lewat seluruh ponselnya itu, dia ditaksir menguasai 25% pangsa pasar ponsel global. Lantaran kehebatannya ini, dia pun dijuluki “godfather”-nya industri ponsel China.

Menariknya, tak banyak yang tahu siapa sebenarnya sosok yang satu ini. Ya, Yongping adalah figur yang bisa dikatakan berada di bawah permukaan radar. Dia tak seperti Jack Ma yang sering tampil (belakangan seperti tiarap) dan Ma Huateng, bos Tencent yang ramah media. Bahkan, para pencinta teknologi (geeks) di China yang tertarik teknologi digital lebih mengenal Lei Jun, pendiri Xiaomi, dan Ren Zhengfei, pembesut Huawei.

Tinggal bersama keluarganya di Palo Alto, California, Amerika Serikat, Yongping seperti pendekar sakti yang tenggelam di tengah hiruk-pikuk dunia persilatan. Lelaki murah senyum ini seperti tipikal pengusaha yang lebih senang orang bicara tentang produknya ketimbang dirinya. Padahal, dia memiliki semua syarat untuk sering tampil di depan publik.

Ya, Yongping punya segalanya untuk tampil membanggakan diri karena punya banyak bahan untuk dibicarakan. Terutama ponselnya, tentu. Mengacu laporan Counterpoint Research, Juli 2021, untuk pasar China, BBK sangat dominan. Vivo berada di posisi teratas panggung ponsel Negeri Tirai Bambu itu dengan pangsa pasar 24%, disusul OPPO (20%), lalu diikuti Xiaomi di posisi ketiga (15%). Adapun nomor 4 ditempati Honor, mantan anak usaha Huwaei (13%), yang menyalip Apple.

Namun, sekali lagi, karena sisi low profile-nya, kehidupan Yongping senyap pemberitaan. Sangat sedikit yang mengetahuinya. Padahal, liku-liku hidupnya amat menarik. Lahir pada Maret 1961, lelaki ini tumbuh di keluarga guru di Kabupaten Taihe, Provinsi Jiangxi. Orang tuanya sangat menyayanginya. Masa kecilnya dihabiskan dalam kebahagiaan.

Oktober 1977, selepas lulus SMA, anak pintar dan ceria ini sadar titik penting dalam kehidupannya adalah pendidikan. Sejak itu, kuliah menjadi tujuan utamanya. Otaknya yang encer membuatnya diterima di Zhejiang University, yang terletak di Hangzhou. Di sini dia belajar tentang wireless electronics engineering.

Yongping mengaku saat di Zhejiang University, dia masih sangat “dusun”. Pada satu waktu, kawannya ingat anak Jiangxi itu ingin menelepon pamannya di Hangzhou. Dasar orang dusun, Yongping mengamati bagaimana orang menelepon terlebih dahulu. Dia pelajari cara-caranya. Peristiwa yang bagi kawannya menggelikan karena kelak dia bukan lagi menggunakan telepon, tapi malah memproduksi dan merajai ponsel di negerinya.

Selulus dari universitas, Yongping bekerja di sebuah BUMN, Beijing Electronic Tube Factory, dengan gaji bulanan 46 yuan. Namun, kakinya tak lama menjejak di sini. Entah karena punya pemahaman akan kekuatan disrupsi yang dibawa teknologi, posisi yang tidak cocok, atau lingkungan kerja yang tak sesuai, setelah tiga tahun bekerja, dia merasa lelah dengan pekerjaannya. Dia pun melangkah keluar, bersiap mengambil studi master.

Renmin University of China menjadi tempatnya berlabuh. Gelar master bidang ekonomi dikantonginya pada 1988. Saat lulus, Yongping sebenarnya berpeluang untuk tetap di Beijing. Apalagi, banyak perusahaan yang datang, ingin merekrutnya. Namun, semua tawaran itu tak diambilnya. Dia mencoba peruntungan di Guangdong.

Tahun 1989, kaki anak muda ini melangkah masuk ke pabrik kecil, Rihua Electronic, yang berada di bawah Yihua Group di Zhongshan City, Guangdong. Pada saat itu, karena manajemen yang buruk, pabrik merugi 2 juta yuan sehingga berada di ambang kebangkrutan.

Di tengah kemelut ini, Yongping diangkat oleh Chen Jianren, salah seorang petinggi grup ini, menjadi direktur. Tak lama pula setelah dia memegang kendali, sejumlah perubahan drastis dilakukan, terutama menyangkut gaji dan bonus yang berdampak pada pemunculan budaya perusahaan yang lebih kompetitif.

Peruntungan mulai dipeluknya ketika memasuki bisnis konsol game. Ketika itu, Nintendo menjadi penguasa pasar. Produknya, “Family Computer”, populer di seluruh dunia dengan game-nya yang top, Super Mario. Orang China juga banyak yang menggemarinya. Namun, harganya yang mencapai 2.000 yuan terbilang mahal untuk banyak orang.

Melihat hal tersebut, sejumlah pabrikan pun mulai melakukan peniruan. Tak terkecuali Yongping. Berbekal kemampuan teknologi radio yang dimilikinya, dia mengarahkan perusahaannya membuat prototipe milik Nintendo hanya dalam dua bulan. Dengan fitur yang sama, tetapi harga yang lebih murah, konsol game buatan Yongping yang diberi merek Cassidy itu laris manis di pasar. Di masa ketika konsol asli tidak bisa dibeli banyak orang, Cassidy menjadi produk yang dinikmati banyak anak-anak China.

Selain senang teknologi, Yongping juga sosok yang percaya pada kekuatan marketing. Tahun 1991, dia mengeluarkan 400 ribu yuan untuk beriklan di televisi. Cara ini ampuh. Produk makin laris. Dalam waktu tiga tahun, nilai penjualan mencapai 100 juta yuan. Ini membuat reputasi Yongping di lingkungan Yihua Group melejit.

Belum mau berhenti memberi kejutan, tahun 1993, secara inovatif, Yongping mengembangkan learning machine dan repeater Xiao Bawang, serta mengundang Jackie Chan untuk mengiklankannya di televisi. Xiao Bawang segera menjadi produk populer di seluruh negara.

Sekalipun performa perusahaan terus menanjak, karena Yongping tak punya saham, dia hanya mendapat gaji. Dia merasa sistem harus diubah demi kesejahteraan karyawan dan eksekutif. Tahun 1995, dia pun mengusulkan reformasi untuk mengubah sistem kepemilikan khusus untuk Xiao Bawang: share ownership program. Pada masa itu, usulan tersebut terbilang sangat sensitif. Tak mengherankan, proposalnya pun mental. Yongping tak punya pilihan lain kecuali pergi.

Sebelum pergi, Yongping dan Chen Jianren bicara dari hati ke hati. Jianren mengungkap ingin mempertahankan Yongpin, tapi tahu tak bisa memenuhi permintaan yang ada. Maka, Jianren pun mengizinkan kepercayaannya itu pergi. Namun, ada gentleman’s agreement di antara mereka. Isinya: Yongping tidak akan berkompetisi untuk produk sejenis di tahun pertama.

Pada 28 Agustus 1995, Yongping resmi mengundurkan diri. Orang-orang yang menjadi saksi peristiwa tersebut menyatakan bahwa hanya perlu waktu 15 menit untuk mengalihkan pekerjaan. Ini dimungkinkan terjadi lantaran Yongping telah terbiasa mendelegasikan kewenangan dan tak terbiasa mengurusi hal-hal yang sifatnya printilan di meja karyawannya. Sebagai hadiah perpisahan, Jianren memberikan Yongping sebuah Mercedes-Benz.

Lepas dari Yihua Group, pemuda dari Jiangxi ini tak berpindah provinsi. Sebulan kemudian (September), Yongping mendirikan Ligao Electronic di Dongguan, Guangdong. Enam karyawan Yihua Group mengikutinya, termasuk Shen Wei dan Tony Chen Mingyong.

Karena berjanji pada Jianren tak akan berkompetisi di tahun pertama, tak ada yang bisa dilakukannya tahun itu. Hal paling penting yang bisa dibuatnya adalah memberikan nama baru untuk perusahaan. Dia pun memateri satu nama: BBK. Menurutnya, BBK itu kurangà-lebih artinya “going up step by step”.

Di tangan Yongping, bisnis BBK kemudian dipisah menjadi tiga bagian. Pertama, bagian yang memproduksi perangkat elektronik edukasi yang dipimpin oleh Huang Yihe dengan bendera BBK Education Electronics Company. Produknya antara lain portable e-dictionary dan e-study kit. Kedua, lini audiovisual yang membuat VCD dan DVD player, dipimpin Chen Mingyong lewat nama BBK Audiovisual Electronics Company. Ketiga, bagian yang menghasilkan perangkat telekomunikasi elektronik seperti telepon cordless di bawah pimpinan Shen Wei dalam naungan BBK Communications Electronics Company.

Perkembangan BBK begitu dinamis. Naik-turun. Tahun 1998, penjualan VCD milik BBK menempati peringkat ketiga di pasar China, sementara cordless phone dan kamus elektronik menempati peringkat pertama. Namun, roda bisnis tak bergulir seperti harapan semula. BBK Audiovisual Electronics Company yang bermain di pasar VCD dan DVD mengalami pukulan berat di tahun 2001.

Saat itu, seiring dengan masuknya China ke dalam WTO, pabrikan dunia seperti Sony, Philips, Panasonic, dan banyak perusahaan lainnya mensyaratkan pabrikan VCD dan DVD Negeri Panda untuk membayar paten. Ujungnya, banyak pabrikan yang ambruk, bahkan gulung tikar.

Tahun 2003, tak tahan karena penjualan VCD dan DVD player makin anjlok, BBK Audiovisual Electronics Company bangkrut. Atas arahan Yongping, Chen Mingyong beserta seluruh karyawan bergabung dengan perusahaan yang baru dibuatnya, Oppo Electronics Corp. Dengan menggunakan merek OPPO yang sudah didaftarkan sebelumnya, Oppo Electronics Corp. memproduksi MP3 dan MP4 player, serta peralatan Hi-Fi.

Sampai di titik ini, tak ada lompatan berarti dalam kehidupan Yongping. Titik terang muncul sewaktu dia melihat dunia ponsel semakin berkembang dan menganggapnya bisa menjadi pintu kesuksesan. Ini terjadi di tahun 2007, ketika iPhone meluncur. Terinspirasi Steve Jobs, Yongping ingin mulai membuat produk baru (ponsel) sekaligus membangun mereknya yang juga anyar. Sebagai pengingat, pada tahun 2007 itu pula, sistem Android lahir.

Duan Yongping, sosok berada di balik lima ponsel OPPO, Vivo, OnePlus, Realme, dan IQOO.
Duan Yongping, sosok di balik industri ponsel China: OPPO, Vivo, OnePlus, Realme, dan IQOO.

Pada 2009, langkah besar itu pun akhirnya diayun Yongping. Lelaki berambut cepak ini membawa BBK terjun ke pentas pasar ponsel. Dia mencoba peruntungannya dengan mengubah haluan bisnis Oppo Electronics Corp. Produksi MP3 dan MP4 player serta peralatan Hi-Fi ditinggalkan, digantinya dengan ponsel. Merek yang disematkan: OPPO.

Siapa nyana, perubahan arah haluan bisnis ini membawa angin keberuntungan yang besar. Keputusan masuk ke pasar ponsel terhitung tepat. Dibuka lebarnya jaringan 3G —dan kemudian 4G— di Negeri Tirai Bambu, yang beriringan dengan sistem Android yang kian diterima pasar dan menggusur Nokia yang sebelumnya merajalela tanpa tanding, membuat OPPO laris manis di China, bahkan ke sejumlah negara di Asia yang menerima ponsel dengan banderol harga lebih murah ketimbang Samsung, apalagi iPhone itu.

Menariknya, setelah OPPO laris, Yongping merasa tak cukup meluncurkan satu merek ponsel. Tahun 2011, BBK Communications Electronics Company diubahnya menjadi Vivo Communication Technology. Perusahaan yang memang sudah bergelut dengan perangkat komunikasi elektronik seperti telepon cordless ini pun diarahkan membuat ponsel mengikuti jejak saudaranya, OPPO. Merek yang disematkan: Vivo.

Belakangan, yang kemudian membuat Yongping dijuluki “godfather”-nya industri ponsel China adalah OPPO dan Vivo bukanlah akhir dari langkahnya di pasar ponsel. Yongpin seperti ketagihan meluncurkan ponsel-ponsel baru. Bukan dalam konteks menambah varian karena mengimbuhi fitur baru, melainkan merek!

Tahun 2013, lewat jalur Oppo Electronics Corp. dia meluncurkan anak usaha yang mengeluarkan produk OnePlus. Kemudian, tahun 2018, OPPO mengeluarkan sub-brand yang diberi nama Realme. Adapun di jalur Vivo Communication Technology, pada 2019 Vivo mengeluarkan sub-brand berlabel iQOO.

Banyak yang bertanya, bagaimana Yongping mengatur semua portofolionya tersebut?

Orang yang mengenalnya menyebut bahwa di awal-awal BBK berdiri, Yongping menerapkan kebijakan berbagi jalur distribusi di antara produk-produknya. Belakangan, ketika merek-merek muncul dan berdiri sendiri, mereka saling berkompetisi. Hubungan di antara mereka, kabarnya, seperti saudara sedarah yang terpisah tanpa interaksi dan koneksi. Bahkan, mereka bisa saling berebut konsumen di pasar. Namun, bila satu ada masalah, Yongping akan mengarahkan agar anak-anak usahanya menolong satu sama lain.

Tunggu. Pertanyaannya kemudian, mengapa perusahaan dan merek-mereknya bisa sukses?

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Yongping pernah mengutarakan bahwa sebenarnya membuat ponsel bukanlah keahliannya, tetapi dia yakin perusahaannya bisa sukses di industri ini. Kuncinya, katanya, memilih mitra dan pemasok komponen yang tepat, membangun reputasi yang hebat, melakukan perubahan jika ada suatu kesalahan, dan terakhir adalah punya integritas dan kejujuran.

Dari sekian jawaban tersebut, yang diyakini para analis berpengaruh besar adalah Yongping telah lama dikenal sebagai “marketing man”. Sejak masih di Yihua Group, dia dikenal paham pentingnya beriklan yang tepat. Jackie Chan, Jet Li, dan Stephen Chow pernah mempromosikan produknya, yang berefek laris manisnya produk di pasar. Bahkan, Arnold Schwarzenegger pun mengiklankan produk BBK.

Di Indonesia, strategi pemasaran BBK yang agresif juga terasa. Yongping tak sayang uang untuk mengguyur pasar. Saat pertama kali masuk ke Tanah Air, OPPO tercatat sebagai produsen smartphone paling aktif berpromosi di televisi nasional selama 2016.

Tak hanya itu, dia pun aktif bergerilya meluaskan jaringan. Banner-nya bertebaran di pusat elektronik kota besar ataupun kecil. Figur publik juga terus digaetnya, mulai dari Ayu Ting Ting, Laudya Cinthya Bella, Chelsea Olivia, Chelsea Islan, Isyana Sarasvati, Rio Haryanto, Reza Rahadian, hingga Raisa Andriana. Mereka menjadi brand ambassador.

Begitu pun saat Vivo datang. Produk ini memboyong sejumlah nama yang tak kalah tenar, seperti Agnez Mo, Afgansyah Reza, Zaskia Sungkar, Pevita Pearce, Prilly Latuconsina, dan Shireen Sungkar.

Selain strategi pemasaran yang agresif, Yongping terkenal bukan orang yang pelit. Saat awal mendirikan BBK, dia menguasai 70% saham. Sisanya dibagikan kepada enam karyawan Yihua Group yang mengikutinya (Shen Wei, Chen Mingyong, dkk.).

Belakangan, karena konsisten menerapkan share ownership program, saham Yongping terus terdilusi. Kini disebut-sebut dia hanya menguasai 17%, sementara sekitar 60% dimiliki eksekutif dan karyawannya. Model ini membuat eksekutif dan karyawan semangat bekerja untuk BBK. Apalagi, Yongping terkenal sebagai bos yang murah tangan. Dia sering membagikan bonus buat karyawannya.

Namun, yang diyakini banyak pihak turut membuat produk-produk BBK cepat menyebar adalah kemurahan hati Yongping kepada para distributor ponselnya. Bentuknya, dia memberi margin lebih besar kepada distributor OPPO, Vivo, dan merek-merek lain miliknya ketimbang pabrikan ponsel lain. Inilah yang membuat OPPO dkk. melaju cepat di tengah para pemain yang lebih senior.

Menariknya, Yongping dan sang istri, Liu Xin, juga terkenal sebagai filantrop murah hati. Mereka memiliki yayasan yang bertujuan mulia, yakni memberikan beasiswa kepada mahasiswa China yang belajar engineering di Stanford University.

Apa pun, Yongping tetap sosok yang jauh dari radar pemberitaan. Komentarnya sangat jarang terdengar. Satu pernyataannya yang kerap dikutip sebagai nasihat dalam berbisnis adalah, “Bertaruhlah pada hal yang kamu mengerti. Fokus pada pengertian model bisnis dan bagaimana bisnis itu bisa menghasilkan uang.” Selebihnya, dia tenggelam di Palo Alto, mengatur kerajaan bisnis nun di sana, di Guangdong. Memang persis seperti seorang godfather yang mengelola di balik layar tanpa perlu banyak bercakap-cakap.

Yang pasti, kini di usia 6o tahun, Yongping telah memiliki segalanya. Kekayaannya diperkirakan mencapai Rp 20,7 triliun. Kekayaan yang terus mengalir seiring dengan merajalelanya OPPO, Vivo, Realme, OnePlus, dan iQOO. Di luar itu, dia dikenal sebagai mentor sejumlah anak muda, seperti Ding Lei (bos online game NetEase) dan Huang Zheng (pendiri marketplace Pinduoduo). ***

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved