Neneng Goenadi: Mendorong Karyawan Lebih Kreatif, Produktif dan Disiplin

Sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi puncak Accenture Indonesia (AI), Neneng Goenadi dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Jabatan Direktur Pengelola untuk Indonesia yang diterimanya pada April 2013 mengandung konsekuensi: dia harus bisa meyakinkan klien bahwa wanita tidak kalah dengan pria. “Saya membutuhkan waktu agar klien percaya bahwa pemimpin perempuan pun bisa memberikan masukan yang sepadan,” kata wanita perkasa yang bergabung dengan AI sejak 1990 ini.

Neneng GoenadiMenurut Neneng, sejak Accenture (dulu Andersen Consulting) berdiri, memang baru kali ini dipimpin seorang perempuan. Namun, baginya, itu tidak menjadi masalah karena semua tantangan bisa dihadapi. Sebab, dia memiliki tim kerja yang solid. “Sistem kerja kami dari dahulu adalah matriks. Jadi, peran tim dalam kerja kami sangat penting. Masukan selalu kami bahas bersama sehingga keluaran atau hasilnya lebih matang,” ujarnya. Contoh, bagaimana menghadapi pegawai yang akan keluar karena ingin bergabung dengan perusahaan startup. Jadi, dia bersama timnya memikirkan cara untuk mempertahankan mereka.

Secara global, Accenture menggunakan performance achievement. Jadi, yang menentukan target adalah karyawan itu sendiri, yang dibicarakan bersama mentor dan career counselor-nya agar dapat dilihat apakah selaras dengan tugas yang diemban dan bagaimana mencapainya. Dengan cara itu, tanggung jawab ada di setiap karyawan, bukan sekadar menjalankan perintah dan bukan sekadar memenuhi proses evaluasi.

Tugas utamanya adalah memastikan bahwa pimpinan perusahaan menjalankan apa yang seharusnya dilakukan. Jadi, eksekusi bukan di tangan Neneng, melainkan di tangan pemimpin setiap kegiatan/proyek. Dengan demikian, Neneng lebih fokus pada strategi bisnis dan cara membuat tempat bekerja sebagai tempat yang layak dan nyaman (a great place to work) bagi semua. Tentu kalau ada permasalahan, dibicarakan bersama, karena perusahaannya menganut open system management.

Membuat karyawan lebih kreatif, produktif dan disiplin adalah hal yang utama dia lakukan. Pasalnya, kalau mereka tidak diberi kesempatan, otomatis kreativitas dan produktivitas mereka akan rendah, karena semua diatur. Dengan demikian, kreativitas harus diasah supaya produktivitas terjadi. Karyawan yang kreatif dan produktif sebaiknya juga diberi penghargaan. Tidak harus dari segi finansial. Mengakui peran seseorang pun merupakan sebuah penghargaan. Adapun disiplin adalah sikap profesional yang sudah harus ada pada diri setiap karyawan jika ingin bekerja dengan baik.

AI juga menerapkan performance achievement sehingga Neneng bisa melihat kinerja seseorang sesuai dengan pangkat, tanggung jawab dan targetnya. Reward-nya tentu akan memengaruhi kenaikan gaji, bonus dan kesempatan untuk naik pangkat. Hal tersebut lumrah terjadi. Namun bila tidak tercapai, tidak langsung diberi punishment, tetapi diberi arahan. Bila arahan tidak terjadi, ada personal improvement plan yang menentukan agenda dan goal baru untuk dicapai dalam enam bulan. Bila tidak tercapai, akan diberi exit plan. “Jadi, tidak langsung dikeluarkan begitu saja. Pemecatan langsung hanya terjadi bila merusak nama perusahaan atau klien kami dan berbuat yang melanggar hukum,” ungkap alumni Jurusan Teknik Sipil Universtias Parahyangan Bandung ini.

Dibandingkan pemimpin pria, adakah pendekatan yang berbeda ketika dirinya memimpin? “Saya selalu mengatakan hal yang sama, yaitu bahwa perempuan ada unsur memimpin dengan hati. Sebagian besar pria lebih memimpin dengan logika. Padahal, permasalahan yang dihadapi seseorang bukan hanya karena pengaruh faktor logika, tetapi bisa karena ada faktor lain, misalnya masalah keluarga, pribadi,” ujar peraih gelar MBA Keuangan dari Cleveland State University, Amerika Serikat ini.

Bicara kinerja bisnis selama dia memimpin, Neneng mengatakan, industri konsultasi di Indonesia mengalami masa naik-turun. “Saya pikir keberhasilan Accenture bisa bertahan hingga hampir 50 tahun bukan karena saya. Tetapi, dari pemimpin sebelumnya dan rekan kerja semua. Karena kalau kepercayaan terhadap perusahaan turun, bisnis juga turun,” katanya.

Dalam pandangan Jefferson Soesetyo, Manajer Senior Konsultasi Manajemen AI, Neneng adalah orang yang menjadikan AI sebagai great place to work. Hal ini karena Neneng menjadi pionir dalam membuat inklusi dan keberagaman. “Jadi kalau dilihat, inclusion dan diversity, yang nyatanya adalah gender equality. Bisa dilihat sekarang yang bekerja di Accenture 40% wanita,” ujarnya.

Dalam kepemimpinan Neneng, juga ada Women Mentoring Program, yaitu menyaring para mahasiswi dari universitas ternama di Indonesia sebanyak 20 orang. Nantinya, mereka akan diberi mentoring oleh pihak AI, dan Neneng pun ikut andil dalam program ini. Mereka diberi tip dan trik dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Mereka antara lain diberi bekal cara membuat CV yang baik dan menghadapi wawancara. “Program tersebut sudah berjalan selama empat tahun. Selain itu, setiap tahun kami juga memperingati International Women's Day,” ungkap Jefferson.

Reportase: Sri Niken Handayani

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)