Novi Samodro, Srikandi Baru Hotel Dharmawangsa

The Dharmawangsa Jakarta Hotel per Agustus tahun ini baru saja mengangkat General Manager baru, Novi Samodro. Seorang perempuan dengan segudang pengalaman perhotelan yang diharapkan menjadi Srikandi yang bisa membawa peningkatan signifikan bagi hotel bintang 5 tersebut. Novi sebelumnya menjabat sebagai Kepala Divisi Sales & Marketing sejak bergabung di Hotel Dharmawangsa pada tahun 2011.

Lulusan Akademi Pariwisata NHI Bandung ini telah melanglang buana selama 25 tahun di industri perhotelan. Ia memulai karier di perhotelan pada  1992 di Hotel Bali Cliff di Bali. Kemudian, di tahun-tahun berikutnya ia berkarier di sejumlah hotel internasonal ternama seperti Shangri La, Hilton, Intercontinental MidPlaza, Four Seasons, sampai akhirnya pada 2011 bergabung di Hotel Dharmawangsa hingga saat ini.

“Kuliah saya jurusan Food & Beverages, lalu saya lulus program BA dari College of the Canyon di Valencia, California. Dari keseluruhan pengalaman tersebut, saya paling sering menangani di bagian event dan sales & marketing.  Saya diangkat sejak 1 Agustus menggantikan Pak Alexander Nayoan yang menjadi komisaris. Saya adalah perempuan Indonesia pertama di antara general manager hotel bintang 5 lain,” ujarnya.

Semenjak dibuka umum pada 1997, Hotel Dharmawangsa menargetkan pasar para pebisnis. Mempertahankan reputasi sebagai hotel luxury bintang 5 yang menyediakan akomodasi kebutuhan pebisnis secara menyeluruh. Hotel Dharmawangsa mengunggulkan aspek ke-Indonesiaan dengan menghadirkan interior yang mengangkat kultur Indonesia dan makanan khas daerah.

Perempuan alumni SMAN 8 Jakarta ini berencana akan terus mempromosikan local taste Hotel Dharmawangsa di tengah gempuran hotel bintang 5 lain yang didominasi oleh hotel-hotel multinasional. Arsitektur lokal dan nuansa homie walau di tengah kota Jakarta adalah hal-hal yang akan semakin digaungkan lebih kencang oleh Novi. Selain itu visinya ingin Jakarta menjad MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang terintegrasi berbagai fasilitas, All in One. Berikut kutipan wawancara SWA Online dengan Novi Samodro.

Bagaimana cerita awal masuk ke Industri perhotelan? 

Saya lulusan perhotelan di NHI bandung. Lulus kuliah sempat kerja di bank setahun. Kenapa saya keterima di bank karena kan kalau anak perhotelan bahasa inggrisnya di atas rata-rata. Tapi setelah menjalaninya saya merasa kurang cocok. Lalu, saya dapat kesempatan untuk sekolah hotel management di Amerika setahun. Tepatnya, program BA, di College of the Canyon di Kota Valencia di California. Setelah itu ketika kembali ke Indoensia, langsung bekerja di Bali Cliff, sebagai guest relation. Ini awal mula karier pertama saya pada 1992.

Tahun 1994, saya melamar ke Shangri La hotel Jakarta. Cukup lama saya bekerja di situ sekitar 7 tahun. Mulai dari seorang ales sampai menjadi head of department. Mengurusi orang meeting, sewa tempat, pernikahan, dan sejenisnya. Di tengah-tengah itu saya sempat pindah ke Hilton selama satu tahun, tapi balik lagi ke Shangri La. Kemudian, saya pindah lagi ke Hotel Interconinental MidPlaza selama dua tahun. Lalu pindah ke Four Seasons Hotel selama tiga tahun. Pada tahun ke-4 di FourSeasons saya pindah ke bagian room sales, marketing dan lain-lain. Sampai akhirnya pindah ke Dharmawangsa sejak 6 tahun yang lalu yaitu di tahun 2011. Ketika masuk itu saya menjadi kepala Divisi Sales & Marketing. Di tahun ke-4 bekerja, saya mendapat promosi menjadi asisten managing director yang saat itu dijabat Pak Alex. Jadi totalnya sudah sekitar 25 tahun saya berkecimpung di industri perhotelan.

Bagaimana bisa masuk ke manajemen Hotel Dharmawangsa?

Ada rekan yang mengajak masuk ke sini. Tapi memang saya sudah memperhatikan dan tertarik ke Dharmawangsa sejak lama. Hotel berkarakter Indonesia. Agak sedikit idealis memang. Bahwa menurut saya hotelnya cantik, sangat Indonesia, dan dari owner nya sendiri pun ingin orang Indonesia yang bekerja di sini.

Buat saya ini menarik, ingin mengangkat Dharmawangsa ke jajaran hotel-hotel asing. Dengan kecantikan hotel ini, hardware-nya yang luar biasa, saya yakin pasti bisa. Saya yakin dengan networking yang saya punya. Kami berjuang untuk supaya lebih banyak orang kenal dan tahu akan hotel ini dengan membuat banyak kegiatan. Di mana banyak orang yang menganggap bahwa Dharmawangsa harganya mahal sehingga jarang menjadi pilihan. Dianggap mahal sebetulnya ini bukan image yang jelek, tapi kami ingin supaya orang-orang tidak perlu takut terhadap hal itu, bahkan kami sebetulnya bisa kasih kualitas yang lebih dibanding hotel bintang 5 lain dengan harga yang sama.

Apa saja tugas Anda sebagai General Manager?

Saya mengurusi hotel dan Klub Bimasena, kalau yang apartemen lain lagi. Tugasnya lebih kepada memastikan quality, satisfaction, profit dan revenue berjalan dan bertumbuh dengan baik. Saya ingin para tamu datang dengan perasaan happy dan pulang dengan lebih happy.

Apa saja core business Dharmawangsa?

Yang utamanya adalah akomodasi kamar, ruang meeting, spa, restaurant.  Klien kami paling banyak dari ekspatriat, kebanyakan adalah orang asing. Ada 99 kamar hotel. Kami punya 14 meeting room, dari yang kecil sampai yang besar. Kalau meeting room hampir full setiap hari.

Apa strong point dari Dharmawangsa saat ini?

Kelebihan utama kami adalah makanan. Kami sangat terkenal dengan makanan Indonesia yang otentik. Kami di sini mengutamakan keotentikannya, semua serba original. Saat ini kami juga ada inovasi terbaru yaitu jamu, segala macam jamu. Benar-benar jamu yang dibuat sendiri asli. Jadi kami merekrut orang yang memang pintar membuat jamu.

Target consumer kami memang di kalangan A plus. Menyasar orang-orang kelas tersebut, yang mungkin tidak bisa cocok dengan lingkungan yang terlalu hingar bingar. Kami di sini menciptakan suasana yang life balance. Seperti bisnis lounge di sini kami sengaja menawarkan experience yang berbeda. Kami ingin membentuk Dharmawangsa sebagai destinasi sendiri di mata mereka. Artinya destinasi adalah kami membuat tematik di lingkungan hotel.

Di pintu masuk, Anda bisa lihat ada hiasan yang merepresentasikan surya. Lalu di lobby selalu ada ornament bundar yang artinya bayangan dari surya tersebut. Di restoran, kami membuat nuansa Betawi, mulai dari lantai, meja, kursi semaunya dibuat khas betawi. Jadi semua hiasannya bercerita. Ada hiasan tombak segala macam, ini semua ada artinya. Jadi semua area di hotel kami ini ada ceritanya. Desainer interiornya adalah almarhum Jaya Ibrahim. Dan ini adalah satu-satunya karya beliau yang ada di Jakarta.

Untuk membuat tema seperti ini yang perlu diperhatikan adalah estetika dan safety. Kami benar-benar memikirkannya. Sementara kebanyakan owner hotel lain tidak peduli dengan estetika yang penting safety saja, tapi kalau kami harus menjaga keduanya. Menurut saya tidak ada hotel dengan karya begini, tidak hanya enjoy dengan pelayanan dan makanan tetapi kecantikan hotel.

Bagaimana target market?

Dari awal kami memang sebagai hotel bisnis. Kalau hotel bisnis kan memang kebanyakan orang asing yang punya bisnis di Indonesia. Tapi kalau untuk market yang restoran lebih banyak orang lokal. Dan ini memang yang kami mau. Misalkan ada peursahaan multinasional yang perlu rapat BOD tiap bulan, kan mereka akan berkumpul dari berbagai negara cabang, kami bisa sediakan akomodasi semuanya. Mereka ini yang kami targetkan untuk ditingkatkan.

Bagaimana cara menggaet pasar tersebut?

Kami punya program-program. Contohnya yang terbaru yaitu culinary with stars. Event dengan celebrity chef, seperti Vindex Tengker dan William Wongso, Bonda Winarno, Petty Elliot dan lain-lain. Lalu ada program rutin, contohnya ada program tiap bulan namanya Nett Week. Yakni kami pasang harga yang tertera di menu, sejumlah itulah harga yang memang harus dibayarnya. Biasanya kan kalau di menu bahwa harga belum termasuk pajak dan pelayanan, nah kami menanggung biaya tersebut. Jadi bayar sesuai Nett. Di minggu keempat setiap bulan.

Untuk kamar ada juga tapi berlaku harga nett di weekend, program weekend gateway. Hotel lain di Jakarta saya kira belum ada yang punya program seperti ini. Ide awal program ini memang dari saya, lalu saya lempar ke tim kemudian direalisasi. Program lain ada juga yang akan kami jalankan ke depannya, misalkan untuk keluarga-keluarga yang menginap di sini kami persiapkan partnership dengan tempat bermain yang ada di Pondok Indah. Jadi mereka menginap di sini bisa bermain di sana juga, jadi satu paket. Kami juga telah hadir di booking.com, Agoda, dan lain-lain. Karena sekarang ini di dunia perhotelan yang perlu kita lakukan adalah melihat apa what client’s needs, bukan what we want. Yang klien perlukan sekarang adalah konektivitas, efisien, dan efektivitas. Kalau mereka cari secara online dan kami tidak hadir di situ maka ya pasti kami akan dilewat.

Bagaimana kondisi industri perhotelan saat ini?

Saat ini memang kondisi bisnis secara keseluruhan sedang tidak pasti, orang lebih banyak wait and see. Tapi kami cukup optimistis di industri perhotelan ini, dan saya juga baca di koran nasional bahwa Indonesia sudah mulai beralih gaya hidupnya dari belanja ritel ke traveling. Traveling ini kan lebih mengarah ke life balance ya. Saya melihatnya ini suatu peluang yang bagus untuk kita semua yang berkecimpung di dunia hotel.

Memang 10 destinasi di Indonesia yang masih jadi incaran adalah Bandung,  Bali, dan  Jakarta. Jadi, menurut saya peluang untuk berkembang di Jakarta sangat besar. Baik market internasional maupun domestik di mana orang-orang dari daerah yang perlu ke Jakarta, ini berarti dari sisi bisnisnya bisa tetap dipertahankan. Kalau Dharmawangsa sendiri, kami yakin positif, karena kami menawarkan sesuatu lain daripada yang lain. Dari segi hardware atau desain sudah sangat berbeda dari yang lain. Kami tidak seperti hotel bintang 5 yang berbentuk gedung tinggi. Dharmawangsa berbentuk seperti hunian rumah, kami punya lahan hijau yang banyak, halaman yang luas. Dan memang banyak komentar consumer bahwa ketika ke sini mereka merasa tidak seperti berada di Jakarta.

Apa tantangannya ke depan?

Ya seperti pada umumnya yaitu di persaingan harga. Katakanlah kalau hotel-hotel baru kan mereka dituntuk untuk ROI, dari investor. Mau tidak mau untuk menggenjot supaya occupancy-nya naik maka ujung-ujungnya bermain di harga. Menurut saya ini salah satu tantangan yang kami hadapi. Saya juga melihat begini, harga kamar hotel bintang 5 di sini itu jauh di bawah dibanding negara lain bahkan dibanding Malaysia. Tapi justru untuk yang lainnya seperti paket meeting malah lebih mahal dibanding negara lain. Lalu di Indonesia juga belum punya fasilitas conference yang memadai, mungkin sekarang lumayan sudah ada ICE di BSD.

Bagaimana pertumbuhan profit Dharmawangsa?

Ya pertumbuhan masih di sekitar yang diharapkan. Belum ada kenaikan tapi juga tidak ada penurunan, masih in line. Kami juga ada rencana mengubah fungsi ballroom. Kami juga akan membuka di tempat lain bukan di Jakarta, sedang dalam proses.

Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri Anda?

Nomor satu pastinya banyak membaca. Selain itu adalah mengikuti sejumlah seminar. Dengan kita rajin membaca dan mengikuti perkembangan zaman, paling tidak kita feeding diri sendiri dengan ilmu pengetahuan, harus terus update sama teknologi.  Apalagi perkembangan teknologi saat ini luar biasa, saya selalu mengingatkan tim bahwa kita harus speed up terus, kalau tidak kita akan ketinggalan.

Apa keinginan ke depannya sebagai seorang hotelier?

Ada, saya ingin sekali Jakarta sebagai destinasi orang dari mancanegara. Paling tidak seperti Bangkok atau Singapura. Untuk yang MICE itu Jakarta belum. Katakanlah Bangkok, orang-orang sehabis meeting mereka punya banyak pusat kegiatan lain. Terintegrasi semuanya ada, akses banyak. Kalau Jakarta belum all in one. Ini yang masih menjadi hesitance  kita. Untuk Jakarta seharusnya sudah bisa.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)