Pandu Patria Sjahrir, Komisaris BEI: “Hidup Kami Cukup Struggling”

Pandu Patria Sjahrir
Pandu Patria Sjahrir

Terpilih menjadi Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI), Pandu Patria Sjahrir awalnya menjabat sebagai Direktur PT Toba Bara Sejahtera Tbk. (Toba Bara). Pandu juga menjadi Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia (APBI) 2015-2018, dan terpilih kembali untuk periode 2018-2021.

Sebelum berkarier di Toba Bara, pria kelahiran Massachusetts, Boston, Amerika Serikat, 17 Mei 1979 ini menjadi Analis Senior dengan spesialisasi sektor energi dan pertambangan di Matlin & Patterson (2007-2010), Principal di Byun & Co., Alternative Energy Fund Asia (2002-2005), dan sebagai Analis di Lehman Brothers (2001-2002).

Pandu aktif pula dalam beberapa perusahaan startup. Sejak April 2017 menjadi Komisaris Gojek Indonesia. Ia juga menjadi Presiden Komisaris SEA Group Indonesia yang menaungi Shopee, salah satu platform perdagangan elektronik, yang sedang naik daun saat ini.

Pria 41 tahun peraih gelar Sarjana Ekonomi dari University of Chicago, AS, dan Master of Business Administration dari Stanford Graduate School of Business, AS ini juga Mitra Pengelola Indies Capital, perusahaan investasi yang telah berinvestasi lebih dari US$ 1 miliar di berbagai sektor, di antaranya di perusahaan startup. Indies Capital membawahkan Indies Pelago dan Agaeti Capital Venture (ACV) Partners, dua perusahaan investasi yang dikenal fokus mendanai fase awal (seed and early growth stages) perusahaan startup di Asia Tenggara.

Melihat mulusnya perjalanan karier penerima Asian Society Young Leaders Awards 2014 dari Asia Society ini, pasti banyak yang menduga hal itu tak lepas dari sosok pamannya, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, juga sosok orang tuanya. Ayahnya adalah aktivis sekaligus ekonom Sjahrir (almarhum). Adapun ibunya adalah Nurmala Kartini Sjahrir, doktor antropologi dari Boston University yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Argentina, sekaligus Paraguay dan Uruguay.

Menurut Pandu, penilaian orang terhadap dirinya tidak sepenuhnya benar. “Orang tua saya aktivis. Mereka bertemu saat keduanya menjadi aktivis,” ungkapnya. Karena itu, sepulang dari AS, keluarga mereka sempat beberapa kali pindah rumah. Mula-mula tinggal di daerah Cipinang, Jakarta Timur, lalu saat Pandu berusia 10 tahun pindah ke Pamulang, Tangerang Selatan. “Waktu itu keluarga kami masih menyewa rumah. Hidup kami cukup struggling,” kata Pandu yang kini bersama keluarga menetap di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Dikatakannya, kehidupan masa kecil dan kondisi keluarga cukup mewarnai cara pandangnya dalam mengelola keuangan. Seperti ketika ditunjuk menjadi Komisaris BEI, misi Pandu jelas, yakni meningkatkan kepercayaan masyarakat pada bursa sebagai salah satu alternatif untuk berinvestasi dan fund raising untuk perusahaan. Rencana jangka menengah dan panjangnya adalah menyentuh generasi muda untuk melihat capital market sebagai alternatif terbaik buat mereka. Menurutnya, alangkah lebih baik generasi muda menyimpan uangnya untuk investasi ketimbang dihabiskan untuk consumptive spending.

Kepada wartawan SWA Andi Hana Mufidah Elmirasari, suami Ratna Kartadjoemena yang memiliki hobi membaca buku --terutama buku sejarah--, berenang, bermain dengan anak, bekerja, dan berinvestasi ini bercerita tentang kehidupan masa kecil, momen penting dalam hidup, filosofi kepemimpinan, serta dunia e-commerce dan investasi yang digeluti.

Apa cerita masa kecil yang membentuk karier Anda?

Di masa kecil saya, keluarga kami cukup struggling. Ayah pulang ke Indonesia sebagai ekonom. Lalu, ia mulai berbisnis. Sekitar tahun 1998-2000 adalah masa-masa puncak keberhasilan keluarga kami karena ayah banyak diundang sebagai pembicara. Terutama, karena saat itu Indonesia tengah menghadapi krisis moneter.

Saya sempat mengenyam pendidikan di SMA Pangudi Luhur sebelum pindah sekolah ke Amerika Serikat. Kemudian, saya masuk ke University of Chicago pada tahun 1997 mengambil jurusan ekonomi.

Umur 21 tahun, saya sudah mulai bekerja full time sebagai analis di Lehman Brothers. Namun, sebelumnya saya sempat merasakan internship sejak umur 16 tahun, yakni di Jakarta Post, dan umur 19 tahun internship di First Pacific.

Pada kisaran tahun itu, saya sekeluarga masih menyewa rumah di Menteng. Satu hal yang mengubah pandangan hidup saya adalah waktu itu saya bertanya kepada Ayah soal biaya hidup. Lalu, dengan tegas Ayah menjawab, “Uang ayah adalah uang ayah, uang kamu adalah uang kamu. Jangan harap ayah akan kasih kamu apa pun selain sekolah.” Dengan kata lain, saya harus mencari uang sendiri untuk hal-hal di luar urusan sekolah.

Saya sempat melanjutkan sekolah bisnis di Universitas Stanford tahun 2005-2007 dengan biaya sendiri. Kemudian, saya menikah dengan Ratna Kartadjoemena tahun 2008, dan di tahun yang sama Ayah meninggal.

Bagaimama awal bergabung dengan Toba Bara (perusahaan tambang batu bara yang didirikan oleh Luhut B. Panjaitan)?

Begitu ayah meninggal tahun 2008, Pak Luhut Binsar Panjaitan memberitahu kondisi keuangan keluarga kami yang kurang baik. Sehingga, Pak Luhut mengajak saya ikut berbisnis dengannya.

Singkat cerita, karena saya sudah ada ilmu tentang investasi, saya menyarankan Pak Luhut untuk membeli tambang. Inilah yang nantinya menjadi Toba Bara. Tahun 2010, ketika saya kembali ke Indonesia usai berkarier di Amerika, Pak Luhut menyuruh saya mengurus Toba Bara. Pada saat itu usia saya 31 tahun. Tapi, waktu itu ada deal antara saya dan Pak Luhut, yaitu kalau saya bisa membawa perusahaan IPO, saya diizinkan membuat perusahaan baru.

Misi saya berhasil, pada 2013 Toba Bara IPO. Sayangnya, ternyata saya tetap tidak diizinkan untuk meninggalkan Toba Bara. Saya “dikerjai” Pak Luhut, belum boleh membuat perusahaan. Akhirnya, saya berinvestasi saja. Saya menempatkan investasi di macam-macam perusahaan. Pokoknya, gambling aja berinvestasi. Hoki-hokian, nggak tahu ke depannya bagaimana.

Itulah awal mula saya investasi di SEA Group sekitar tahun 2014. Saya diminta untuk membuat kantor e-commerce di Indonesia. Saya akhirnya bertemu Chris Feng (CEO Shopee) yang mengajak berbisnis bersama. Akhirnya, tercetuslah nama Shopee. Kami launching di Indonesia, Desember 2015.

Tahun 2013-2014 tech company sector di Indonesia market-nya masih kecil, tetapi saya ikut-ikut saja investasi. Waktu di Stanford, salah satu teman saya adalah salah satu pendiri Facebook. Jadi, saya berpikir, tech company sebenarnya bisa berjalan di Indonesia. Pada saat itu juga saya bertemu Willson Cuaca dan pemain investasi lainnya.

Semua pemasukan yang saya dapatkan dari hasil bekerja, bonus, dll. diinvestasikan ke tech company. Saya belum terpikir beli rumah, apalagi beli mobil. Dari tahun 2009, saya dan istri sudah membuat game plan tentang akan investasi ke perusahaan mana saja, berapa jumlah yang harus diinvestasikan, berapa yang harus ditabung, posisi cash berapa, semua sudah tertata.

Sejauh ini saya masih tinggal di apartemen yang telah saya tempati selama tujuh tahun di Jakarta dan baru tahun lalu kesampaian beli mobil pribadi sendiri. Prinsip saya, kalau kita punya lifestyle, harus set a certain point dan jangan dinaikkan lagi. Sekali kamu naikkan, kamu nggak bakal bisa turun. Kalau kemampuan segitu, ya sudah, puas saja.

Apa momen penting dalam hidup?

Kalau boleh dibilang, karier berbisnis saya benar-benar berada di bawah bimbingan Pak Luhut. Bahkan, waktu pertama kali pindah dari Amerika ke Indonesia, saya gagal negosiasi gaji dengan Pak Luhut di Toba Bara. Jadi, gaji saya lebih rendah daripada yang saya harapkan. Sampai sekarang saya masih kurang suka consumptive spending. Karena, ingat masa-masa sulit sekitar tahun 2008 waktu keuangan saya buruk.

Saat baru kembali dari Amerika ke Indonesia termasuk momen penting dalam hidup saya. Saya tidak yakin bisa mengerjakan tugas saya seperti yang diamanahkan Pak Luhut. Apalagi, bisnis operasi. Karena, pada saat itu saya langsung ditunjuk masuk ke Toba Bara (sebagai CFO). Saya langsung turun ke lapangan, bertemu dengan pejabat daerah dan segala macamnya.

Saya belajar banyak selama terjun langsung ke lapangan. Pernah ada kejadian, satu kontraktor asing kami bandel, karena tidak mau melaporkan apa pun soal keadaan tambang.

Waktu itu kontraktor ini akan meeting dengan kami (Toba Bara). Akhirnya, saya berangkat ke site pakai baju seadanya (tidak memperlihatkan bahwa ia Direktur—Red.). Saya bertemu dengan pegawai kontraktor dan mengobrol. Mereka membocorkan informasi kontraktor kepada saya karena mengira saya bukanlah siapa-siapa karena waktu itu saya mengaku anak baru. Orang-orang kontraktor itu baru tahu bahwa saya punya jabatan ketika belakangan kami bertemu di Jakarta.

Peristiwa itu sangat mengesankan saya. Kebetulan saya suka mengamati orang-orang bisnis dan organisasi bisnis. Saya juga sangat suka mengobrol dengan berbagai profesi dan bertukar pikiran.

Bagaimana peta e-commerce dan investasi?

Akibat Covid-19, rencana bisnis e-commerce yang tadinya memakan waktu tiga tahun jadi maju 1,5-2 tahun. Kami dulu sudah memprediksi GMV, tapi semua meleset. Di Shopee, misalnya, orang-orang bekerja lebih keras karena bingung dan kewalahan. Cost yang dikeluarkan pun jadi banyak karena kami menambah investasi ke logistik, hub, dll. Semua itu kami lakukan karena demand dari konsumen meningkat. Sekarang kan orang-orang mengandalkan online untuk membeli kebutuhan mereka.

Iklim investasi selama Covid-19 pun menurun. Tapi yang di teknologi meningkat, yang di offline menurun. Ketakutan saya akan terjadinya kegaduhan dari sisi sosial. Coba lihat contohnya, lowongan pekerjaan saat ini adalah di bidang teknologi. Lalu, bagaimana SDM-SDM lainnya? Apalagi untuk SDM berumur senior, bagaimana mencapai lapangan kerja yang baru? Ya, mereka harus reskilling. Beruntung anak muda berada dalam luxury of age, sehingga mereka bisa belajar hal baru, terutama di sektor teknologi.

Contohnya, Shopee sekarang sudah Tbk. Kultur kerja e-commerce ini harus terarah, jadi harus seefisien mungkin. Teamwork dan komunikasi sangat penting. Di Shopee, kulturnya terarah, tegas, accessible ke pihak-pihak yang dibutuhkan.

Kalau gaya kepemimpinan?

Saya sudah mencicipi bekerja di berbagai perusahaan dan sudah mencicipi pula dipimpin oleh bos berbeda-beda. Semua pengalaman yang kurang menyenangkan saya telan. Tujuannya untuk self-improvement. Sehingga, saat ini gaya kepemimpinan saya adalah tegas.

Saya tipe orang yang ketika memarahi seseorang, saya memarahi mereka secara proporsional. Kalau memang mau memarahi orang, harus ada lesson learned, bukan sekadar melampiaskan kekesalan. Saya nggak mungkin terus-menerus memuji karyawan, karena kalau dipuji terus, dia tidak akan punya ruang untuk berkembang. (*)

(Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)